(SELOW.CO): Semakin dekat 17 April 2019, makin ramai bermunculan bunglon. Ada bunglon selon, bunglon cerdas dan bunglon supercerdas. Bro n Sis tergolong salah satunya, nggak? Hiks….

BAKDA ISYA, seperti biasa saya ikut nimbrung di gardu ronda bersama papah-papah muda lainnya. Ngalor-ngidul ngobrol, akhirnya ocehan kami nyangkut di tema politik. Satu hal yang kami bahas bersama malam itu yakni soal hilangnya nuansa horor di sudut-sudut kampung kami lantaran bertebarannya foto calon anggota legislatif.

Suasana gelap nan mencekam khas ujung kampung kini berubah semarak dengan bertaburannya warna-warni banner alias spanduk. Bahkan, pohon kamboja di pinggir makam pun tak luput disulap menjadi etalase potret wajah-wajah cantik dan ganteng para caleg yang menyeringai mengumbar senyum.

Bukan tidak mungkin, akibat pesta sesaat itu, wibawa “sang penunggu tempat” pun runtuh untuk sementara.
Padahal, seperti yang dikutip dari Netizenku.com, memaku pohon untuk merekatkan spanduk dan alat peraga kampanye (APK) lainnya itu melanggar PKPU Nomor 4 tahun 2017 tentang APK.

Cerita punya cerita, salah satu sohib di gardu itu ternyata menyimpan kisah unik yang dia alami pada musim kampanye seperti sekarang.
Menjelang pileg dan pemilu lima tahun lalu, dia yang saat itu saban hari bekerja serabutan mendadak seperti ketiban durian runtuh. Salah satunya, dia banyak meraup proyek untuk memasang spanduk caleg di sudut-sudut kampung.

Selain spanduk, dia kudu menyiapkan bambu atau kayu kasau (baca: kaso) sebagai kaki berikut bingkai untuk spanduk-spanduk musiman itu. Untuk satu titik alat peraga kampanye, lelah si kawan diganjar dengan ongkos Rp80 ribu plus modal membeli kayu dan membayar keneknya. Bayangkan kalau dalam sehari dia mendapat sepuluh titik! Menang banyak kawan!

Belum habis duit proyek sebelumnya, tawaran dari calon lainnya kembali datang silih berganti. Kali ini dia mendapat misi yang lebih ringan tapi cukup membuat dirinya bergidik ngeri. Sang calon lain memintanya untuk merusak banner lawan politiknya. Wow!

Satu spanduk yang dia rusak juga akan dihargai per titik. Ironisnya, alat peraga kampanye yang mesti dia gasak adalah spanduk yang tempo hari dia pasang. Nah, lho!

Singkat cerita, sang kawan yang sedang terjangkit buntu akut menjadi galau. Namun, tampaknya setan kemaruk lebih mendominasi ketimbang akal sehatnya waktu itu. Dengan berlagak pilon, dia pun menerima tawaran selon menjurus gila itu.

“Cring”, berubahlah dia menjadi seekor bunglon! Merayap-rayap, hinggap dari dahan pohon satu ke dahan lainnya, mengendap, lalu dia “berubah warna” sesuai corak batang tempat dia menemplok.

Dengan senjata andalannya, sebilah cutter, di tengah kesunyian malam, spanduk-spanduk itu dia beset hingga terkoyak-koyak. Huh, adegan ini nih yang bikin saya sontak mengelus dada saat itu juga. Dada sendiri, lho! Hehe… Jadi, jangan heran ya kalau spanduk-spanduk yang ada di tepi jalan itu rusak dengan pola robekan yang tak wajar.

Musim kampanye seperti sekarang ini memang cenderung melahirkan bunglon-bunglon lainnya. Ada bunglon selon yang berlagak pilon, ada bunglon yang pandai melirik sikon, dan ada juga bunglon cerdas yang ngakalin calon.

Selain oknum para caleg yang nampang di spanduk-spanduk di sepanjang tepi jalan itu, masyarakat pun latah tertular berpolitik ala bunglon (baca: pragmatis), tak terkecuali sang penguasa jalan raya: emak-emak.

Begitu caleg bersosialisasi, pasar kaget seakan berpindah ke lokasi kampanye. Berduyun-duyun emak-emak duduk manis sembari berharap “cis”, sambil selfie-selfie biasanya. Sebelum acara inti, yakni bagi-bagi hadiah, digelar, tak sejengkal pun mereka beranjak. Hehe…

Bagi mereka, yang penting sikat dulu pemberiannya. Urusan mencoblos, itu perkara nanti di balik bilik suara. Kurang lebih begitulah prinsip mereka. Nah, ini yang tergolong bunglon supercerdas! Bukan cuma suvenir receh macam kalender, kerudung, atau sembako, beberapa caleg pun terkadang mendadak royal memberikan material, seperti pasir, semen, batu, paving block, dsb., untuk perbaikan jalan.

Bahkan, ada juga yang tetiba jadi ahli sedekah dengan menyumbang perlengkapan musala. Dan, ungkapan “di dunia ini tak ada yang mau rugi” itu nyata benar adanya.

Mau bukti? Tunggu saja saat sang caleg itu merintih karena tak terpilih. Itu pasir berikut semen dan kawan-kawannya bakal diangkut kembali.
Memang ada yang memilih cara gila seperti itu. Namun, banyak juga yang memilih untuk merelakan, tapi tak menutup kemungkinan dia terancam gila dalam makna sebenarnya lantaran stres: uang ludes, kursi dewan pun ambles!

Tenang, RSJ Kurungan Nyawa sudah antisipasi untuk pemulihan psikis calon legislatif yang terguncang karena tertunda keterpilihannya.
Yang jelas, tidak semua calon begitu kok, ada juga caleg sehat yang legowo dan mencoba cari cara yang lebih yahud untuk periode selanjutnya.

Itu sekelumit pandangan berdasarkan fakta soal nasib caleg yang tidak terpilih. Bagaimana dengan yang terpilih? Yang jelas, jika sudah keluar modal banyak di awal, kecenderungan untuk “mulangin modal” saat doi berkuasa tentu sangat besar.

Jika begini, lalu siapa yang salah? Demokrasi kita yang sudah cacat karena praktik politik uang atau lantaran apa?

Jangan tanya saya, ya! Kalau mau alternatif jawaban, coba tanya dengan ahlinya ahli: Si Pak Ndul. Hehe… Tapi, kalau ada opsi yang berbeda, monggo pakai cara yang lain saja.

Harapannya, meski agak klise, saya ingin demokrasi negeri ini tidak semakin meriang. Semoga lekas waras!
(*Jurnalis Lampung Post)

Komentar

Scroll Up