(Selow.co): Mimpi jadi orang keren? Bikin sesuatu yang keren. (Atau kalau nggak, minimal) kasih impact atau (sekalian) jadi pemimpin.

Begitu kira-kira bunyi promo acara ‘ngobrol bareng Budi Isman dan Wishnutama’ yang dipublish pada Instagram Wishnutama yang saya lihat baru-baru ini.

Tak berhenti sampai di situ. Kalimat promo itu masih berlanjut dengan embel-embel ajakan “Jangan lagi cuma mimpi atau ngarep, create your future now. Gabung di kerumunan orang keren. (Dan) belajar dari orang yang jelas keren.

Mapas, meski disampaikan dengan kalimat nyeleneh, tapi impresi yang muncul terbilang bombastis. Dan itu  terbukti mujarab. Buktinya terbetik kabar, tiket acara ngobrol bareng itu, ludes hanya dalam beberapa hari promosi. Budi Isman dan Wishnutama memang jaminan mutu untuk laku dijual.

Tapi bukan soal dagangan yang laris manis atau sosok para pesohor itu yang menarik perhatian saya. Sebab sudah terlalu banyak orang tahu perihal keduanya.

Wishnutama, misalnya, pernah tiga kali menikah. Istri pertamanya bernama Wina Widodo. Keduanya cerai lalu Wishnu menikah lagi dengan Wina Natalia. Kemudian mereka juga berpisah. Wina lantas menikah dengan Anji (penyanyi kondang), sedangkan Wishnutama menikahi Gista Putri yang tiada lain adalah artis pada salah satu program di NET TV dimana Wishnu menjadi direktur utamanya. Ada yang bilang pernikahan mereka bak cerita-cerita drama Korea (K-Drama).

Ups! Kok, malah nyinyir mirip Lambe Turah. Bukan itu yang saya maksud. Poinnya ialah Wishnutama adalah bos besar stasiun teve para good people. Nah, supaya adil, saya juga perlu mengungkap sosok Budi Isman. Meski tidak diketahui pasti berapa istrinya, namun yang dapat dipastikan Budi dikenal sebagai ekonom, profesional dan pengusaha tajir melintir.

Sudah ah, balik lagi ke perihal yang menggelitik rasa ketertarikan saya. Selain narasi promonya yang ajib, menurut saya tema yang ditawarkan pada acara itu justru menjadi magnet terbesarnya. Sangat memikat dan lagi-lagi ditampilkan dalam bahasa nyeleneh: “Supaya Hidup Gak Gini-gini Aja!”  (Yang kemudian setelah dimodif dikit biar nggak terlalu kentara copas…hehe, lalu tajuk itu saya jadikan judul tulisan ini).

Iya, menarik. Setidaknya itu menurut saya. Sebab, obrolan itu menggugat  tentang ‘hidup yang gini-gini aja’. Sayangnya, saya tidak bisa mengikuti acara itu, sehingga tidak bisa tahu persis isi obrolannya. Tapi entah kenapa saya begitu merasa ketohok dengan kalimat bernuansa nyelekit tersebut.

Anehnya lagi, biar pun kental dengan nuansa sinisme, nyatanya saya tergugah bahkan spontan turut  mengamini kebenaran pernyataan ‘hidup yang gini-gini aja’ itu. Oalah, saya baru sadar ternyata hati kecil saya membenarkan kalau (jalan) hidup saya selama ini ya cuma gini-gini aja!

Duh, lantas harus bagaimana supaya hidup ini nggak bercita rasa gini-gini aja?!

Apa saya mesti mengikuti jejak Wishnutama terlebih dahulu dengan kawin sampai tiga kali, huss! keceplosan. Maksud saya, apa mesti jadi CEO Net TV atau direktur kreatif pesta Asian Games 2018 yang sukses nyuruh-nyuruh Pak Presiden Jokowi kebut-kebutan numpak RX-Kings eh, motor, meski itu pakai stuntman. Apa mesti begitu dulu?!

Kok, rasanya berat banget ya kalau diminta mesti kayak [email protected]##!

Atau harus napak tilas karir Budi Isman yang pernah jadi Direktur Human Resources Coca Cola Amatil Indonesia dan juga pernah sebagai Presiden Direktur Sari Husada perusahaan produsen susu SGM itu?

Hadeh, rasanya sama-sama beratnya dan hampir-hampir sangat tidak mungkin buat saya ikuti.

Hampir putus asa saya memikirkannya. Sebab jangankan mengikuti jejak Wishnu atau Budi, buat bayar cicilan kreditan saban bulan aja saya sudah cukup dibikin kelimpungan. Tapi sialnya, saya juga nggak mau kalau hidup ini aromanya cuma gini-gini aja. Jadi harus bagaimana?

Aha, “bohlam gagasan’ 5 Watt di dalam kepala saya menyala. Kenapa urusannya mesti dibikin ribet. Bukankah di kalimat promo acaranya Wishnutama dan Budi Isman itu, jelas-jelas tertera salah satu upaya supaya hidup bisa lebih berwarna dan bermanfaat dapat dilakukan lewat cara ‘kasih impact’, atau dengan kata lain mampu memberi pengaruh (positif) ke orang lain atau lingkungan sekitar?

Jika saran ‘kasih impact’ itu bermakna demikian, dan kalau dijalani mampu merubah warna hidup supaya gak gini-gini aja, rasanya saya masih relatif mampu melakukannya. Intinya ngasih pengaruh atau mempengaruhi, toh?

Yupz saya bisa. Tapi saya tetap butuh waktu buat menimbang-nimbangnya. Saya perlu menentukan harus memilih menjadi cebongers atau kampretos untuk bisa mempengaruhi orang lain? Biarlah saya memikirkannya sejenak agar memperoleh jawaban, pantasnya saya ini berlakon apa. (*)

Komentar

Scroll Up