(Selow.co): Dua hari lalu saya mendapatkan pertanyaan dari salah satu adik tingkat saat kuliah melalui WhatsApp, sesaat setelah mem-posting sepenggal tulisan Dahlan Iskan (DIS) berikut fotonya di Facebook.

“Abang ini kayaknya mengidolakan Pak DIS banget. Kenapa bang?” tulisnya melalui pesan WhatsApp.

Pertanyaan itu saya jawab hanya tiga kata. “Dia orang hebat,” jawab saya.

Saya memang memandang Pak DIS salah satu orang hebat di negara ini. Karena itu, meskipun tidak kenal dekat dengan Pak DIS, saya mengidolakan beliau. Terutama karya tulisannya.

Setiap pagi, tulisannya yang di-posting di www.disway.id menjadi “teman” saya dalam menikmati kopi.

Namun, pertanyaan itu juga mengingatkan kebohongan yang pernah saya lakukan terhadap Pak DIS. Tepatnya pada Desember 2014.

Pada tahun itu, saya masih bekerja di SKH Radar Lampung sebagai Redaktur, yang sehari-hari bertanggung jawab menangani halaman Metropolis.

Di tahun itu, saya mendapatkan penugasan dari kantor untuk mengikuti pelatihan selama sepuluh hari yang diselenggarakan Jawa Pos Group di Graha Pena Jakarta.

Informasi yang saya terima, satu perusahaan hanya boleh mengirimkan satu orang. Syarat peserta pelatihan yang dikirim juga harus menjabat pemimpin redaksi (Pemred) atau orang yang dipersiapkan perusahaan untuk menjadi Pemred.

Para pematerinya juga saya dengar wartawan-wartawan hebat Jawa Pos Group tempo dulu yang saat itu sudah menjadi bos-bos koran pada berbagai daerah di Indonesia. Termasuk di antaranya Pak DIS.

Karenanya, ada kebahagiaan dan kebanggaan yang amat sangat ketika saya yang dipilih mengikuti pelatihan tersebut. Sebab, selain akan bertemu idola saya Pak DIS, serta orang-orang hebat di Jawa Pos Group, saya juga bakal mendapatkan ilmu dan pengalaman dari mereka.

Awalnya pelatihan akan diadakan di suatu rumah yang biasa disebut Padepokan DI di kawasan Jakarta Selatan. Rumah mewah berlantai dua itu dulu disewa Pak DIS.

Karenanya, lebih dari lima puluh calon peserta dari perusahaan-perusahaan yang tergabung di Jawa Pos Group awalnya berkumpul di Padepokan DI. Termasuk saya di antaranya.

Di ruang tengah rumah itu, kami di absen satu persatu oleh panitia. Ditanyakan nama dan asal perusahaan masing-masing.

Dari daftar kehadiran itulah saya mengetahui para calon peserta datang dari berbagai penjuru Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke. Ada perwakilan dari koran Rakyat Aceh, ada juga dari Cendrawasih Pos, Radar Timika, Radar Sorong. Termasuk perwakilan dari koran-koran Jawa Pos Group yang ada di Pulau Kalimantan, Sulawesi, Bali, Jawa, dan lainnya.

Usai diabsen, kami berdiskusi dengan dipandu panitia. Kami menceritakan apa saja kendala di koran masing-masing. Tetapi saat diskusi belum selesai, Pak DIS yang didaulat menjadi pemateri pertama datang.

Saat itu, wajahnya terlihat bertanya-tanya. Dia lantas meminta daftar kehadiran dengan panitia. Tujuannya ingin melihat dari mana saja calon peserta pelatihan tersebut. Akhirnya diketahui ada miss komunikasi.

Pak DIS menceritakan awal mula pelatihan tersebut diselenggarakan. Menurutnya, pelatihan tersebut diadakan atas permintaannya setelah berdiskusi dengan Leak Kustiya, Direktur Jawa Pos saat itu.

Penyebabnya, banyak koran Jawa Pos Group, khususnya koran yang segmentasi pemberitaannya kriminalitas, atau politik, atau ekonomi, tidak menjadi koran “tauhid” lagi. Belakangan menurutnya koran-koran tersebut malah menjadi “musyrik” lantaran menjadi koran yang segmentasinya pemberitaan umum.

Karenanya, dia meminta peserta pelatihan itu berasal dari koran-koran tersebut. Bukan koran yang segementasinya umum.

Bersama Dahlan Iskan

Dia juga mengatakan, akan menjadi pemateri tunggal dalam pelatihan itu selama sepuluh hari sejak pukul 07.30-17.00 WIB.

“Kalau ada pemateri lain, doktrin saya nanti tidak masuk,” ucapnya kala itu.

Pernyataan Pak DIS itu sempat diprotes para calon peserta yang berasal dari koran umum. Termasuk saya di antaranya.

Sebab, SKH Radar Lampung tergolong koran umum. Sehingga kemungkinannya sangat besar saya tidak bisa mengikuti pelatihan tersebut.

