(SELOW.CO): Mendadak saya teringat istri saya di tengah menjaga puasa Ramadan. Terlebih Rasulullah pernah bilang, “…layanilah istri-istri kamu dengan baik, dan berlemah lembutlah kepada mereka. Karena sesungguhnya mereka (para istri) adalah teman kamu yang paling setia…”

PADA SEBUAH siang, Feb, istri saya, untuk kesekian kalinya menanyakan pada saya, “Ndro, udah didownload belum film Milly dan Mamet?”

Walah, saya lupa juga untuk kesekian kalinya. Agak sedikit merajuk, Feb mengingatkan lagi supaya saya cari film itu versi unduhannya.

Maklum -sejak anak ketiga kami, Miu, lahir- praktis sulit untuk meluangkan waktu berdua nonton film di bioskop. (Tolong dibaca dari kata maklum di atas itu dengan terjemahan bebasnya: Kami sedang irit ke mall).

Saya bukan tak tahu maksud dia terus-menerus menanyakan film tersebut. Sebab, pernah kami secara tak sengaja menonton trailer film sisi lain dari film “Ada Apa Dengan Cinta” itu. Makanya judul film plesetan ini ditulis “Milly dan Mamet: Ini Bukan Cinta dan Rangga”.

Dalam trailer itu, ada adegan si Mamet (Dhenis Adiswara) yang akan berangkat kerja dengan semangat mencium pipi bayi kecil mereka. Demi melihat adegan itu, sontak Milly (Sisy Priscilla) berucap dengan nada menyindir cenderung nyinyir, “Papa tuh gitu, lupa kalo mama juga punya pipi.” Mily pun akhirnya dapat ‘hadiah’ yang sama dengan si bayi.

Setelah melihat adegan ‘minta cium pipi pas mau berangkat kerja’ inilah, si Feb ngotot mau nonton filmnya. Tapi sebagai orang yang sudah kenal dengannya selama lebih dari satu dekade, saya tahu dia punya maksud terselubung.

Selain memang film itu bagus (secara cerita dan hiburannya, ini setelah akhirnya kami nonton melalui sebuah website film), Feb ingin mengingatkan kembali kepada saya, pentingnya sebuah kecupan kecil saat akan berangkat kerja.

Feb tak peduli dimana pun kecupan didaratkan. Entah di kening, pipi, dagu, hidung, mata, atau (malah) bibir. Nah, kecupan pada bagian terakhir ini jangan terlalu dihayati. Karena saya jamin Anda akan terlambat masuk kerja, atau bahkan langsung telepon teman di kantor minta izinkan tidak masuk, dengan alasan pura-pura ada keperluan keluarga yang urgen. Atau yang lebih ekstrem lagi alhasil bisa batal puasa, hadeh!

Kalau mau di flashback, pada masa awal menikah, kami punya satu ritual sebelum berangkat kerja (waktu itu Feb masih mengajar). Kami menyebutnya gaya ’empat penjuru mata angin’. Teknisnya: saya mencium Feb di kening, pipi kanan kiri, dan bibir. Cukup sekali kecup saja. Setelah itu Feb mencium punggung tangan saya.

Ritual itu seingat saya masih rutin kami lakukan sampai kami punya anak satu. Sampai akhirnya sindrom pascamenikah itu hinggap dan menggerogoti, mirip gerakan VOC saat tiba di Nusantara.

Kalau diingat ada adagium tentang pernikahan yang menurut saya tidak baik untuk terus-terusan diucapkan. Begini taklimatnya: “Tantangan pernikahan itu di 5 tahun pertama. jika sudah melewatinya, maka langgenglah biduk pernikahan hingga maut memisahkan”.

Bagi yang percaya, kata-kata itu mengerikan sekaligus menenangkan. Sindrom beberapa tahun menikah, bagi saya dan sebagian orang benar-benar sebuah ujian. Padahal sejatinya ujian menikah itu akan kita dapatkan selama kita hidup, tak hanya 5 tahun setelah menikah saja.

Tapi sebagaimana dikuatkan banyak orang, kita bisa ambil ibroh atau pelajaran dari kesalahan. Istri adalah sebaik-baik perhiasan dunia. Maka ia layak mendapat tempat terbaik di sanubari kita. Sindiran Feb melalui film Milly dan Mamet harusnya sudah saya perkirakan.

Saya, dan sebagaimana kita para suami, haruslah lebih peka dan peduli pada sahabat sejati kita. Ia yang rela ditinggal bersama anak-anak yang rewel saat kita bekerja. Ia yang kadang hanya minta pijit di punggung dan kaki kala akan lelap tidur, tapi saya dan kita, para suami, menolak dengan alasan kita juga sedang lelah usai bekerja.

Rasulullah SAW pun saat kutbah terakhirnya di Lembah Uranah, Gunung Arafah, pada 10 Hijriyah memberikan pesan penting bagi umat Islam. Selain berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadist, Nabi Terakhir itu pun mengingatkan pentingnya memuliakan istri.

Saking pentingnya pesan ini, tak heran kalau turut disandingkan dengan titah untuk tiada menyakiti orang lain, waspada terhadap ajakan sesat syaiton, menjalankan Rukun Islam, dan mengingatkan kita terhadap posisi manusia yang paling mulia di sisi Allah tiada lain karena akhlaknya.

Baiklah, kita kembali ke Milly dan Mamet tadi. Bagi Feb, istri saya yang sederhana itu, film tersebut sangat menginspirasi. Kisah rumah tangga yang ditampilkan sederhana, apa adanya, dan penuh canda. Ideal memang.

Sedangkan bagi saya, sindiran Feb soal kecup kening tadi merupakan sebuah tamparan pengingat. Saya kemudian berazam, berniat akan mengulangi ‘Ritual 4 Penjuru Mata Angin’ itu. Bahkan, akan kutambah dengan mengecup tanganmu yang sekalipun masih berbau bawang itu. Emmmuahhh….

(*Alumnus Sosiologi Unila)

Komentar

Scroll Up