(SELOW.CO): Alat musik imut ini bernama harmonika. Bagi saya, tak usah sampai dengar suara khasnya yang keluar saat ditiup-sedot, melihat tampilannya yang vintage saja sudah cukup menawan. Lagi-lagi (bagi saya, tentunya) harmonika menyimpan magic yang mampu menyihir bak pelet dari mbah dukun. Wadowww…

MEMANG SAYA BARU beberapa bulan belakangan kepincut harmonika. Tepatnya harmonika bergenre diatonik yang berciri punya sepuluh lubang. Sadar sebagai pemula, saya bertekad untuk berlatih keras.

Awalnya, mencoba tiup-sedot sembarang saja. Lalu beranjak belajar single not. Maksudnya, berusaha mengeluarkan satu nada dari setiap kali tiup-sedot di tiap lubang. Cukup sulit, memang. Tapi karena sudah tekad, ya hajar terus.

Alhasil, dengan susah payah dan napas tersengal, upaya ini membuahkan hasil. Kendati tak jarang masih suka selip ‘bocor’ juga, alias suara yang keluar rombongan dari banyak nada. Tidak murni single not. Tak apa, namanya juga sedang belajar, saya terus menyemangati diri.

Saya tak mau kendor. Setiap ada waktu luang saya langsung berlatih. Tak pelak, harmonika jadi selalu saya bawa kemana-mana. Dia selalu ada di dalam saku.

Terlebih saat berada di rumah. Nyaris tak ada waktu senggang yang terlewat tanpa berlatih harmonika. Mirip anak-anak? Halah, harmonika itu sejatinya alat musik, bukan mainan anak-anak. Jadi bukan hal janggal bila dimainkan orang dewasa. Kalimat penangkal ini yang sudah saya persiapkan kalau -siapa tahu- ada yang nyinyir.

Memang, sejauh ini belum ada yang nyolot nge-bully. Yang ada justru protes keras dari si bungsu. “Aduhhhh….berisikkkk!!!!” tukasnya, seraya menutup telinga dengan kedua tangannya. “Papa ini dimana-mana main harmonika. Berisik, tau!!!” sergahnya dengan mimik muka dipasang keras sambil mata beloknya dibuat mendelik.

Upsss!!! Syok saya mendengarnya. Sungguh, saya tak menduga rentetan kalimat itu meyembur dari mulut mungil bocah yang baru ultah ketiga itu. Sontak saya mengantongi harmonika menuruti perintahnya. “Iya boy, papa berhenti,” seloroh saya sayu. Lalu duduk pasrah di sampingnya yang sedari tadi sedang berasyik masyuk dengan tayangan YouTube yang digandrunginya.

Saya sempat berpikir keras. Merenungi protes si my boy. Jangan-jangan hal serupa juga ikut dirasakan mbak-mbaknya dan nyonya saya. Bedanya, mereka tidak punya cukup keberanian buat mengungkapkannya.

“Iya tah, mereka terusik dengan suara harmonika?!” saya coba instropeksi diri. Untuk sejenak saya terombang-ambing dalam renungan.

Di sisi lain, saya tak mungkin menyudahi hobi baru ini. Ketertarikan saya sudah terlanjur tertawan oleh harmonika. Saya jadi ingat, sejak remaja saya ingin sekali bisa bermain gitar.

Entah dosa apa. Sampai punya anak tiga, saya belum pernah bisa membawakan sebuah lagu pun dengan iringan gitar yang saya mainkan. Sudah jelas saya frustasi. Malah sampai bersumpah bakal mengubur dalam-dalam keinginan untuk bisa main gitar, meski cuma sekadar genjrang-genjreng sekalipun. Alhamdulillah, saya setia dengan sumpah itu. Alhasil, saya tidak bisa main gitar sampai hari ini. Huh!!!

Lalu saya putar haluan. Jangan-jangan saya memang tidak punya felling di gitar. Tapi boleh jadi nasib berkehendak lain. Misalnya, saya malah jago memainkan piano atau drum. Entah dirundung kutukan apa, saya tetap menemui jalan buntu pada kedua alat musik itu. Nihil, lagi-lagi saya frustasi dan kembali mengumandangkan sumpah. Saya bersumpah tidak lagi berniat main piano atau drum. Hih!!!

Anehnya, atau malah untungnya, malapetaka itu (setidaknya sejauh ini) tidak berlaku saat saya mulai menggumuli harmonika. Dalam waktu relatif singkat, saya sudah bisa dapat nada dari beberapa lagu berkunci sederhana.

Wuih, girang bukan main hati saya. Walau teknik bending yang merupakan mahkota dari teknik permainan harmonika belum saya kuasai sama sekali. Tapi untuk saat ini saya sudah merasa terhibur luar biasa.  Cihuyyy…!!!

Itulah makanya saya jadi makin kesengsem, dan maju tak gentar terus berlatih harmonika. Tapi ya itu tadi, celotehan si bocah jadi mengusik benak saya. Mungkinkah sesungguhnya seisi rumah merasa terusik dengan bunyi ngak…ngek…ngok harmonika?

