(Selow.co): Lantaran mangkir tidak ikut kegiatan Seroja (Sehat Rohani dan Jasmani) seorang siswi SMA di Bandarlampung mesti menerima ganjaran ‘setimpal’. Telinganya robek bahkan sampai harus dilarikan ke rumah sakit untuk diberi tiga jahitan.

Jangan buru-buru menuding pelaku perobek telinga adalah penjambret anting. Bisa dianggap fitnah kalau menuding tanpa bukti. Sebaliknya jangan terlalu kaget setelah tahu ternyata pelakunya justru guru di sekolah itu sendiri. Sekali lagi, guru, yang ucapan dan perilakunya patut digugu dan ditiru. Ulala…!

Perihal dugaan jambret tadi, tidak perlu terlalu cemas. Sebab sudah barang tentu tak akan pernah pelaku kriminal dibiarkan menginjakkan kaki di sekolah itu. Apalagi pihak sekolah juga sudah menjamin keamanan lingkungannya dalam keadaan kondusif dan terkendali.

Peristiwa kuping robek ini malah mungkin bisa dibilang sebagai salah satu parameter atas situasi yang benar-benar terkendali. Saking terkendalinya sekecil apa pun kesalahan akan terendus dan sanksi tegas sudah menunggu.

Kalau pun kemudian ada insiden berdarah, perlu dipahami kejadiannya berlangsung dalam konteks saat guru kesenian yang juga merangkap peran dobel sebagai staf penertiban dan keamanan sekolah itu, sedang menjalankan tugas. Jadi bukan sekonyong-konyong menjewer telinga sampai berbuntut celaka. Semua ada argumentasinya.

Apalagi saat diwawancarai wartawan, kepala sekolah yang menakhodai SMA tersebut juga ikut memberi penegasan, bahwa ‘Tidak akan ada asap kalau tidak ada api’. Dengan kata lain peristiwanya berlangsung sebagai hubungan sebab-akibat.

Lebih konkritnya lagi insiden penjeweran merupakan reaksi. Sedangkan pemicunya adalah aksi si siswi yang dianggap mbalelo tidak mengikuti Seroja. Hanya saja dia bernasib sial lantaran kepergok guru yang sedang men-sweeping ke kelas-kelas.

Disebut sial karena siswi itu sesungguhnya sedang tidak sendirian di kelas. Ia bersembunyi bersama dua kawan lainnya yang sama-sama tidak mengikuti Seroja.

Entah keduanya lebih lincah atau sedang bernasib baik, mereka mampu meloloskan diri dari penyergapan senyap tersebut. Sementara si siswi bernasib naas. Dia terciduk. Saat ingin mengambil langkah seribu, telinganya lebih dulu masuk jangkauan tangan guru penertib yang cekatan.

Siswi tetap meronta ingin berkelit, sedangkan jari guru semakin keras menjepit. Krakkk! Robeklah daun telinga si murid. Demikianlah versi pemberitaan di media massa. Apakah kejadian sesungguhnya seperti itu? entahlah.

Namun yang bisa dipastikan bahwa kejadian ini benar nyata adanya. Bukan sekadar mirip cerita sinetron bertema azab pedih yang lagi booming di layar kaca dan langganan pakai soundtrack lagu-lagu Opick itu.

Ini juga berbeda dengan video pak guru Joko Susilo yang viral baru-baru ini, yang saat menontonnya kita akan langsung bergidik sekaligus mangkel melihat ada guru tua dikepung murid-muridnya yang kelakuannya persis para begundal.

Ironinya, belakangan Pak Joko malah bilang gambaran di dalam video itu cuma candaan belaka. Dia mengaku memang biasa becanda slapstik khas Srimulatan dengan siswa-siswanya. Sudah biasa? Mapas, ekstrim banget guyonannya.

Jadi percayalah bahwa robeknya telinga siswi yang mesti dapat tiga jahitan itu, bukan setingan apalagi gimik ala-ala Vicky Prasetyo saat menggerebek perselingkuhan Angel Lelga yang diklaim masih sebagai istri sahnya. Peristiwa berdarah-darah tersebut riil berlangsung di ruang kelas.

Lantas apa yang bisa dipetik dari peristiwa yang entah lebih pantas disebut memprihatinkan atau justru heroik karena sang guru sudah sukses menegakkan penertiban setegak-tegaknya?

Sekali lagi, entahlah! Kendati belakangan si guru penjewer sudah minta maaf, tapi wali murid yang telinga anaknya sudah sobek itu, terlanjur telah melaporkannya ke polisi.

Kita mungkin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendapati kabar tindak kekerasan yang masih saja terus berlangsung di lembaga pendidikan.

Mungkinkah dalam kejadian telinga robek ini lantaran guru masih menggenggam erat prinsip reward and punishment atau penghargaan dan hukuman dalam menjalankan metode pembelajaran. Memang apa hubungannya?

Dulu saat masih menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan pernah bilang, kalau metode demikian sudah ketinggalan zaman. Mestinya yang dikedepankan guru adalah metode disiplin positif. Apa pula itu?

Anies meyakini metode yang satu ini akan memacu seseorang menjadi lebih baik. Kalau pun dianggap terpaksa tetap harus memberi hukuman, hendaknya guru mampu memilah bentuk sanksinya yang tetap bermuatan sikap bijak dan mendidik. Bukan malah melakukan tindakan sewenang-wenang, apalagi sampai menimbulkan rasa kebencian berlebih.

Kalau dipikir-pikir apakah menjewer telinga murid yang mangkir dari kegiatan Seroja sudah memenuhi kriteria yang disarankan?

Namun sebelum dijawab ada sebuah pertanyaan lain yang cukup mengusik.

Apakah guru pelaku penjeweran ekstrim itu sudah memahami dan menghayati filosofi dari kegiatan ‘Sehat Rohani dan Jasmani’ yang disebut Seroja?

Kalau sudah, berarti insiden berdarah tersebut berlangsung saat jiwa si guru dalam keadaan stabil dan dilakukan secara sesadar-sadarnya. Bukankah ketika itu rohani dan jasmaninya dalam kondisi sehat?

Tapi sebaliknya, kalau guru itu mengaku belum memahami secara hakiki filosofi Seroja, mestinya ia harus ikut serta dalam kegiatan itu agar rohani dan jasmaninya sehat. Sehingga pikiran dan perilakunya juga mencerminkan akal sehat. Bukan malah menggelar sweeping siswa-siswi yang bersembunyi di dalam kelas.

Atau jangan-jangan berlaku pula pandangan kuno dalam kasus ini, bahwa guru adalah pemegang kebenaran mutlak, makanya ucapan dan tindakannya sampai patut digugu serta ditiru. Guru selalu benar, sedangkan siswa harus meneladani perkataan dan perilaku sang guru.

Termasuk meneladani mental sumbu pendek dan enteng tangan gampang menjewer telinga orang lain sampai robek? Ups! (*)

Komentar

Scroll Up