Kami mengatakan, di koran umum juga ada berita kriminalitas, ekonomi, politik. Ada juga yang dengan merengek berharap belas kasihan dengan mengatakan sudah jauh-jauh datang ke Jakarta. Tetapi Pak DIS tetap bergeming.

Pak DIS lantas mengambil daftar kehadiran calon peserta dan mengabsen satu-persatu nama-nama perusahaan yang mengirimkan wakilnya untuk menjadi peserta pelatihan.

“Bagi yang disebutkan silakan keluar dari ruangan. Pulang, dan langsung kerja!” ucapnya.

Sesuai perkiraan, karena SKH Radar Lampung tergolong koran umum, maka saya termasuk yang harus keluar dari ruangan tersebut.

Saya melihat yang keluar dari ruangan itu jumlahnya mencapai puluhan orang. Termasuk perwakilan koran-koran dari Papua, Kalimantan dan lainnya. Jumlah peserta di dalam yang tersisa tidak lebih dari 20 orang.

Saat itu sebagian peserta yang “diusir” Pak DIS tidak langsung pulang. Ada yang berkumpul sambil berbincang-bincang di halaman Padepokan DI. Ada juga yang langsung¬† menelpon ke kantornya masing-masing untuk melaporkan hal tersebut.

Saya salah satu yang ikut berkumpul di halaman. Kala itu saya berbincang dengan Cak Mahmud, perwakilan dari koran Sumatera Ekspres, Sumatera Selatan.

Dia mengaku pasrah dengan keputusan Pak DIS tersebut dan memutuskan akan pulang ke Palembang. Dia juga menyarankan saya melaporkan kejadian tersebut kepada pimpinan saya di Radar Lampung.

Di tengah kebingungan itu, akhirnya saya memutuskan menelepon Ary Mistanto, Pemred Radar Lampung saat itu yang kini menjadi Pemred Radar Lampung TV.

Kepadanya saya melaporkan peristiwa “pengusiran” oleh Pak DIS. Kemudian Bang Ary (sapaan akrab saya terhadap Ary Mistanto, Red)¬† mengatakan akan melaporkan kejadian itu kepada Pak Ardiansyah, Direktur Radar Lampung Group yang kini menjadi Chairman Radar Lampung.

“Lu jangan pergi-pergi dulu ya dari sana. Gua mau lapor Bos Aca (sapaan akrab karyawan Radar Lampung Group terhadap Pak Ardiansyah, Red),” ujarnya.

Usai menutup telepon Bang Ary, saya melihat peserta pelatihan yang lolos verifikasi Pak DIS keluar dari dalam rumah.

Saya mendapatkan informasi dari salah satu peserta jika Pak DIS memindahkan tempat pelatihan ke Graha Pena Jakarta yang juga berada di kawasan Jakarta Selatan.

“Pak DIS katanya mau ketemu orang dulu. Pelatihan mulai jam satu siang ini di Graha Pena,” katanya.

Menerima informasi tersebut, saya memutuskan untuk ikut ke Graha Pena Jakarta dengan menumpang salah satu mobil peserta dari Bandung seraya menunggu perintah dari Lampung.

Tiba di Graha Pena Jakarta saya langsung mencari kantin. Di kantin itu, saya berbincang-bincang sambil menyeruput kopi dengan peserta yang lolos verifikasi Pak DIS.

Di kantin itu juga saya sempat menelepon istri dan melaporkan peristiwa “pengusiran” oleh Pak DIS. Istri saya menyarankan untuk menunggu perintah dari Lampung terkait apa yang harus saya lakukan.

Sekitar 15 menit kemudian dari menelepon istri, handphone saya berdering. Tertera di layar handphone Bos Aca memanggil. Saya lantas menjawab panggilan tersebut dan kembali menceritakan kronologis “pengusiran” oleh Pak DIS.

Bos Aca lantas memerintahkan kepada saya untuk kembali menghadap Pak DIS dan memohon agar diperkenankan mengikuti pelatihan tersebut.

“Kalau Pak DIS tetap nggak ngizinin, kamu menghadap Pak Azrul Ananda di Jakarta, bilang dari Radar Lampung untuk magang di Jawa Pos Jakarta,” kata Bos Aca.

Usai menerima perintah Bos Aca itu saya kebingungan. Saya sangat yakin Pak DIS tidak akan mengizinkan ikut pelatihan meskipun saya memohon bagaimanapun.

Sebab, sebelumnya saat di Padepokan DI, ada juga calon peserta yang memohon kepada Pak DIS untuk diterima menjadi peserta pelatihan. Tapi Pak DIS tetap bergeming.

Tetapi, saya juga agak berat jika memilih magang di Jawa Pos Jakarta. Sebab, saya tidak kenal siapa pun di sana. Saya yakin tidak akan optimal belajarnya. Bakal menghabiskan waktu dan tentunya uang saja.

Sebab, dari cerita senior-senior saya di Radar Lampung yang pernah magang, tidak ada yang mementori mereka selama magang.

