(SELOW.CO): Boleh jadi memberi adalah ekspresi sebentuk rasa syukur. Yang jelas perilaku memberi tidak bisa dikalkulasi dengan pendekatan matematis. Karena memberi bukan selalu mengurangi yang kita punya. Malah sangat mungkin menambah. Ya, boleh jadi malah menambah.

SORE ITU saya ingin ke pasar. Bila biasanya mengendarai roda dua, kali ini saya putuskan menumpang angkutan umum. Wuih, bakal asik nih bernostalgia dengan kebiasaan lama waktu kuliah dulu, kemana-mana naik angkot.

Tadinya saya berharap akan ada satu-dua penumpang perempuan yang bisa disapa. Tapi apa daya, sepanjang perjalanan dari Labuhanratu ke Tanjungkarang, penumpang yang naik-turun tak lebih enam orang. Itu pun hanya sebatas ibu dan bapak yang sudah agak tua dan lelaki muda bergaya mahasiswa yang asyik dengan headset dan gadgetnya. Senyap.

Akhirnya saya putuskan mengalihkan pandangan ke luar jendela. Dengan laju angkot yang super lambat, saya jadi bisa menikmati kesibukan orang-orang di pinggir jalan.

Memasuki daerah Pasar Tengah, beberapa ruko terlihat mulai tutup. Maklum, sore sudah menjelang senja. Ini saatnya para pekerja pulang sambil membawa lelah dan keinginan untuk segera beristirahat.

Tapi sebaliknya, bagi sebagian lainnya, sore menjadi pertanda untuk memulai aktivitas. Seperti beberapa orang yang saya lihat sedang sibuk menggelar dagangan di teras-teras ruko yang sudah dikunci dengan gembok-gembok besar dan berlapis mirip gembok kapal. Sepintas saya juga melihat pedagang gorengan, penjaja camilan kering dan lapak buah berjajar turut menghidupkan suasana.

Saya lantas memutuskan turun dari angkot dan menyusuri jalan. Tanpa sengaja pandangan saya mendadak tertumbuk pada seorang bapak yang tengah khusyuk menghitung lembaran uang kertas di dalam kresek hitam. Tidak seperti pedagang yang lain, bapak ini menggelar aneka barang berbungkus plastik-plastik lusuh.

Lewat pandangan, saya coba menjelajah dagangan yang ditawarkannya. Ada kaos kaki, amplop, cotton bud, gunting kuku, sikat baju, peniti, sisir dan barang printilan lainnya yang kadang ‘tak dianggap’ walaupun itu sangat penting. Malah tidak sedikit orang menganggap remeh temeh barang-barang serupa itu. Lagipula kalau butuh gampang dicari. Karena bisa dibeli di warung atau nanti saja sekalian kalau sedang belanja bulanan di mal.

Entah mengapa mendadak langkah saya seakan dituntun mendekati dagangan bapak itu. Seraya berjalan saya mulai meraba kira-kira barang apa yang bisa saya beli, kendati dagangan yang ditawarkan rasanya nyaris semua sudah saya miliki di rumah.

Sisir, misalnya, di rumah sudah ada bahkan bertumpuk. Begitu juga dengan amplop ada banyak di laci meja kerja. Sedangkan cotton bud masih full di wadahnya. Ahaa, saya menemukan kaos kaki anak. Baiklah, saya ambil empat pasang. Sambil menunggu si bapak selesai membungkus, saya melihat-lihat apa lagi yang sekiranya bisa dibawa pulang.

Tak lama berselang datang dua orang perempuan setengah baya memakai seragam kantor berdiri tepat di samping saya.
“Pak, gunting kuku yang kecil, berapa?”
“Tiga ribu, Bu,” jawab si pak tua dengan suara parau.
“Lima ribu dua, ya. Kalau iya sekalian saya ambil empat, deh. Gunting kuku di rumah hilang melulu,” sahutnya sambil memilih dan siap mengeluarkan dompet.

“Kalau sikat baju ini berapaan? Lima ribu aja, ya? Jadi biar genap semuanya 15 ribu,” tawarnya lagi sadis tanpa ampun. Padahal jelas-jelas harga sikat itu tertulis 6 ribu rupiah.

