(Selow.co): Kamu tahu pacet kan? Iya, binatang mirip lintah sang penghisap darah itu.

Tidak sedikit yang menganggap kedua binatang tersebut adalah sama. Sebelas dua belas gitu atau bak pinang dibelah dua. Padahal sesungguhnya berbeda.

Menurut Wikipedia, lintah (Hirudo medicinalis) habitatnya di air. Dengan stay di sana binatang ini dapat menjaga kelembaban dan suhu tubuhnya. Semua spesies lintah adalah karnivora. Sedangkan pacet (Haemodipsa zeylanica) hidup melekat di dedaunan dan batang pohon yang lembab. Biasanya lintah memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dari pacet.

Ngomongin soal pacet, saya jadi teringat dengan ulah seorang teman. Ketika itu saya bersama beberapa kawan ingin mendaki Gunung Betung. Lokasinya memang tidak terlalu jauh dari Kota Bandarlampung, tapi tetap menarik kok buat disambangi.

Karena sudah sering mendaki ke situ, akhirnya kami memutuskan untuk mendaki lewat jalur ‘khusus’. Kami melintas melalui jalur Sumber Agung, Kemiling. Sementara kebanyakan pendaki lebih memilih jalur umum melalui Desa Wiyono, Pesawaran.

Disebut jalur khusus lantaran jalur ini dianggap lebih jauh untuk mencapai puncak Gunung Betung. Ditambah lagi ada beberapa mitos mistis yang melingkupinya. Sehingga membuat jalur ini makin tidak populer di kalangan pendaki kebanyakan.

Sebaliknya, saya dan kawan-kawan lebih senang memilih rute ini bukan lantaran berasa punya nyali lebih besar dari para pendaki lainnya yang emoh lewat situ. Justru kami ingin menghindari keramaian di jalur umum. Ceritanya kami memang lebih memilih jalur sunyi. Biar lebih tenang dan bisa nikmati suasana.

Ditambah lagi, di jalur khusus ini terdapat sebuah ‘kali mati’ yang dipenuhi oleh susunan bebatuan berlapis. Bentuknya artistik banget. Sangat orisinil. Alami tanpa campur tangan sentuhan manusia. Tak heran kalau lokasi itu kemudian lebih dikenal dengan sebutan ‘Batu Lapis’.

Di tempat inilah rombongan kami memutuskan bermalam, sebelum nanti akan melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Betung.

Saat pagi buta usai bermalam, rombongan kecil ini mendadak dibuat heboh oleh perilaku salah seorang teman. Ketika itu saya masih meringkuk di hammock. Itu lho kain mirip ayunan anak bayi…hehehe.

Walau sudah terjaga dari lelap tapi saya masih kepingin bermalas-malasan sambil menghalau dinginnya embun pagi. Dalam hati sempat terlintas untuk bangkit lalu memasak air dan menyeduh kopi. Duh, pasti asyik tuh. Tapi apa daya rasa malas lebih kuat membekap. Jadi saya urungkan niatan itu dan memilih tetap nangkring dalam dekapan hammock. Santaiii…

Pada saat itulah lamat-lamat saya mendengar obrolan beberapa kawan yang sudah bangun dari tidur. Agaknya mereka sedang merencanakan ide gila. Ya, salah seorang dari mereka menggelindingkan usulan untuk berburu pacet.

Berburu pacet, buat apa? Rupanya ide tengik itu dimaksudkan sebagai pembalasan setimpal bagi pacet-pacet yang sebelumnya rajin nempel dan menggigit betis mereka saat kami mendatangi tempat ini. Ditambah lagi semalam memang hujan turun. Menurut kawan saya itu sekarang pasti banyak pacet berkeliaran.

“Gantian kita buru mereka lalu kita bakar. Darah dibalas darah,” ujar teman saya itu berapi-api berusaha memprovikasi kawan-kawan lainnya yang masih susah payah melawan rasa dingin. Bagi saya tampang culunnya itu tetap saja terlihat tengik…bhahaha.

Konyolnya hasutan itu dikunyah mentah-mentah. Beberapa kawan menyetujuinya. Perburuan pun dimulai. Dan saya yang mulai tertarik mendengar ide konyol itu bangkit dari rebah namun masih tetap duduk di dekapan hammock. Hanya mata saya yang mengikuti gerakan kawan-kawan yang sedang memendam dendam kesumat itu.

Di tengah-tengah kesibukan berburu pacet tiba-tiba terdengar suara lantang dari kawan lainnya. Kawan itu bilang kalau dia menemukan pacet raksasa. Saat kutengok mimik mukanya teramat serius. Kawan-kawan pemburu pacet mendadak balik kanan. Berbondong-bondong mereka menuju lokasi pacet raksasa berada seperti laporan kawan tadi.

