(Selow.co): Saya tahu persis bagaimana rasa dikejar gelombang tinggi, tenggelam dan terantuk benda keras, sampai mesti kehilangan orang yang dicinta tanpa sempat melihat wajahnya, meski untuk yang terakhir kali.

Saat mendapati Kalianda, Lampung Selatan, diterjang tsunami (Sabtu, 22/12/2018), ingatan saya mendadak melayang ke peristiwa di tanah kelahiran saya tepat 14 tahun silam.

Pagi itu, Minggu (26 Desember 2004), tidak ada tanda akan terjadi hal besar yang bakal merubah wajah Aceh sepenuhnya. Saya yang berumur 14 tahun hanya tahu pada hari itu akan ada tasyakuran pindahan rumah paman yang terletak di bibir pantai Pelabuhan Lampulo, Banda Aceh.

Seingat saya seusai shalat subuh, ayah mengajak kami untuk pergi ke rumah paman. Namun ibu menolaknya. Bukan karena tak berkenan. Tapi ia ingin membuat kue terlebih dahulu.

“Tak elok bertandang dengan tangan kosong,” ujarnya kepada ayah. “Nanti jam 10 baru saya menyusul,” imbuh ibu. Akhirnya disepakati saya berangkat bersama ayah, sedangkan adik saya Habibur dan Cut Rizki tetap tinggal di rumah menemani ibu.

Saya yang sudah bersiap menemani ayah ikut mendengarkan ucapan ibu. Namun tak pernah terbayang di benak saya kalau itu merupakan pertemuan kami untuk yang terakhir.

Tanpa firasat apa pun ayah dan saya melaju ke rumah paman. Tak berselang lama setiba di tujuan, ayah segera pamit hendak pergi ke tempat kerja. Sedangkan saya tinggal di rumah paman dan langsung menenggelamkan diri dengan tontonan di layar kaca.

Namun ketenangan di pagi itu tidak bertahan lama. Tepat pukul 06.30 WIB, saat saya sedang khusuk menonton, tiba-tiba lantai yang saya pijak terasa gegar. Lampu di rumah paman bergoyang kencang dan beberapa barang yang digantung di dinding berjatuhan. Gempa!

Tak pelak seisi rumah histeris. Dituntun naluri semua berhamburan ke pekarangan. Sebelumnya tak pernah saya temui situasi sekalud itu. Saya lihat para tetangga paman berlarian kocar-kacir.

Beberapa rumah malah sudah doyong nyaris ambruk. Cukup lama kepanikan menggedor kesadaran saya. Di bawah alam sadar saya hanya bisa mengikuti gerak paman yang memberi komando untuk menuju area terbuka.

Untungnya, suasana yang menggetarkan itu akhirnya berakhir. Usai mengamati keadaan dan meyakini tidak akan ada gempa susulan, beberapa warga beringsut kembali ke rumahnya masing-masing. Paman pun membawa kami masuk rumah.

Saat memasuki kediaman baru paman, saya melihat kondisi isi rumah sudah berantakan. Televisi yang sebelumnya saya tonton sudah tergolek miris di lantai.

Saya yang ingin membereskan serakan barang-barang langsung dilarang paman. Ia justru meminta kami tetap berkumpul di ruang tamu. Untuk sesaat saya mematuhi perintahnya. Kami pun berhimpun saling berdekatan.

Paman dan bibi bahkan memeluk kedua buah hati mereka Mona (6 tahun) dan Dian (9 tahun). Sedangkan seorang lagi adalah makbit atau saudara saya bernama Fitri yang bersekolah di SMA. Ia juga terlihat terpekur dengan wajah pucat duduk di dekat bibi.

Anehnya, disaat yang lain sedang berusaha menenangkan diri, saya malah merasa lapar luar biasa. Karena tak kuat menahannya, saya izin pada paman untuk makan.

Sebuah anggukan kecil menjadi isyarat bagi saya untuk merangsek ke dapur. Entah akibat lemas usai dikejutkan gempa atau ketempelan ‘jin tanah’ yang mungkin baru keluar ditandai dengan gempa, yang jelas saya begitu kerasukan melahap nasi hingga tandas dua piring dalam sekejap.

Belakangan saya menduga, jangan-jangan perilaku saya itu tak ubahnya isyarat alam agar perut saya terisi stok cukup memadai. Sebab, selama empat hari kemudian, saya tidak akan bertemu nasi.

