(Selow.co): Iya, tah? Yupz, benar itu. Pada masanya nanti tidak lagi terlihat “nyamuk pers” mengerubungi narasumber atau para redaktur berjibaku menyunting berita di dapur redaksi. Karena semua tugas itu bakal diambil alih oleh robot jurnalis. Siap-siap aja para jurnalis terancam gigit jari. Alamak!

Kapan ‘cerita horor’ atau (malah)  ‘kabar baik’ itu bakal terjadi? Tentu kita masih ingat terawangan ‘ahli nujum’ Philip Meyer yang ramalannya dituangkan dalam ‘kitab’ The Vanishing Newspaper. Dia menyebut bahwa koran akan menemui ajalnya pada 2043 mendatang.

Tak sedikit yang mencibir terawangan itu. Namun belum lagi para pencibir itu merapatkan bibirnya, kemunculan media online yang masif telah mampu menggerogoti jumlah oplah koran-koran terkemuka di jagat dunia. Perusahaan suratkabar kelenger terkena imbasnya. Tak pelak, ramalan Philip Meyer terbukti jitu.

Lalu, belum lagi pengelola koran dan media cetak mampu mengatur napasnya yang terengah-engah usai kalang kabut menata ulang dan beradaptasi dengan kehadiran portal-portal pesaing potensialnya, kini semakin santer berhembus kemajuan teknologi lainnya, yang mau tidak mau membikin mereka wajib mencermatinya, kalau tidak ingin kembali terkena imbas karma buruk.

Kali ini angin perubahan itu kencang ditiupkan oleh Noam Lemelshtrich Latar. Corong yang dipakai untuk menggemakan warning yang disuarakannya berupa buku bertajuk Robot Journalism (Can Human Journalism Survive?)

Mapas, apalagi ini? Kali ini ‘kecemasan’ yang muncul bukan hanya menyergap para pengelola media belaka, tapi lebih menghujam ke titik kekhawatiran para jurnalis. Bagaimana tidak, sebab menurut Latar, telah tiba waktunya bagi robot-robot jurnalis berkiprah.

Iya, robot-robot yang telah disematkan program artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan akan membuat berita persis yang selama ini dilakukan jurnalis. Modar deh para wartawan, mau kerja apalagi, coba?

Kabar berita ini bukan sekadar isapan jempol semata, terlebih Kristian Hammond -pendiri perusahaan yang memproduksi robot penulis berita- menegaskan bahwa pada 2030 nanti, 90 persen isi media berita merupakan hasil karya robot-robot ‘jahanam’ itu.

Edannya lagi, kita tidak perlu menunggu lama sampai 2030 untuk melihat kebenaran ramalan tersebut. Sebab Pada 2014 lalu, kantor berita Associated Press (AP) telah menggunakan robot jurnalis untuk merilis artikel laporan keuangan. Pada waktu nyaris berbarengan suratkabar LA Times juga menggunakan jasa robot cerdas untuk menulis ulasan peringatan gempa.

Gelombang perubahan ini kiranya terus merambat (cepat). Dua tahun berselang, giliran suratkabar tersohor di Negeri Abang Sam,  Washington Post, juga menerapkan teknologi serupa. Robot-robot sialan yang bagi wartawan dipandang sebagai ancaman mematikan matapencarian ini, ditugaskan menulis berbagai laporan singkat seputar Olimpiade Rio de Janeiro.

Sementara pada 2015, stasiun televisi dan situs berita Cable News Network (CNN) meluncurkan robot khusus yang memproduksi teks untuk melayani pelanggan mereka, khususnya di Facebook, di seluruh dunia. Tak mau ketinggalan, kantor berita Tiongkok, Xinhua, juga kepincut untuk mengimplementasikan teknologi serupa pada awal 2018 lalu.

“Ah, itu kan di luar negeri, Bro. Bukan di sini. Belanda masih jauh, Bung!” mungkin begitu seloroh para wartawan di negeri ini. Sayangnya, kalimat penghibur tersebut tidak berlaku.

Karena situs asal Indonesia, Beritagar, justru sudah menjajal penggunaan robotorial tersebut pada 25 Februari 2018 kemarin. Dipastikan seluruh artikel yang mereka sajikan merupakan hasil tulisan robot-robot keparat yang diimport dari luar negeri. Tak hanya artikel, robot-robot itu juga ditugasi menulis laporan pertandingan Liga Inggris. Walah!

Yang makin mengkhawatirkan lagi, robot-robot yang sudah ditanam chip kecerdasan buatan ini, disebut-sebut memiliki ‘karakter’ sebagai robot pembelajar. Maksudnya, dia akan makin pintar bila diberi asupan yang bagus dan berkualitas. Dengan input-input kata atau kalimat yang baik, robot ini selanjutnya belajar untuk menghasilkan output yang baik juga. Hadeh!

Untungnya, selalu ada celah bagi orang (jurnalis) yang berpikiran optimis. Biar saja robot-robot perebut sumber nafkah itu merajalela di jagat media. Biarkan jurnalisme automatik ini menulis berita-berita seremonial dan berita-berita membosankan lainnya.

Sedangkan jurnalis yang piawai tetap bisa melakukan peliputan dan penulisan yang lebih mendalam dan menarik. Ditambah lagi ada cita rasa manusia di tulisan itu yang tidak tergantikan oleh robot paling canggih sekalipun.

Tapi kan bukan perkara mudah untuk menjadi jurnalis mumpuni seperti itu. Iya, memang tidak gampang untuk menjadi orang pilihan. Toh, jadi astronot juga tidak mudah, tapi tetap masih ada astronot yang bisa kongkow ke luar angkasa. (*)

Komentar

Scroll Up