(Selow.co): Siapa yang bilang profesi desainer grafis itu mentereng. Apa karena melihat pembawaan selow anak-anak grafis selama ini, lantas menyangka batinnya juga anteng tanpa gejolak? Kalau kamu mengangguk, berarti sudah salah dua kali. Kalian sudah terlalu gegabah mengambil kesimpulan.

Supaya tidak mengulangi kesalahan serupa dimasa mendatang, kiranya kalian kudu menyimak jeritan kalbu desainer grafis seperti saya. Walau sesungguhnya saya tahu, kalian nggak bakal kuat mendengarnya, karena begitu berat beban yang mesti saya tanggung. Saking beratnya Dilan dan pemerintah aja sampai melambaikan tangan. Nggak sanggup!

Tapi kalau kalian tetap juga memaksa ingin tahu, saya bisa apa. Saya cuma bisa mengikuti permintaan kalian. Seperti saya juga nrimo menjalani hari-hari selaku desainer grafis.

Sesungguhnya kalian nggak sepenuhnya salah kalau punya keyakinan masa depan anak desainer grafis saat ini sedang moncer.

Apalagi sekarang ini katanya era informasi, ditambah lagi ada embel-embel eranya kaum milenial yang sangat akrab dengan produk-produk grafis. Karena banyak yang gandrung dengan grafis semestinya hukum ekonomi berlaku. Upah kreasi desainer grafis (harusnya) meningkat seiring bertambahnya permintaan.

Tapi kalian juga mesti dapat membedakan mana ekspektasi dan mana yang realita. Saya kasih tahu, untuk desainer grafis lokalan kayak saya, semua yang dipaparkan di atas itu baru sebatas harapan. Belum menjadi kenyataan dan entah kapan bisa menjadi realita.

Jangankan menjadi realita, lha sampai hari ini saja masih banyak yang gagal paham membedakan mana pekerjaan desainer grafis dengan fotografer. Iya, beneran. Nggak sedikit yang masih mencampur aduk kedua profesi itu.

Saya mengalaminya langsung perihal itu. Pernah di suatu senja dikala mentari mulai beringsut ke peraduannya di ufuk barat, saya ditanya seorang mbak-mbak. “Mas kerja apa?” ucapnya membuka obrolan.

Saya jawab kalau saya bekerja sebagai desainer grafis di sebuah suratkabar harian di Lampung. Tapi disela-sela aktivitas kantor saya juga menggarap berbagai orderan seperti garap vector, WPAP, membuat poster, dll. Biasalah buat cari tambahan.

“Oh, desainer grafis, fotoin pre-wedd aku, dong. Tapi nanti fotonya dikasih efek-efek gitu biar kesan dramatisnya dapet. Terus juga foto akunya dibikin agak kurusan. Jangan lupa pas di bagian mukanya divermak abis. Biar enak dilihat, Mas,” cerocosnya banyak tuntutan.

Sementara saya cuma bisa mesem-mesem sambil menahan sebel. Nih, mbak mau ke fotografer tapi malah curhatnya ke saya. Di sini kadang-kadang saya merasa sakit. Ujung-ujungnya saya mesti memberi penjelasan padanya kalau itu jobdesnya fotografer, sedangkan saya desainer grafis.

“Oh desainer toh. Iya-iya…mulai paham saya. Tapi Masnya masih bisa kok bantuin saya. Kan nanti saya juga butuh busana untuk dipakai saat nikahan. Bisa ya rancangin bajunya. Nggak perlu yang ngejelimet, kok. Cukup yang simple tapi pasten, eh…simpel tapi enak dilihat gitu, Mas. Bisa kan? Tolong dibantu lho, Mas,” kata si Mbak masih dengan rasa penuh percaya dirinya. Terpaksa saya melengos lalu ngeloyor pergi.

Tapi walau suka nemuin orang-orang gagal paham seperti si mbak tadi, bisa dibilang nasib saya lumayan lebih baik dibanding beberapa kawan tongkrongan saya di komunitas sesama desainer grafis. Terutama desainer grafis freelance.

