(SELOW.CO): Jurnalisme sejatinya haruslah menyenangkan. Tapi faktanya?

LIHAT SAJA Bob Woodward and Carl Bernstein di film “All The President’s Men”. Dua Jurnalis The Washington Post ini masih sempat bercanda sambil makan burger, bahkan Woodward meledek Bernstein yang menyalakan rokok dengan gugup saat berada di dalam lift. Mereka tetap (setidaknya berusaha) riang, walau sedang menggarap liputan super serius.

Saking seriusnya, resiko reportase mereka bisa merenggut nyawa keduanya. Bagaimana tidak, yang harus mereka hadapi adalah skandal Watergate, yang melibatkan Presiden Amerika Serikat Richard Nixon yang kembali memenangkan pemilihan pada tahun 1972.

Berbagai intimidasi mereka rasakan, belum lagi dibawah tekanan deadline. Namun, dalam film tersebut, baik Bob maupun Carl terlihat sangat menikmati seluruh proses standar tertinggi dalam jurnalisme yakni investigasi. Keduanya begitu bersemangat.

Dalam kasus lain, jurnalis Philadelphia Examiner, Jonathan Newman juga menunjukkan hal setali tiga uang. Boleh ditonton film “The Thin Blue Lie”. Di sana tergambar, meski berada dalam tekanan redaksi untuk mengungkap kasus tindak kekerasan polisi yang didalangi Walikota Rizzo, namun Newman masih dapat menikmati hari-hari beratnya itu sambil berolahraga basket dan naik turun tangga. Tak lupa ia juga tetap menjaga nafsu makannya.

Mau yang lebih keren, jangan berkedip saat menonton “Five Days of War”. Film berlatar belakang gejolak perang di Georgia yang ingin dicaplok Rusia pada tahun 2008 ini, menceritakan kisah 2 jurnalis televisi; Thomas Anders (reporter) dan Sebastian Ganz (kamerawan).

Pada beberapa scene, Ganz yang humoris terus menggoda Anders yang serius tapi santai, terutama soal wanita. Bahkan Sanz tetap selow walau dibayang-bayangi bedil tentara bayaran Rusia.

Salah satu scene yang paling saya ingat dari film tersebut adalah ketika keduanya dan seorang wanita Georgia diajak berswafoto oleh salah satu kamerawan televisi lain yang juga meliput di sana. Padahal, dibelakang mereka teronggok bangunan-bangunan hancur yang masih mengepulkan asap mesiu lantaran baru saja dibom tank-tank Rusia. “Ok, get close get close, be happy and smile, it’s only war,” ujar kamerawan yang disapa Dutchman itu.

Jika masih kurang dan Anda masih punya waktu luang, nonton saja “Bang Bang Club”, “Kill The Messenger”, “War Photographer”, “Erin Brokovich”, “Eat, Pray, Love”, hingga “Balibo”. Sebenarnya masih banyak lagi film-film berlatar belakang jurnalisme yang tak kalah menarik. Dan hampir semuanya berdasarkan kisah nyata.

Pada jajaran film tersebut tergambar bagaimana dinamika dan kompleksitas hidup para jurnalis yang sangat berwarna. Berkumpul bersama teman, keluarga dan komunitas-komunitas baru selalu mewarnai profesi ini. Dan, bukan tanpa hasil. Beberapa liputan para jurnalis itu diganjar penghargaan Pulitzer. Sebuah penghargaan tertinggi di bidang jurnalisme.

Benar bahwa jurnalisme adalah berkerja untuk kepentingan masyarakat, keberpihakan pada kebenaran (fungsional), selalu disiplin melakukan verifikasi (tabayyun), hingga menggunakan hati nurani dalam menjalankan pekerjaan (baca 9 Elemen Jurnalisme-nya Bill Kovach dan Tim Rosenstiel).

Maka kami selaku jurnalis hanya merupakan bagian kecil dari bidang profesi (yang katanya) adiluhung tersebut. Kami yang kadang pulang tak kenal waktu, makan tak teratur dan tak tentu, hingga tidur sembarang tempat. Agaknya kita harus bersepakat dengan ungkapan, “Kerja Harus Menyenangkan. Biar bisa dinikmati”. Tabik

(*Kabiro Lampung Radio Elshinta)

Komentar

Scroll Up