(Selow.co): Segala bentuk mabok selalu bikin miris. Mulai dari mabok judi, mabok janda hem…sampai mabok narkoba!

Lagi asyiknya elus-elus gawai mencari informasi, tetiba saya mangkel saat membaca berita di laman portal berita online. Judulnya tertulis “Konsumsi Sabu, Dua Caleg Lampura Ditangkap Petugas”.

Memang sikap saya agak berlebihan, tapi jujur saya jengkel dengan polah calon anggota Dewan yang belum apa-apa malah pamer “borok”! Bukannya menunjukkan sisi malaikat sebagai calon wakil rakyat yang terhormat, doi malah asyik-masyuk menyedot barang haram.

Sejurus kemudian saya mengawang-awang. Jika oknum caleg ini terpilih, lalu ngantor di Gedung DPRD, rakyat satu kabupaten bakal diwakili sama orang mabok! Kalau sudah mabok narkoba, pastilah dia mabok harta lalu kemudian mabok janda, eh, maksud saya mabok kekuasaan. Horor, kan?

Begitulah orang mabok. Melangkah saja sempoyongan, apalagi dipaksa memapah ribuan konstituennya untuk keluar dari kata “susah”. Alih-alih sejahtera, rakyat bakal ikut terperosok ke siring. Bakal habis rakyat dikadalin! Sudikah suara kita diwakili oleh sosok yang demikian? Aku sih no!

Jiwa kepo saya timbul. Ada enggak ya mereka yang terjerat narkoba adalah anggota Dewan yang sudah dilantik? Buru-buru saya ketik di bilah mesin pencarian Mbah Google. Dan… hasilnya wow banget!

Ternyata, ada seabrek anggota Dewan yang tak kuasa menahan godaan serbuk kristal putih yang—katanya—bisa bikin kita nyaman dan bugar terus-terusan. Kasus tersebut begitu meruyak dan tersebar di seluruh Indonesia. Pantas saja kalau pemerintah menyebut saat ini sedang darurat narkoba.

Di Lampung saja, pada Medio 2018 lalu, anggota DPRD Way Kanan diringkus di kediamannya usai berpesta sabu-sabu. Sebelumnya, pada 2017, dua anggota Dewan dari Pesawaran juga berhasil diciduk aparat saat ngisep bareng sabu-sabu di rumahnya.

Sabu-sabu bukan barang murah seharga ganja, rokok, apalagi cangcimen. Hanya kalangan berkantong tebal yang sanggup mencicipi narkotika supermahal tersebut. Itulah enaknya punya duit banyak, apem saja berani dihargai sampai Rp80 juta. Lho, kok jadi bahas apem, sih! Hehe…

Kembali saya menerawang sambil bermonolog. “Kalau anggota Dewan sudah kecanduan sabu, duit siapa yang bakal dia gasak untuk menawarkan rasa sakau-nya?” kata saya. “Duit di kantongnya sendiri, lah!” jawab saya sendiri. “Terus, kalau duit di kantongnya sudah ludes?” saya mulai mencecar diri. “Uang rakyat kali, ya?” timpal saya spontan.

Ah, entahlah! Kalau itu kejadian, lalu di mana peran legislatif sebagai pemerjuang aspirasi rakyat? Adakah jawabannya? Ada! Peran itu ada pada anggota Dewan yang amanah; yang menganggap bahwa jabatan yang dia emban sekarang kelak dipertanggungjawabkan oleh Sang Maha Mengadili. Jika itu sudah terpatri dalam setiap anggota legislatif, insya Allah aman dunia. Tapi, sudahkah berjalan seperti itu? Kalau kata Ebiet G. Ade, “Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang!” Sedaaap! Gitar mana gitar? Hehe…

Selain emak-emak yang nge-sein kiri tapi belok kanan, kita sepakat bahwa narkoba adalah musuh bersama. Sudah selayaknya anggota Dewan yang menjadi panutan dan contoh bagi rakyatnya berada di garis paling depan untuk memerangi narkoba. Tapi, kalau justru mereka yang terpikat nikmatnya barang haram itu, tentu menjadi ironis bin miris.

Daripada tensi naik makin, mari segera mengusap dada, menarik napas panjang, dan sama-sama melisankan istigfar! Astagfirulah….

(*Jurnalis Lampung Post)

Komentar

Scroll Up