Masih dari atas hammock saya berpikir. Pacet raksasa? Hiii… pacet yang kecil saja sudah bikin saya bergidik membayangkannya. Apalagi kalau sampai menempel di kulit. Lha ini pacet raksasa!!! Saya jadi ikut-ikutan penasaran sebesar apa pacet yang dibilang itu.

Akhirnya saya ikut terpancing bangkit dari singgasana hammock. Saya ikut menghampiri rombongan para pemburu pacet raksasa itu.

Selintas saya sempat mendengar dari ucapan si pembawa kabar kalau pacet yang dilihatnya berukuran besar. Ia lalu mengisyaratkannya dengan mengepalkan tangan. “Segede ini nih..besar banget,” terangnya masih dengan mimik serius. “Itu di situ, di balik batu,” pekiknya kemudian sambil menunjuk ke arah tumpukan bebatuan berlapis yang letaknya cukup jauh dari tenda kami.

Mendengar itu kami yang berada di situ hanya bisa saling menatap. Di satu sisi kami penasaran ingin tahu dimana letak persis pacet raksasa itu bersarang. Tapi di sisi lain perasaan kami digelayuti rasa takut.

Lha iyalah takut. Pacet raksasa, Sob. Gimana coba pas didekati tiba-tiba pacet raksasa itu mencelat dan nemplok ke muka. Kalau cuma ngisap darah walau pasti sakit tapi masih bisa ditahan. Nah, apa jadinya kalau tuh binatang berlendir itu sampai nyedot hidung yang memang sudah enggak mancung ini. Bisa makin krisis kepercayaan diri kita dibuatnya. Hiiii….beresiko banget sih, pikir saya.

Suasana mematung itu terpecah ketika salah seorang kawan melangkah gagah ke depan. Tanpa ragu dan tanpa menoleh ke kami dia segera bergegas mendekati arah yang dikatakan tempat pacet raksasa berada. Kawan-kawan yang lain, termasuk saya, makin penasaran. Tak pelak kami menguntit langkah kawan pemberani tadi. Kami persis mengekor di belakangnya.

Hingga lokasi yang dimaksud kini sudah berada di depan hidung kami. Si pemberani berhenti sejenak. Ia mengamati sebuah batu lempeng yang tergeletak di atas susunan batu lain di bawahnya sehingga membentuk rongga. Kata kawan pembawa kabar di situlah dia tadi melihat pacet raksasa bersarang.

Si pemberani menarik napas panjang. Wajahnya menegang. Pelan-pelan ia menekuk kakinya. Badannya mulai mendekat ke batu itu. Sementara tangan kanannya sudah memegang sebongkah batu yang siap dihantamkan ke pacet raksasa sesaat setelah tangan kanannya menyingkap kepingan batu yang menutupi sarang pacet raksasa itu.

Dalam hatinya si pemberani sudah menakar tenaga yang bakal dikeluarkan untuk menghantamkan batu di tangannya. Sekali timpa, modar tuh pacet raksasa! Tekadnya.

Tak berselang lama tindakan heroik pun dimulai. Tangan kirinya segera menyibak lempengan batu penutup sarang pacet raksasa. Sedangkan tangan kanannya yang memegang batu sudah diangkat tinggi-tinggi dan siap dihujamkan dengan deras. Namun sebelum ayunan batu itu dihantamkan ke sebuah benda sebesar pisang goreng dan berwarna hitam jelaga itu, alarm kesadaran si pemberani berbunyi.

Sontak dia tersadar kalau dia sudah kena dikerjai oleh si pembawa kabar. Kesadarannya semakin menebal manakala seiring dengan disingkapkannya lempeng batu itu serta merta aroma tidak sedap segera menghambur ke penciumannya. “An***tttt…!!!!” Pekik si pemberani seraya melompat menjauhi benda mirip pisang busuk itu.

Kami yang berada di belakangnya ikut terkejut sekaligus bingung. Ada apa? Katanya berani kok sekarang malah kabur. Rasa penasaran kami mendorong untuk lebih mendekati benda yang katanya pacet raksasa itu. Saat saya amati, astaga. Saya dan kawan-kawan yang lain telah menyadari kalau sudah ikut dikelabui. Kami pun teriak sama kerasnya dengan si pemberani.

Kami langsung balik badan. Sekarang kami tahu harus bertindak apa. Tanpa dikomandoi lagi, kami sepakat mengganti obyek sasaran buruan kami. Kali ini kawan-kawan termasuk saya sudah tidak tertarik lagi memburu pacet. Karena sudah ada buruan lain yang lebih pantas diberi pelajaran. Dia adalah si pembawa kabar yang bilang ada pacet raksasa padahal tokai kering.

Tak pelak pagi itu kami mengejar si pembawa kabar yang sambil terpingkal-pingkal telah menghambur menjauhi kami. Sialan !

Komentar

Scroll Up