(Selow.co): Kalau Bandung punya obyek wisata Lembang yang memadukan potensi alam dan sentuhan kekinian, maka Kabupaten Pringsewu juga memiliki bambu, eh…spot wisata di ketinggian yang berudara tak kalah segar, bahkan senantiasa diselimuti kabut.
.
Obyek wisata alam yang masih perawan ting-ting itu tiada lain Bukit Halimun yang berada di Pekon Selapan, Kecamatan Pardasuka. Disebut halimun lantaran area berketinggian 600 meter di atas permukaan laut tersebut kerap berkabut. Hmm…kalau sudah berkabut tentu sejuk, paling pas menikmati pemandangannya sambil seruput kopi.

Tapi apa benar realitanya memang seindah namanya? Tergerak keinginan untuk membuktikannya, saya membuat rencana menyambangi bukit tertinggi di Pekon Selapan ini. Gayung bersambut, beberapa kawan bersedia menemani. Tak perlu berlama-lama, perjalanan pun dimulai pada Minggu (23/12) lalu.

Kecamatan Pardasuka bisa dijangkau dalam sejam dengan berkendara dari pusat Pringsewu. Soal infrastruktur tak perlu diragukan. Jalan aspalnya mulus jaya. Tapi jangan berharap kelewat banyak. Karena nggak selamanya jalanan terbentang mulus, kayak hidup saya yang jalan ceritanya nggak selalu mulus, hiks!

Tantangan mulai terhampar saat menuju Pekon Selapan. Hanya tersedia akses jalan tanah merah dan berbatu yang terbentanh sepanjang kurang lebih 8 kilometer. Jadi bila melintasinya dengan bermotor usai hujan mengguyur ya mesti ekstra hati-hati.

Sebab kalau salah perhitungan sedikit saja saat menarik tali gas akibatnya bisa fatal. Putaran roda akan menjadi liar tak terkendali. Buntut-buntutnya ya apalagi kalau bukan ngegelosor dengan sukses sambil diakhiri momen mencium tanah. Uhhh!

Saya juga yakin mau Rossi atau Marquez, atau malah sekalian keduanya tandem boncengan sekalipun, dijamin keder kalau disuruh trek-trekan di jalur ini. Kalau pun mereka masih punya nyali, pasti sebelumnya bakal ribet pasang body protector super lengkap, dan yang pasti cowok-cowok itu akan tanya, wani piro?

Sementara warga setempat yang acapkali menggunakan lintasan ini mana kepikir pakai, atau tepatnya tidak punya, peralatan pelindung seperti itu. Alih-alih punya yang kayak gituan, bisa kebeli bensin aja sudah syukur, ups!…becanda, Beib. Jadi selain baca Bismillah tiga kali, modal utama berikutnya ya modal nekat, selonong boy langsung hajar mamen. hehe…

Untungnya, saat saya tiba, cuaca cerah. Tanpa rintangan akhirnya sampai juga di Balai Pekon Selapan. Di lokasi ini suasana sejuk sudah mulai terasa. Saya menghirup dalam-dalam udara segarnya.

Lepas rehat sejenak, mendekati pukul 4 sore, dua joki motor trail yang akan mengantar saya dan rekan ke pucuk Bukit Halimun datang. Mereka memang bukan lawan tanding the Doctor atau si Baby Alien di lintasan MotoGP. Tapi untuk ukuran penguasaan area setempat, saya lebih percaya boncengan motor dengan joki Mas Joko dan Mas Tubagus yang merupakan anak-anak Karang Taruna tersebut.

Yang jelas keyakinan saya tumbuh bukan lantaran label Karang Tarunanya itu, tapi jelas kedua joki ini lebih ngertiin medan yang akan dilalui. Duh, susah lho nyari cowok yang super ngertiin di jaman ini, ahay!

Untungnya lagi sebelumnya saya sudah pernah punya pengalaman dijokiin motor naik ke pegunungan. Jadi kali ini tidak terlalu ketar-ketir. Setelah ready semua, gas mulai digeber, tarik Mang! Kami pun melaju.

Sialnya, kendati sudah punya pengalaman naik trail di trek menanjak, tetap saja sebagai perempuan yang halus perasaannya…ehem, nggak bisa dipungkiri saya tetap menyimpan perasaan was-was. Kompensasinya apa boleh buat saya kudu pegangan erat ke joki. Hmmm… jangan suuzon dulu kalau si mamas joki sudah menang banyak, karena ada tas ransel di antara kami, hehehe….maaf lho, Mas.

Berbeda dengan kondisi jalan tanah merah dan berbatu saat akan masuk ke Pekon Selapan tadi, medan sepanjang jalur menuju Bukit Halimun justru becek bahkan nyaris berlumpur. Kebayang kan bagaimana licinnya bermotor di jalan seperti ini.