Biasanya mereka tuh menggarap orderan proyeknya di kamar tidur yang sekaligus merangkap ruang kerja. Cukup ada komputer atau laptop, lalu gelas kopi sama rokok, sudah cukup tuh buat kerja.

Kalau orderan sedang banyak hampir bisa dipastikan mereka bakal jarang ke luar kamar. Gimana nggak, sebab dari kamar semua bisa dilakukan. Kirim hasil desain ke klien bisa via email. Pembayarannya lewat transfer ke rekening. Begitu pun kalau terima orderan, cukup caling di ponsel atau whatsApp-an. Beres semua dari kamar.

Tapi celakanya, bagi tetangga nyinyir yang doyan bergunjing dan juga gagal paham soal profesi desainer grafis, kebiasaan ngurung diri di kamar ini dianggap tak ubahnya kelakuan anak durhaka.

“Lihat tuh si A. Susah payah bapaknya biayain kuliahnya, sekarang pas sudah lulus gawenya malah makan tidur melulu. Enak-enakan berhari-hari di kamar. Kalau pun keluar cuma sebentar. Itu pun cuma ongkang-ongkang kaki ngopi di teras sambil kelepas-kelepus ngudut. Durhaka bener tuh anak. Bisa sempit kuburannya kalau nanti nggak panjang umur.

Bener-bener raja tega memang dia. Waktu masih kuliah nyusahin orangtua, sekarang sudah lulus malah jadi pengangguran. Nggak sudah-sudah ngebebani orangtua. Amit-amit deh. Moga-moga anak-anak saya nggak kayak dia. Bisa mati berdiri saya dibuatnya,” cerita seorang desainer grafis kawan saya yang menirukan omongan tetangganya yang kebetulan sempat didengarnya waktu dia mau ke warung beli rokok.

Waktu itu kawan saya cerita sambil ngelus dada. Awalnya saya juga hampir reflek mau ikut-ikutan ngelus dada (saya sendiri) sebagai bentuk solidaritas sesama desainer grafis terzalimi. Tapi untungnya saya cepat sadar kalau tindakan begitu kelewat lebay. Akhirnya saya cuma menanggapinya seraya mengangguk-angguk pelan pertanda ikut prihatin. “Sabar-sabarin aja, Bro,” kata saya waktu itu, sambil menepuk-tepuk pelan pundak kawan saya itu.

Mungkin kalian ada yang tidak tahan buat bertanya. Kalau memang jadi desainer grafis cuma bikin menderita, kenapa masih dijabanin? Apa nggak kasihan sama masa depannya. Mumpung masih muda mendingan segera banting setir alih profesi.

Kalau saran itu ditujukan buat saya. Sudah dipastikan langsung saya jawab dengan gelengan kepala. Tidak mungkin meninggalkan profesi yang sudah jadi passion saya. Mustahil itu.

Asal tahu saja. Yang saya lakoni ini bukan sekadar cari duit. Tapi ini menyangkut kepuasan batin. Kalau urusannya sudah dalem kayak gitu, duit memang penting. Tapi bukan jadi nomor satu. Mungkin mayoritas desainer grafis lainnya juga sepakat dengan pendapat saya ini.

Bagi saya, berkarya saja sebaik mungkin, nanti rezeki bakal ngikutin, kok. Tapi ya itu, untuk sekarang mesti punya stok sabar banyak-banyak dulu. Sebab kendala yang bakal dihadapi bukan cuma sebatas bertemu dengan mbak-mbak si gagal pahan dan ibu-ibu nyinyir bermulut pahit semata. Tapi juga masih banyak orang-orang ngeselin lainnya yang bakal dijumpai.

Bahkan, bukan cuma orang yang tidak paham profesi desainer grafis saja yang suka bikin kesel saya. Sebab yang ngerti akan profesi ini tidak jarang juga suka bikin sebel. Saya punya cerita getir soal itu.

Saya pernah garap sebuah orderan. Sudah susah payah cari gagasan, pas ketemu ide lalu saya kerjakan sedetail mungkin. Tapi apa lacur, begitu rampung ternyata si pemesan malah menggeleng. Dia tidak suka dengan selera desain yang saya buat.

