JAWABANNYA hakul yakin bakal nggak bisa. Lho kok?! Lagian memang seberapa penting harmonika buat kita yang saban hari saban waktu mesti kerja…kerja…kerja ini?!

Coba deh dipikir lagi buat apa juga jadiin harmonika sebagai kawan diwaktu rehat. Terlebih benda satu ini identik banget sebagai mainan anak-anak. Ingat aja semasa kecil dulu, pasti nggak sedikit di antara kita yang pernah punya harmonika atau minimal pinjem punya kawan. Ya sebatas itu tok. Sebentar kemudian perhatian kita sudah beralih ke mainan lain.

Kalau pun ada orang dewasa yang pernah kita lihat mainin harmonika tiada lain cuma segelintir musisi saja, selebihnya ya tukang ngamen. Nggak heran kalau host Deddy Corbuzier sempat nyeletuk harmonika identik dengan alat musik murahan. Ucapan itu terlontar saat program acara Hitam Putih menghadirkan penyanyi dan pemain harmonika populer, Sarah Saputri, beberapa waktu lalu.

Saat Sarah menyanggahnya, Deddy langsung membandingkan harga harmonika dengan harga piano. Dihadapin pada kenyataan itu, sudah barang tentu Sarah akhirnya cuma bisa pasrah ngangguk, ngaminin statemen Bos Deddy. “Apa karena harganya murah makanya kamu milih mainin harmonika?” seloroh Deddy dengan gaya khasnya.

Cerita soal Deddy ini cuma intermezo, sekadar selingan, buat memotret gambaran umum publik terhadap alat musik imut bernama harmonika. Jadi bagi para pencinta harmonika nggak boleh pula sontak naik pitam, toh. Selow…namanya juga persepsi, sah-sah aja kan mengungkapkan pendapat.

Kalau sudah ikuti paparan di atas, bahwa harmonika dikenal sebatas mainan anak-anak dan alat musik tukang ngamen, terus buat apa lagi ditanyain apa bisa harmonika dijadiin kawan mengasyikkan dikala senggang? Kayak nggak ada tema bahasan lain aja yang lebih menantang, soal gimana kelanjutan nasib NKRI, misalnya. Hari gini kok ujug-ujug ngomongin harmonika, hadeh…potel kepala barby.

Tapi kalau mau dipikir-pikir dari sudut pandang sebaliknya, memang dosanya apa kalau kita tetap ngobrolin tentang harmonika? Soal mainan anak-anak atau alat musik tukang ngamen itu. Jangan-jangan pandangan miring serupa itu justru lahir dari benak yang wawasannya cupu. Tahu nggak dia kalau harmonika tercatat sebagai alat musik pertama yang pernah dibawa astronot masuk ke pesawat ulang-alik untuk diajak wira-wiri ke luar angkasa?

Hmmm…sekarang baru mulai ngeh keistimewaan harmonika, ya? Hehehe…selowww…nggak apa kalau baru tahu.

Oh iya, pernah lihat rektor ITB main harmonika? Kalau belum, bisa mampir ke YouTube buat lihat aksi ciamik sang rektor mengalunkan You Raise Me Up (Josh Groban) dengan harmonika kesayangan yang sudah dikenalnya sejak pak rektor masih pakai seragam putih-merah SD. Uhuy…keren abis aksinya.

Hayo apa masih mau bilang pak rektor kekanak-kanakan lantaran main harmonika? Atau masih beranggapan harmonika cuma mainan tukang ngamen? Aha, sangat mungkin Anda keliru, hehehe….gaji rektor gede lohhh. Ternyata harmonika juga mainan orang berduit, tuh.

Kalau mau sedikit ditelisik terkait alat musik ini, umumnya harmonika dikenal dengan tiga jenis. Alat musik asal Negeri Tirai Bambu itu terbagi menjadi diatonik, tremolo dan kromatik. Meski sama-sama harmonika, namun teknik memainkannya berbeda.

Saking sudah berkembang demikian pesat, jangan kaget kalau ada harmonika dari brand kondang yang harus ditebus dengan fulus sampai jutaan rupiah. Iya, malah ada yang harganya setara gitar atau piano elektrik. Beuh, yang bilang harmonika sebagai alat musik recehan jadi kecele kan? Hehehe…nggak apa, nggak dosa, kok.

Tapi kenapa juga harmonika yang ukurannya imut itu bisa tetap laku walau dibanderol dengan harga fantastis (untuk sebagian orang) dan bisa membuat sang rektor jadi kepincut sampai nggak bisa melupakan nostalgia dengan harmonika zaman SD-nya itu?

Kalau boleh menjawab, tiada lain karena soul dan passion. Kalau jiwa dan gairah sudah kepincut sama lengkingan, alunan, belaian dan teriakan si harmonika, jangan kaget kalau soul dan passion kita tanpa disadari bisa sontak terpasung dengan kharisma harmonika.

Terkait judul tulisan ini, apa bisa menjadikan harmonika sebagai kawan dikala senggang? Sangat mungkin jawabannya tidak bisa. Ya, kalau sudah kepincut dengan aura harmonika, boleh jadi bukan hanya diwaktu senggang saja kita ingin “bersenggama” dengan harmonika.

Bahkan sangat mungkin kita bakal melewatkan banyak waktu untuk berasyik masyuk hingga klimaks berulangkali bersama harmonika kesayangan. Hmmm…nikmat tiada terbilang rasanya….ahaaaa…(*jurnalis/novelis)

Komentar

Scroll Up