Saya lantas memutar otak. Bagaimana caranya bisa diterima Pak DIS jadi peserta pelatihan. Saya ingat-ingat kembali perkataan Pak DIS saat di Padepokan DI. Syarat peserta adalah berasal dari koran yang segmentasinya bukan koran umum.

Akhirnya saya mendapatkan ide. Saya ingat, Bos Aca adalah orang yang ‘hobi” menerbitkan koran baru. Itu pernah dia sampaikan dalam rapat-rapat Radar Lampung Group.

Karenanya, hampir di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Lampung, Radar Lampung memiliki koran-koran group. Bahkan untuk koran provinsi pun, Radar Lampung memiliki tiga koran group.

Tetapi, dari seluruh koran-koran Radar Lampung grup itu, tidak ada yang segmentasinya berita kriminalitas.

Karenanya, saya memutuskan untuk menghadap Pak DIS kembali dengan mengatakan diperintahkan Direktur Radar Lampung (Bos Aca, Red) untuk tetap mengikuti pelatihan. Alasannya, Radar Lampung dalam waktu dekat akan mendirikan koran yang segmentasi pemberitaannya kriminal.

Meskipun ada perdebatan dalam hati lantaran harus berbohong, akhirnya saya tetap memutuskan menghadap Pak DIS kembali.

Saya mengatur cara agar kebohongan yang akan saya lakukan sempurna. Setengah jam sebelum pukul 13.00 WIB, saya masuk ke dalam ruangan tempat akan dilaksanakan pelatihan.

Saya melihat para peserta yang lolos verifikasi Pak DIS sudah duduk di kursi yang disediakan panitia.

Saya lantas menghadap salah seorang panitia. Kepadanya, saya mengatakan diminta pimpinan tetap mengikuti pelatihan tersebut lantaran Radar Lampung akan mendirikan koran yang segmentasi pemberitaannya kriminal.

Panitia tersebut akhirnya memperbolehkan saya duduk di kursi peserta. Tetapi dia mengatakan, keputusannya tetap ada pada Pak DIS, apakah saya diterima menjadi peserta atau tidak.

Setengah jam menunggu kehadiran Pak DIS, hati saya berkecamuk. Keringat dingin keluar dari badan saya. Bagaimana tidak, yang akan saya bohongi kala itu adalah Big Bos Jawa Pos Group.

Dalam beberapa kali kesempatan Pak DIS datang ke Lampung, saya pernah mendengar Bos Aca memanggil Pak DIS dengan sebutan Bos. Jadi wajar sepertinya kalau saya memanggil Pak DIS juga dengan sebutan Mbah Bos.

Nah, saya membayangkan akan membohongi Mbahnya Bos. Wajar jika saya sangat khawatir sekali.

Akhirnya tepat pukul 13.00 WIB, Pak DIS tiba. Saat masuk, dia memandang sekeliling ruangan. Beberapa detik kemudian dia bersuara.

“Kok pesertanya tambah ramai ya?” tanyanya kepada panitia.

Salah satu panitia lantas menjelaskan. Menurut panitia itu, ada tiga orang yang tetap memaksa ikut pelatihan. Pertama dari Jawa Pos, JPNN dan Radar Lampung.

Ketiga perwakilan media itu lantas ditanya satu persatu oleh Pak DIS. Beruntung saya ditanya paling akhir.

Dari Jawa Pos dan JPNN menyatakan diperintahkan pemred-nya tetap ikut pelatihan. Pak DIS lantas menyuruh keduanya keluar ruangan dan tidak diizinkan ikut pelatihan.

“Radar Lampung kenapa tetap ikut juga?” tanya Pak DIS.

Dengan hati berkecamuk dan detak jantung ber-RPM- tinggi, saya lantas menjawab pertanyaan Pak DIS.

“Saya diperintahkan Pak Direktur tetap ikut pelatihan Pak. Sebab, kata beliau, akan mendirikan koran baru khusus pemberitaan kriminalitas di Lampung dalam waktu dekat ini,” jawab saya berbohong.

Mendengar jawaban saya, Pak DIS terdiam beberapa detik. Terlihat dari wajahnya ada keraguan apakah mengizinkan saya ikut pelatihan atau tidak.

Saat itu dia tidak merespons jawaban saya. Dia kemudian berbalik menghadap papan tulis lantas mengambil spidol memulai pelatihan.

Gerak tubuh Pak DIS itu saya anggap sebagai bentuk persetujuan diperbolehkan ikut pelatihan tersebut.

Saya mengibaratkan gerak tubuh Pak DIS sama dengan seorang wanita yang saat dinyatakan cinta oleh pria. Jika tidak menjawab atau hanya diam, berarti cinta pria itu diterima.

Akhirnya selama sepuluh hari saya mengikuti pelatihan tersebut, meskipun harus berbohong di awalnya.

“Maafkan saya Pak Dahlan Iskan, saya berbohong demi ikut pelatihan,”. (*Mantan Pemred SKH Radar Lampung)

Komentar

Scroll Up