(SELOW.CO): Siapa coba yang nggak ribet lihat polem (poni lempar) ala-ala Andika eks Kangen Band. Belum lagi dengan sepak terjang dan selorohannya yang kadang nggak nyambung itu. Jangan-jangan, kita memang kangen beneran sama dia. Dihhhh…..!

IYA LOH, jangan-jangan, sebab apa sih yang nggak mungkin di negeri ini. Semua tak ada yang mustahil. Lha, benci aja bisa berubah jadi benar-benar cinta. Terus kamu tergolong kangen atau benci sama pemilik nama lengkap Mahesa Andika Setiawan itu? Nah, loh!

Dan jujurlah, meski kalian pernah menyatakan benci terhadap lagu-lagu atau gaya band asal Lampung satu ini, tapi sangat mungkin kalian sebenarnya hapal sama syair-syair lagunya yang memang renyah didengar itu. Seperti salah satunya: “Jujurlah padaku, bila kau tak lagi cinta. tinggalkanlah aku, bila tak mungkin bersama…” Ups, maaf, ini mah yang nyanyi babang tamvan lainnya, hihihi….

Tapi memang harus diakui, bahwa tak jarang, sadar atau tidak, kita sering (pernah, setidaknya) keceplosan menyenandungkan lagu-lagu Kangen Band. Sambil nyetir mobil, misalnya. Atau pas lagi nyuci piring, sambil ngudut plus ngupi, sambil tiduran, dan sambil nongkrong di WC, mungkin. Atau malah pernah juga sambil ngaca mirip-miripin mimik sama sang vokalis? JUJUR!!!

Saya ingat sekali, saya punya cerita soal Kangen Band waktu kuliah dan aktif di Pers Mahasiswa Teknokra Universitas Lampung dahulu. Saat itu pertengahan tahun 2007. Ketika itu saya dan Rio AN mendapat tugas untuk survei percetakan di Jakarta. Begitu masuk bus dari Pelabuhan Merak hingga sepanjang perjalanan ke Jakarta, sopir bus tak henti-hentinya memutar lagu Kangen Band.

Alhasil, sepanjang perjalanan itu saya dan Rio selalu cekikikan, karena merasa bangga sekaligus geli. Tapi selepas momen itu saya tidak pernah tertarik untuk mengurusi atau mencari tahu seputar perkembangan Kangen Band.

Sampai suatu hari, saat saya mulai liputan untuk Kompas TV, saya meliput kasus Andhika melarikan anak gadis dibawah umur, yang kelak (gadis itu bernama Caca) menjadi istrinya. Setelah itu saya benar-benar tak peduli lagi dengan sepak terjang beliau, eh Andika.

Kini, saya tak hendak membicarakan soal betapa fenomenalnya dia pada masa jayanya. Apalagi soal dia merekrut duo biduan yang menjelma menjadi duo srigala nan fenomenal (jika tak mau disebut dua menggila) itu. Tidak. Pun soal kasus-kasusnya yang seperti tak berkesudahan. Termasuk tentang betapa mudahnya wanita dibuat kepayang di pelukannya.

Pria yang sudah lama meninggalkan gaya rambut sasak entah model apa namanya itu dan sekarang rambutnya berpenampilan undercut ini, mulai membuat cerita baru. Dia pernah didapuk menjadi pengurus DPD Partai Demokrat Lampung. Posisinya pun lumayan mentereng, Wakil Koordinator Bidang Seni dan Budaya (Koordinatornya adalah Kiki The Potters kala itu).

Entah apa alasan utama Demokrat merekrutnya. Mungkinkah karena alasan strategi partai untuk meraup suara dengan menggandeng artees, atau memang partai besutan SBY ini, punya niat mulia “menampung orang-orang tenar bermasalah untuk diperbaiki”. Entahlah.

Andika kala itu berjanji akan terus berusaha memperbaiki diri dan sikap. “Sebaiknya nakal dahulu baru jadi orang baik,” kilahnya. Maka benarlah apa kata saya tadi, kawan. Kisah pria asal Lampung ini memang menarik untuk (tidak) diikuti. Ia belajar bahwa apapun yang dibicarakan orang tentangnya, hanya angin lalu. Kedepan, teruslah berkarya. Meski tak jelas benar apa karyanya. Ups!

Inilah poinnya. Kisah hidup Andika bisa jadi contoh sikap legowo (dibaca “bodo amat”) betapa ujian yang bertubi-tubi itu menjadikannya dewasa.

Sungguh, sikap ini bisa dijadikan panutan para pendukung capres-cawapres yang selalu ribut di medsos. Pendukung yang ribut saling klaim junjungannya paling hebat dan benar. Selow kawan, selow. Hidup tidak selesai setelah 17 April 2019. Siapapun nanti yang terpilih, semua harus legowo.

Pendukung yang menang jangan silap dengan kejayaan, bantu pembangunan dengan memantau kekuasaan. Pun pendukung yang kalah, harus menerima, bahwa perjuangan belum usai.

Ah, mengapa saat menulis ini saya bersenandung kecil lagu-lagu semacam ‘Yolanda’, ‘Bintang 14 Hari’, ‘Juminten’, dll itu. Baiklah, cukup, jujur saya bukan fans Kangen Band. Sumpah!!! Saya fans berat Kla Project, Kahitna, atau Ebiet G Ade.

(*Kabiro Radio Elshinta Lampung)

Komentar

Scroll Up