(Selow.co): Perhelatan Final Piala AFF 2010 sudah lama berlalu. Tapi aroma busuknya malah baru merebak santer sekarang. Aneh?

Berawal dari statemen serius Mantan Manajer Timnas Indonesia, Andi Darussalam Tabusalla, yang mengendus kejanggalan saat langkah timnas tersungkur 0-3 dari Malaysia pada leg pertama putaran Piala AFF 2010 di Kuala Lumpur.

Ungkapan tersebut disiarkan secara live melalui program televisi yang digawangi Mbak Najwa Shihab. Andi juga mengaku mencium bau anyir gelagat pengaturan skor pada pertandingan tersebut. Wadow!

Untuk memperkuat “feeling-nya” itu, Andi mengisahkan, bahwa setahun setelah laga final berlalu ia berkesempatan bertanya pada orang-orang di dunia sepak bola Malaysia yang dikenalnya. “Bagaimana Anda bisa mainkan itu sampai kami kalah?” ceritanya.

Jawaban yang diperolehnya cukup menyentak. Sebab orang Malaysia itu bilang begini, “Kalau kami tak bisa mainkan orang Abang (pemain Indonesia), tak bisa menang kami.”

Tak dinyana bola panas itu langsung menggelinding deras. Pihak pertama yang menangkapnya adalah publik pencinta sepakbola nasional. Entah lantaran mengunyah mentah-mentah kecurigaan yang diutarakan Andi atau khalayak memang sedang memendam kecewa sekaligus geram terhadap prestasi timnas yang dianggap gitu-gitu aja.

Salah satu sasaran tembak mereka adalah bek timnas Maman Abdurrahman. Mudah ditengarai penyulut kemarahan juga berasal dari paparan Andi yang menganggap ada gerakan ganjil yang diperlihatkan Maman, sebelum pemain Malaysia berhasil menceploskan bola ke gawang yang dikawal Markus Horison.

Tak pelak rentetan moncong gunjingan, melalui medsos, langsung menyalak melabrak Hamka Hamzah. Partner Maman saat menjadi benteng pertahanan timnas ini, diolok-olok “terpeleset kulit pisang” lantaran terjatuh saat berhadapan dengan striker Harimau Malaya (julukan timnas Malaysia itu merupakan pemberian Presiden RI Soekarno pada 1953).

Mulut netizen setajam silet. Seakan tak terbendung, cemooh nyinyir mereka terus mendera, bahkan anak-anak Maman tak luput dari serangan. “Bapak loe tuh, makan duit suap,” begitu pengakuan Maman atas bully terhadap buah hatinya. “Padahal saya belum terbukti terima suap!” gugatnya.

Kalau dipikir-pikir, netizen memang suka nggak adil. Sama anak Maman aja berani nyolot. Coba tuh berani nggak ngomong nyinyir ke anak Zainudin Hasan atau kepala daerah dan pejabat korup lainnya yang sudah jelas-jelas jadi pesakitan tahanan KPK. Hmmm…pasti mikir-mikir lagi, langsung mengkerut, tuh!

Lagian, ngapain juga mengumbar cercaan pada orang-orang yang belum tentu bersalah. Kalau dibilang ketika pertandingan di Bukit Jalil itu ada gerakan mencurigakan dari pemain barisan belakang, lantas mengapa pemain lain tidak cepat meng-cover, supaya pergerakan lawan tidak semau-mau di garis pertahanan kita dan orderan mafia pengatur skor menemui jalan buntu.

Atau jangan-jangan semuanya sudah bisa dijinakkan, seperti kecurigaan netizen yang menuding Maman terima Rp30 M dan Markus dapat mobil Alphard? Huss!!!

Oke jangan suuzon. Tapi kemana kawan-kawan Maman, Hamka dan Markus ketika gol sampai berulang tiga kali? Apa mereka semua sedang asyik makan pisang terus kulitnya dibuang sembarang yang akhirnya terinjak Hamka dan membuatnya terpelanting?!

Hmmm…nggak jelas, ya? Memang dunia sepak bola kita kagak pernah jelas mau ke mana arahnya. Kalah telak sama anak-anak TK yang semenjak dini sudah punya cita-cita kelak mau jadi apa. Mau jadi mafia pengatur skor, eh maksud saya mau jadi dokter, polisi atau tentara, misalnya.

Ironisnya lagi, kalau pun saat junior permainan skuat timnas kita cemerlang, entah kenapa setelah gede dikit prestasinya banyak yang mudah redup. Melempem kayak kerupuk disiram air atau melorot persis celana anak TK yang kebesaran.

Ada yang bilang, selagi mafia bola masih bebas melenggang di persepakbolaan kita, jangan harap prestasi timnas bakal moncer. Kalau pun kemudian terselip harapan dengan terbentuknya satgas polri yang katanya bertekad menyingkap manuver para mafia pengatur skor, tapi bukankah itu pun butuh proses.

Kan publik juga mesti bisa maklumi bahwa urusan Polri bukan itu saja. Sebab masih banyak berkas kasus lain yang juga mesti ditangani. Misalnya, menguak pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan, yang sejak 11 April 2017 silam sampai sekarang belum juga diketahui batang hidung pelakunya.

Jadi sekali lagi publik harus tetap sabar, ya. Jangan kebanyakan menuntut!

Sebaliknya kita mestinya harus tetap optimis. Bahkan, kalau yang dicari pencinta sepak bola nasional adalah kebanggaan, bukankah meski tanpa membawa pulang trofi AFF, sesungguhnya kebanggaan itu sudah dalam genggaman kita manakala orang Malaysia sudah mengakui kekalahannya sebelum turun lapang bertemu Bambang Pamungkas dan skuat timnas AFF 2010.

Bahkan cukong mafia Malaysia sampai rela merogoh kocek dalam-dalam buat menjegal langkah timnas kita. Itu kalau merujuk pada omongan Andi Darussalam Tabusalla, lho.

Jadi patut diduga, sebenarnya timnas Malaysia yang disebut-sebut musuh bebuyutan timnas kita itu, bisa dengan mudah ditekuk. Dengan catatan, mafia skor tidak diberi ruang.

Lantas kalau kenyataannya timnas kita masih juga sering keok setiap kali meladeni Malaysia, itu artinya apa? (*)

Komentar

Scroll Up