Untuk perkara seperti ini saya masih bisa memahami. Karena soal selera memang sulit buat ditawar-tawar. Tapi anehnya, setelah saya garap ulang kembali pesanan dia dengan setengah hati, tanpa diduga saat melihat hasilnya dia malah tertawa semringah. Ternyata dia begitu senang dan puas dengan desain itu.

Ups! Kali ini saya yang dibuat bingung sekaligus bersyukur bisa segera lepas dari klien berselera aneh macam ini. Ya sudah deh, kalau maunya begitu. Walau sebenarnya saya kurang puas dengan pekerjaan saya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi. Toh, dia sendiri yang rugi karena tetap harus membayar ongkos desain sebesar kesepakatan awal.

Membayangkan akan segera terima fulus saya sedikit terhibur. Karena bayaran orderan kali ini mau saya pakai buat tambah-tambah beli ponsel impian. Kalau dihitung-hitung dengan tabungan yang ada, jumlahnya klop banget. Pas buat beli ponsel baru. Yeah, dream come true. Akhirnya kesampaian juga punya ponsel merk buah keroak.

Sayangnya kecerian itu tak berumur panjang. Ya, teramat singkat malah. Kabar buruk itu terendus bersamaan dengan si klien itu bau mulut, eh…buka mulut.

“Jadi begini, Mas. Makasih banget atas desainnya yang pas dengan keinginan saya. Saya senang banget. Terima kasih lho Mas sudah mau sabar ladenin permintaan saya. Sebelumnya saya juga sudah yakin kalau Mas ini tipe orang yang pengertian banget.

Apalagi hasil desainnya memang keren. Rasanya jadi pengen cepat-cepat mencetak desain ini dan lihat hasilnya. Tapi tadi sebelum ke sini saya mampir ke percetakan buat tanya ongkos cetak. Ternyata mahal banget. Walau memang sepadan sih dengan hasil kualitasnya yang bagus.

Tapi saya mau cerita dikit nih, Mas. Saya nggak menduga kalau biaya cetaknya semahal itu. Sedangkan duit saya pas-pasan. Kalau saya bayar Mas seperti kesepakatan kita kemarin, jelas duit saya nggak pas untuk bayar cetakan. Sementara kok rasanya saya sudah nggak sabar untuk lihat hasil cetakan desain keren karya Mas ini.

Jadi maksud saya bisa nggak kiranya si Masnya ngertiin saya sekali lagi. Saya minta bantu supaya boleh bayar dibawah harga kesepakatan kita kemarin. Semua ini saya sampaikan demi apresiasi tinggi saya terhadap hasil karya desain Mamas. Ya itu tadi biar kita sama-sama bisa cepat lihat hasil cetakan dari desain ini. Gimana Mas. Masih bisa kan kasih kompensasi pengertian sekali lagi?”

Hmmm…manisnya ucapan klien saya ini. Tapi jangan-jangan memang benar ucapan dia. Bahwa dia nekat menawar ongkos desain semata-mata karena menghargai hasil karya saya. Supaya desain itu bisa lekas dicetak dan dinikmati oleh siapa pun yang nanti melihatnya.

Wuih, saya terharu mendengarnya. Ternyata masih ada orang yang secara sadar memberi penghargaan tinggi terhadap hasil karya desainer grafis seperti saya.

Tanpa berpikir dua kali saya pun langsung mengangguk. Biarlah dibayar murah. Toh, duit bagi desainer grafis seperti saya bukan prioritas. Terlebih konsumen adalah raja. Bukankah mengabdi kepada raja itu hal mulia. Ya, esensi hidup ini kan bukan terletak pada berapa banyak harta yang dipunya, tapi seberapa mulia kita di hadapan sesama manusia dan Tuhannya.

Oke, tak dapat upah setimpal, tapi setidaknya mendapat kemuliaan. Masih ada yang mau menganggap profesi desainer grafis seperti saya ini mentereng? Hmmm…. (*)

Komentar

Scroll Up