Saya gemas-gemas senewen mengamatinya. “Lah, si nyonya. Bisa-bisanya nawar padahal cuma kacek tiga ribu doang,” batin saya tapi nggak sampai mengelus dada. Ya iyalah, kalau itu sih kelewat ekstrem, bisa-bisa si nyonya merasa terusik atau malah mencak-mencak. Hiiii…nggak maulah.

Saya makin terperangah saat mendapati reaksi si bapak penjual yang sebagian rambutnya sudah memutih, itu tetap bersikap nyelo. Dia malah mengangguk sambil tetap tersenyum ramah. “Ada lagi, Bu?” tanyanya.

Saya mengernyitkan alis dan kembali membatin, “Bisa-bisanya si bapak nawarin barang, kalau ditawar sadis lagi bagaimana dia bisa dapat untung?” Syukurnya si ibu menggeleng dan langsung ngeloyor pergi dengan seulas senyum puas.

Selepas itu saya beralih mengamati Ibu berseragam satunya lagi. Perempuan itu terlihat sibuk mengambil satu dari tiap item barang dagangan. Usai memilih ia bertanya harga. Tanpa basa-basi, apalagi menawar, dia langsung membayar. Wow….keren, batin saya takjub.

Tak sampai disitu, detik berikutnya saat si bapak pedagang akan mengambil duit susukan, tiba-tiba ibu itu menimpali. “Kembaliannya untuk Bapak aja,” bisiknya menolak uang kembalian. Wajah  bapak penjual agak ragu, tapi akhirnya dia tersenyum semringah. “Terimakasih, ya, Bu…” ujarnya lirih sambil mencium uang sepuluh ribuan.

Alhamdulillah. Allah langsung mengganti keuntungan dengan berkali lipat. Saya yakin, ibu yang kedua itu membeli bukan karena butuh, tapi lebih pada keinginan untuk bisa membahagiakan orang lain.

Ya, melihat binar mata penjual disaat dagangannya sepi pembeli, atau bahkan melihat senyum tulus nan ikhlas ketika dagangannya ditawar berkali-kali, adalah sebentuk berbagi kasih sayang dan kebahagiaan secara sederhana yang dilakukan si bapak pedagang tadi.

Padahal kalau saya terka modal dagangan si bapak tak lebih dari Rp500 ribu saja. Taruhlah barang yang laku terjual sebesar Rp200 ribu dalam sehari. Bisa dibayangkan berapa keuntungan yang diperolehnya? Paling banyak mungkin Rp60 ribu.

Dengan keuntungan, yang bagi orang lain terbilang kecil, itu nantinya akan dipakai oleh si bapak pedagang untuk memenuhi segala kebutuhan hidup keluarganya. Boleh jadi dia memiliki banyak anak, bisa jadi pula istrinya sedang sakit, atau mungkin pula dia sedang menabung untuk naik haji. Atau malah bisa saja dia lagi dikejar tunggakan hutang yang terpaksa dilakukan demi keberlangsungan hidup. Bisa jadi…

Lamunan saya terhenti ketika beliau menyerahkan sebungkus kresek belanjaan saya. “Rp44 ribu, Mbak. Wah, Alhamdulillah hari ini dagangan saya banyak yang beli,” lagi-lagi ucapan syukur terlantun jelas dari bibir keringnya.

Saya menyerahkan tiga lembar dua puluh ribuan. “Kembaliannya untuk Bapak aja,” bisik saya. Pak tua menatap saya sendu dan mengucap berkali terimakasih. Sementara saya menunduk malu karena hanya sebegitu yang baru bisa saya beri.

***

Belilah walau kita tak butuh, Teman.
Pada penjual renta yang menahan kantuk menunggu pembeli datang,
Pada mereka yang semangat bermualamah dengan segala keterbatasan fisik,
Pada saudara kita yang mengais rejeki dengan senyum selalu menghias bibir seberapa pun uang yang mereka bawa pulang.

Belilah dagangan mereka walau kita tak terlalu membutuhkan. Jika takut mubazir, beri ke orang-orang yang lebih memerlukan. Jangan menawar, apalagi mencela. Lakukan atas nama kasih sayang.

Karena sesungguhnya, “Allah tidak akan menyayangi siapa saja yang tidak menyayangi manusia.” (HR Bukhari).

(*Penulis, bisa dijumpai di instagram: @fitri_restiana dan FB: fitri restiana)

Komentar

Scroll Up