(Selow.co): Dosbing atau dosen pembimbing kadang bikin rindu tapi lebih sering nyebelin. Huhhh…!

Tuhan memang adil. Ciptain makhluknya berpasang-pasangan atau paling tidak saling melengkapi satu sama lain. Ada hitam, dibuat juga warna putih. Ada dosen yang mengajar, ada juga mahasiswa yang dihajar, eh dididik.

Kalau kedua belah pihak yang memang berbeda itu bisa memahami garisan kodratnya masing-masing, tentu semua bakal berjalan mulus. Sama halnya seperti kancing yang harus rela sedikit dimiringkan supaya bisa lolos ke lubang kancing di baju. Sebaliknya lubang kancing kudu ikhlas dikuak melebar buat kasih jalan kancing biar bisa melenggang. Klop kan? Yupz.

Sebaliknya, ceritanya bakal berabe jauh dari harmonis kalau pihak-pihak yang harusnya bisa berdamai malah saling keukeh dengan egonya masing-masing. Pasti nggak pernah bisa nyicipin suasana seperti yang dibilang oleh sebuah ungkapan bahwa damai itu indah.

Bahkan walau ada salah satu pihak yang sudah mau kompromi sekalipun, tapi pihak sebelahnya masih juga manteng nggak mau ngerespon, ya hasilnya tetap juga bakal menemui jalan buntu. Runyam, kan?

Intinya memang harus ada kesepahaman. Satu persepsi. Nggak boleh ada salah satu pihak yang punya penafsiran sendiri, karena bisa bikin komunikasi jadi tidak nyambung.

Nah, cerita terakhir ini yang biasanya sering banget ditemui sama mahasiswa yang lagi (harus) rajin nemuin dosbing. Kalau dosbing dan mahasiswa yang dibimbing sudah punya kesepakatan akan makna kata ‘sayang’ sejak awal tentu semua berjalan serasi.

Eit! Makna sayang di sini jangan dikonotasikan macam-macam ya. Sebab sayang yang dimaksud oleh dosbing diekspresikan dalam bentuk memberi bimbingan optimal supaya mahasiswanya sukses. Sedangkan si mahasiswa menunjukkan rasa sayangnya pada dosbing dengan menunjukkan sikap hormat dan penuh penghargaan pada si maha guru tersebut. Cucok kan.

Lagi pula siapa juga yang nggak mau disayang sama dosbing. Kalau saya pribadi sih jelas mau lah. Karena bisa dipastikan bakal diganjar nilai A. Yah, seminim-minimnya nilai B sudah di tangan.

Tapi yang bikin saya heran, kok masih banyak mahasiswa yang mengeluh kalau disayang atau bahkan sangat disayangi dosbing. Lho, kok bisa? Ini jelas fenomena aneh.

Terdorong rasa penasaran, saya lalu melakukan investigasi kecil-kecilan. Usut punya usut akhirnya saya bisa menarik benang merah kesimpulan. Ternyata telah terjadi miskomunikasi di antara kedua belah pihak saat memaknai kata ‘sayang’ tadi. Terutama kesalahpahaman di pihak dosbing.

Saking sayangnya tidak sedikit dosbing yang seakan nggak rela cepat-cepat memberi nilai pada mahasiswa bimbingannya. Seolah ingin selalu merawat kebersamaan itu, ada saja jurus yang dikeluarkan.
Mulai dari melancarkan manuver ngumpet hingga ke lubang semut, sampai mengeluarkan jurus pamungkas arogan.

Sebenarnya cukup dikeluarin jurus ngumpet saja kondisi mahasiswa bimbingan sudah sukses dibikin kelimpungan. Gimana nggak puyeng kalau harus bolak-balik ke ruang bimbingan cuma untuk nyari dosbing yang hobi main petak umpet.

Kok ada ya stereotip dosbing kayak gitu. Apa dia nggak ngerti kalau frekuensi mahasiswa bolak-balik ke ruangannya sudah melebihi kuantitas ngapel yang wajar bahkan untuk ukuran sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara sekalipun.