Tapi sensasi yang dirasa terbilang sepadan, kalau memang punya adrenalin untuk berpetualang semi ekstrem. Apalagi sepanjang jalan kita bisa melemparkan pandangan ke segala penjuru yang kesemuanya memang indah buat dinikmati.

Belum lagi ketika iring-iringan motor kami berpapasan dengan para petani yang hendak pulang ke rumah dan kami saling bertegur sapa hangat. Terasa akrab banget. Bahkan, sesore itu saya pun masih melihat petani lainnya -lelaki dan perempuan- sedang menekuni tanaman cabai di kebunnya.

Tak hanya itu, rombongan kecil ini juga melintasi kebun kopi dengan wangi bunganya yang meruap khas. Yang begini ini meski remeh temeh tapi kerap meninggalkan kesan membekas.

Kondisi medan yang kami lalui juga variatif. Sebentar menanjak, tak lama berselang menemui jalan menurun, selang-seling bak bunyi pantun. Sungguh menyenangkan bila memang bisa menikmatinya.

Bahkan disaat motor oleng sekalipun, yupz saya dan joki sempat kehilangan keseimbangan dan sampai roboh dua kali. Walau saya meringis karena kaget, tapi perjalanan tetap harus dilanjutkan. Gas pun ditarik kembali, meski tak sampai mentok. Hingga akhirnya setelah montor-montoran sekitar 20 menit takdir menentukan motor yang saya tumpangi bermasalah. Tapi suer kesialan itu bukan akibat membonceng saya loh, beneran!

Setelah menggelar “rapat kecil” sebentar, kemudian diputuskan untuk meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. “Sudah dekat, kok,” terang salah seorang joki. Tapi tau kan takeran dekat bagi orang di perkampungan. Untuk urusan yang satu ini rasanya jangan terlalu dipercaya, deh. Malah patut dicurigai…wkwkwk…

Benar saja. Setelah berjalan menanjak sambil terseok-seok dan napas tersengal selama nyaris dua puluh menit, barulah kami sampai puncak bukit.

Dan, wow! Pemandangan yang tersaji memang indah. Dari posisi saya berdiri dapat melihat hamparan laut Putihdoh dan bentangan persawahan nun jauh di sana. Hanya saja, lagi-lagi saya kurang beruntung, lantaran kabut yang biasanya menggantung di sekitar pucuk Bukit Halimun sore itu tidak terlihat batang hidungnya.

Sedikit kecewa, memang. Tapi ritme alam kan tidak mekanis. Bukan pula palang pintu perlintasan kereta Babaranjang yang terskedul dan cenderung egois menyita waktu orang disaat jam padat aktivitas.

Walau tak bersua kabut, bagi saya pribadi lokasi ini memang menawarkan keindahan tersendiri. Tak berlebihan kiranya bila warga dan pemuda setempat mendapuk Bukit Halimun ini, sebagai obyek wisata andalan mereka.

Malah Kepala Pekon Selapan Maryono dan Kaur Kasi Pemerintahan Setiobudi Eko Pramono menaruh harapan destinasi Puncak Halimun Selapan ini kelak dapat menjadi salah satu icon Kabupaten Pringsewu.

Saat menilik biodata Pekon Selapan, saya cukup kagum dibuatnya. Terutama setelah melihat berbagai upaya warga setempat dalam memoles potensi objek wisata seperti keberadaan lima air terjun, Goa Kembar dan Goa Harimau, supaya bisa lebih moncer dan dikenal banyak kalangan.

Tak hanya itu, warga juga berhasil mengolah air bersih layak minum yang bersumber dari air terjun. Lalu di tahun ini mereka sedang giat-giatnya mengembangkan budidaya ikan lele. Yang tidak kalah menariknya Karang Taruna di sini juga aktif memberdayakan potensi ekonomi warga melalui pembuatan  tusuk sate secara kolektif dan mengaktifkan program bank sampah.

Sudah, mentok sampai itu aja? Ternyata nggak. Masih ada aktivitas bernuansa peduli lingkungan sekaligus mengembangkan potensi wisata lainnya. Sebut saja satu di antaranya ialah rencana menanam 3 ribu batang bambu yang akan ditebar di sepanjang aliran Sungai Way Cibulok dan Way Campang.

Kebayang kan kalau pohon-pohon bambu itu kelak rindang menaungi, ditambah lagi dengan bertebarannya tanaman kopi, cabai dan cengkih yang sudah menjadi tanaman pokok warga setempat yang mayoritas bersuku Jawa dan Sunda itu.

Pasti menyambangi Bukit Halimun bakal terasa lebih asyik lagi. Sukses ya, say!
(*Jurnalis di Pringsewu)

Komentar

Scroll Up