Masih sambil melamun di samping si bocah yang kembali khusyuk dengan YouTube-nya, saya memutar otak mencari solusi. Tak berapa lama, ahaaa…ide brilian muncul.

Sore hari, usai mandi dan seluruh anggota keluarga sedang berkerumun di depan televisi, dengan percaya diri saya keluarkan harmonika kesayangan dari saku baju. Sudah saya duga, gerakan saya itu langsung menarik perhatian nyonya dan anak-anak saya.

Memang tak ada komentar yang terlontar, hanya saja dari raut mukanya yang langsung melengos, saya menebak mereka sedang berdoa semoga saya tidak menzolimi ketenangan sore ini dengan suara harmonika saya.

Tapi saya tak patah arang. Saya sudah siapkan cara jitu buat menangkal apatisisme mereka. Sambil mengulum senyum, saya keluarkan lembaran duit Rp20 ribu. “Hayo, siapa yang bisa nebak judul lagu ini dapet hadiah 20 rebu. Siapa cepat dia dapat,” ucap saya penuh percaya diri lantaran sangat yakin iming-iming yang disodorkan pasti bakal disambut suka cita oleh mereka.

Ini memang aneh, bukannya pemusik yang disawer oleh penonton, malah sebaliknya. Dunia sudah terbalik? Ah, biar saja. Asalkan saya senang dan mereka senang. Fair, kan. Sama-sama riang.

Tanpa ragu, saya mulai nada pertama lalu disusul dengan deretan nada berikutnya di harmonika. Saya lirik, wajah nyonya dan anak-anak masih mantengin layar tv. Tak apa, gumam saya. Ini ada ‘gula-gula’ yang pasti mereka suka.

Mata memang ke tv, tapi saya yakin mereka sedang berpikir keras menebak judul lagu yang sedang saya lantunkan lewat suara harmonika. Sebagai bocoran, saat itu saya sedang memainkan lagu You Raise Me Up Josh Groban.

Saya tetap yakin sebentar lagi mereka juga bakal berlomba menebaknya. Sampai saat itu saya masih husnuzon, berprasangka baik mereka tertarik dengan permainan dan terutama iming-iming 20 rebu itu.

Sejurus kemudian nyonyaku meraih remot TV dan membesarkan volume. “Astaga!” pekiknya tiba-tiba. “Pak Wiranto ditujah!” Susulnya dengan wajah menegang sambil matanya tak lepas dari layar televisi.

“Astaga, iya ma. Ditujah pakai kunai. Itu kan pisau yang biasa dipakai ninja di film-film,” sergah anak pertama saya.

“Iya bener, di seri Naruto juga ada,” sambung anak kedua saya. Saya lihat hanya si bungsu yang tak ikut komentar.

“Ya ampun, apa sih maksud semua ini. Kok suasana Indonesia nggak pernah tenang. Satu musibah, disusul musibah lain. Kenapa Indonesia jadi begini?” nyonya saya kembali angkat bicara.

Saya mulai merasa cemas. Terlebih saat komentar si nyonya langsung ditanggapi oleh kedua putri saya. Kecemasan saya makin menjadi ketika melihat mereka malah asyik ngobrol, dan seakan meniadakan keberadaan saya. Padahal saya yakin sesungguhnya mereka sudah tahu insiden penusukan Wiranto itu sejak siang.

Mereka pasti tahu itu dari berita online, YouTube atau grup WhatsApp yang langsung gaduh sesaat setelah kejadian. Akhirnya saya hakul yakin, kalau pun kali ini mereka seolah baru tahu kabarnya, itu cuma sekadar alibi. Ya, dalih buat membelokkan perhatian mereka dari aksi heroik saya yang sedang mati-matian memainkan harmonika semirip nada lagu aslinya.

Weleh-weleh, agaknya mereka rela mengabaikan iming-iming asal tidak berlama-lama mendengar suara harmonika saya. Menurut saya itu pengorbanan besar yang pernah mereka lakukan. Sungguh, ini peristiwa langka. Karena saya tahu, biasanya anak-anak bakal dengan suka cita menjawab challenge yang saya sodorkan, apalagi diembel-embeli hadiah.

Sayangnya, rumusan itu tidak berlaku lantaran ada peristiwa berdarah Wiranto. Kali ini saya benar-benar dibuat sebal. “Dasar, tontonan jadi pengalihan isu,” gerundel saya sambil ngeloyor ke kamar.

Ups! Harus digaris bawahi, kalimat nyinyir saya ini ditujukan kepada orang rumah saya, ya. Bukan kepada yang lainnya. Saya nggak mau lho bernasib serupa dengan dua istri TNI yang diperkarakan lantaran dianggap nyinyir. Idih, amit-amit, deh!

(*Penulis/Jurnalis)

Komentar

Scroll Up