Edan, kalau sayangnya kayak begini,  saya juga ogah, deh! Bisa jadi sepuh di kampus saya dibuatnya. Sekarang saya jadi semakin mengerti kenapa ada mahasiswa yang sampai puasa Senin-Kamis, sambil meminta pada Allah agar tidak dipertemukan dengan dosbing yang ekstra sayang padanya.

Dulu, sewaktu masih Maba (mahasiswa baru), tak jarang saya suka kasihan kalau lihat kakak tingkat yang raut wajahnya kusut kayak baju yang kegesek-gesek ke jok mobil saat sedang perjalanan antarkota-antarprovinsi, setiap ke luar dari ruangan dosbingnya.

Sekarang saya juga sudah mulai ambil ancang-ancang untuk melakukan ritual yang sama dengan mereka. Nanti kalau sudah dekat skedul pembagian dosbing, saya bertekad mau puasa Senin-Kamis, malah bila perlu puasanya ditambahin kayak laku puasa Nabi Daud, selang-seling sehari puasa sehari libur. Semua demi ratapan saya dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa Sang Maha Pembolak-balik Hati Manusia.

Sampai akhirnya momen yang ditunggu dengan penuh harap-harap cemas itu datang juga. Sekarang saya merasakan langsung menjadi Maba. Lho kok Maba lagi? Iya Maba alias mahasiswa babak akhir.

Herannya sekarang saya seperti kena kualat atau menelan karma buruk atas perilaku di masa lampau yang suka kasihan berlebihan sama kakak tingkat yang sedang ngelakoni siksaan, eh bimbingan, dari dosbing.

Kini dosbing saya juga doyan main petak umpet. Saking demennya sampai saya butuh tiga hari tiga malam untuk bisa temuin beliau hanya sekadar buat minta tanda tangannya.

Jangan cepat kasihan dulu. Karena itu belum seberapa. Masih ada perilaku lain dari dosbing saya yang nggak kalah bikin nyesek. Ya, di-PHP-in. Iya benar, PHP yang akronim dari Pemberi Harapan Palsu itu.

PHP ini dimulai dengan keluarnya omongan dari mulut si dosbing tentang waktu bimbingan. Biasanya dosbing bilang bisa kasih bimbingan pada hari ini jam segini. Eh, giliran didatengin ke ruangannya dosbing bilang, “Nanti ya, saya lupa kalau ada jam ngajar. Saya mau ngajar dulu. Kamu tunggu aja.”

Ya sudah ditunggu. Nunggu sejam masih tenang, masuk 2 jam mulai gelisah. Sampai akhirnya nunggu berjam-jam si doi, eh dosbing, nggak muncul juga. Sampai akhirnya masuk pesan pendek dari beliau. “Bimbingannya besok saja, ya. Saya masih ada urusan.”

Yaelah, gimana coba. Kalau dibilang gedek ya jelas kesal, lha saya kan manusia dan kalau muncul rasa kesel itu kan manusiawi. Huh….kalau nggak tahan diri kepingin rasanya ngegaruk tembok! Tapi apalah daya. Untungnya sebagai manusia saya masih punya akal sehat. Dalam hati saya bilang, yang waras ngalah, deh. Dan saya yang mengalah.

Keesokan harinya saya datang lagi ke ruangan dosbing. Alhamdulillah yang dituju ada di kursinya. Sekilas si dosbing mengangkat wajahnya dan tatapan kami bertumbuk. Tapi belum lagi saya buka mulut, dosbing mendadak bangkit dari duduknya sambil memberesi kertas-kertas di meja. “Nanti aja ya. Saya sedang tidak terima mahasiswa bimbingan. Saya lagi urus keperluan penting,” ucapnya enteng sambil berlalu.

Dengan wajah melongo (lagi-lagi) dalam hati saya mencoba mengulang kembali ucapan dosbing itu ‘ada urusan penting’. Ups! Berarti saya nggak penting buat diurusin? Oawalah…!!! Dosa apa yang sudah saya perbuat dimasa lalu sampai dikasih dosbing PHP begini?

Cling!…sejurus kemudian tiba-tiba saya teringat. Apa kemarin saat mendekati waktu pembagian dosbing saya sudah menjalankan niatan untuk puasa? Apa puasa, memang saya pernah janji mau puasa?! (*)

Komentar

Scroll Up