(Selow.co): Reuni Akbar Mujahid 212 menyibak wajah asli pers yang ternyata sebagian sudah menjadi mayat hidup. Istilah teman koran kampus saya kala di SKM Teknokra, Unila, Hersubeno Arief, pers Indonesia telah bunuh diri massal tatkala berpaling dari Aksi 212.

Budi Ubrux bukan jurnalis. Dia pelukis, maestro. Tapi, karyanya seperti menohok ulu hati kesadaran saya sebagai serpihan kecil bagian dari komunitas jurnalis. Lukisan berjudul Adu Tajam terasa menyayat profesionalitas di gersangnya idealisme.

Pada karyanya, Budi Ubrux melukis pertandingan sepakbola yang para pemainnya berbalut koran. Dicermati, pemain bola dalam bungkusan koran warna kuning bertulisan huruf han zi tersebut berhasil menyerobot dan menguasai bola pemain koran berhuruf latin atau romawi yang kita pakai.

Pemain bola berbalut koran tulisan huruf latin kalah ligat dan ketiga temannya juga hanya bisa melongo tanpa bisa berbuat apa-apa di bagian belakang. Pemain bola koran kuning berhuruf han zi tampak power full menguasai permainan.

Bukan hanya kemampuan teknik lukis realisnya saja, Budi Ubrux pasti ingin menyampaikan banyak pesan, potret, pengamatan sosialnya tentang suatu persaingan yang ada pada semua lini kehidupan, termasuk antarbangsa, antarnegara

Pengamatan tajam sang pelukis terhadap kondisi sekitarnya itulah yang seharusnya menjadi modal utama yang harus terus diasah seorang jurnalis. Budi Ubrux lewat lukisannya bisa berkarya dengan idealismenya, tak cuma lukisan sedap dinikmati mata.

Tidak hanya lukisan Adu Tajam, puluhan bahkan ratusan lukisanya konsisten mewakili pesan idealismenya dalam bentuk koran, baik itu manusia, hewan, atau benda mati lainnya. Semua karyanya tampil seperti tulisan kritis seorang jurnalis profesional.

Lukisan Adu Tajam buatan tahun 2015, setahun setelah terpilihnya Jokowi-Jusuf Kalla, sebagai kepala negara itu telah menjadi koleksi penggemar lukisan yang low profile dari Provinsi Lampung: Toro.

Selama lima hari, Sabtu (15/12) hingga Kamis (20/12), Toro memamerkan koleksinya untuk masyarakat di Taman Budaya, Kota Bandarlampung. Tak hanya Adu Tajam, kolektor ini juga memajang karya Budi Ubrux lainnya, yakni Pit Stop.

Budi Ubrux, seniman yang memenangkan Philip Morris Art Award tahun 2000 itu konsisten melukis seperti seorang jurnalis yang mengemban tugas mulia lewat karya lukisnya yang imajinatif dan memiliki pesan kuat kritik sosial dalam setiap karyanya

Pada pamerannya tunggalnya di gedung B Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, tahun lalu, 3-13 Agustus 2017,  AA Nurjaman, kurator pamerannya, mengatakan, bagi Budi Ubrux, jurnalis punya peran penting dalam proses pembentukan negara Indonesia.

Semua Karya-karya realisnya yang menampilkan manusia koran seperti di The Boat and The Workers adalah model pernyataan dan komentarnya soal kondisi sosial.

Karya lainnya, Ubrux mengetengahkan risiko profesi jurnalis dalam rupa yang lebih menakutkan. Senapan-senapan AK-47 dari kayu dijajarkan terarah ke wajah-wajah manusia tertutup koran.

Menurut Wahyudin, Ubrux sedang memperlihatkan risiko seorang jurnalis dalam mengemban tugas mulia profesinya. Dalam lukisan berjudul BPUPKI, Ubrux jelas memposisikan jurnalis, dan jurnalisme itu sebagai sesuatu yang tidak pernah lepas dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia

Di saat jurnalis bunuh diri massal di tahun politik ini, Budi Ubrux menjadi seperti setetes embun yang “menyapa” halus kesadaran jurnalistik kita. Seperti halnya Budi Ubrux yang dihargai mahal karyanya karena idelaisme.

Dari setetes embun spirit karya-karya sang pelukis, Budi Ubrux mengetuk pintu kesadaran kita, tak hanya jurnalis, tapi semua profesi jelang suksesi kekuasaan. Jangan sampai, pemain sepak bola berhuruf han zi itu menguasai lapangan kita. (*Jurnalis)

Komentar

Scroll Up