Usai memberi umpan cacing di perut saya hendak bergabung kembali bersama paman dan keluarga. Tapi belum sampai langkah mendekat sontak terdengar teriakan panik dari luar. “Air laut naikkkk….air laut naikkkk!!!!!”

Mendengar teriakan itu paman bangkit dan menghambur ke luar untuk mengecek. Saya mengikutinya ingin tahu. Ternyata yang teriak adalah beberapa warga yang lari terbirit-birit menjauhi pantai.

Rupanya usai gempa tadi mereka melihat air di pantai surut sampai jauh menjorok ke laut. Mereka tergiur memunguti ikan-ikan yang menggelepar di hamparan dasar laut yang surut. Ketika itulah mereka melihat gundukan ombak tinggi di kejauhan meluncur ke arah pantai.

Mendengar cerita sekilas tetangga itu saya sempat menyesali diri. Andai tadi tahu ada banyak ikan di pantai saya pasti sudah ikut bersama mereka. Tapi dasar bukan rezeki, pikir saya.

Berbeda halnya dengan pikiran paman. Ia justru menangkap sinyalemen bahaya. Sadar ancaman air laut akan segera datang ia kembali masuk rumah. Saya yang masih terperangah sontak mengikuti langkahnya.

Ternyata paman langsung mengajak kami untuk segera ke luar. Sambil menggendong Mona ia memimpin kami untuk menyelamatkan diri. Sedangkan saya spontan menggamit tangan Dian sebelum ikut menghambur ke luar.

Di depan rumah paman, saya melihat warga berlarian lintang pukang menjauhi pantai. Suasana begitu panik dan mencekam. Suara teriakan terdengar dimana-mana. Sepintas saya masih melihat sosok paman dan anak bungsunya berlari di depan disusul Makbit Fitri. Sedangkan saya dan Dian serta bibi mencoba menyusul.

Sialnya, begitu banyak orang berebut lari di jalan itu. Pandangan saya terhalang dan saat di persimpangan saya tidak bisa lagi melihat keberadaan paman. Celakanya lagi saya baru kali pertama ke daerah ini sehingga tidak mengenali lingkungannya.

Di tengah kebingungan itu saya memilih belok ke kanan. Bibi dan Dian spontan mengikuti langkah saya. Maka terpisahlah kami dengan rombongan kecil paman, Mona dan Makbit Fitri yang ternyata berlari ke belokan kiri.

Setelah beberapa jarak terus berlari mendadak badan saya terasa lemas saat mendapati hamparan rawa terbentang di depan. Dengan spontanitas yang masih tersisa saya menoleh ke belakang. Astaga, ombak tinggi bergulung tengah menguntit kami. Dian dan bibi tampak sangat panik.

Dalam kepasrahan saya sempat berpikir untuk berlari terus ke arah rawa, karena sangat tidak mungkin putar balik yang sama artinya menyerahkan diri pada gulungan ombak tinggi.

Untungnya pada saat kritis itu saya sempat menyadari ada pagar tembok yang cukup tinggi di sisi jalan. Spontan saya bawa bibi dan Dian ke sana. Saya angkat tubuh Dian ke atas tembok lalu saya menyusul. Saya berharap bibi bisa berupaya sendiri menaiki pagar itu.

Sedetik kemudian saya melihat ada atap bangunan dari seng di dekat tembok. Naluri saya memerintahkan saya untuk membawa Dian dan bibi naik ke atap itu. Saya lalu menggendong Dian dan berupaya menjangkaunya.

Tapi takdir berkehendak lain. Dengan Dian berada dalam gendongan membuat jangkauan tangan saya tidak bisa leluasa menyentuh atap seng. Walau saya terus menggapai tapi itu sia-sia saja, malah jari-jari saya sobek teriris tajamnya seng.

Pada saat itulah saya terduduk lemas di atas pagar tembok. Dian masih saya dekap, dan saat saya tengok ternyata bibi masih di bawah pagar tembok. Rupanya ia gagal memanjat. Saya terduduk lemas pasrah tak berdaya.

Percikan ombak sudah mulai membasahi badan saya. Saya kuatkan dekapan ke Dian. Ombak tinggi datang dan saya cuma bisa mengucap La Ilaha Illallah menyerahkan diri pada Yang Kuasa bersamaan dengan ombak menumbur badan saya dan Dian.

Ketika gelombang pertama melabrak saya masih dalam keadaan sadar. Terpaan ombak terasa kuat mendorong dan membuat saya ikut tersapu deras air laut berwarna cokelat kehitaman. Dalam ketidakberdayaan tangan saya masih berupaya menggapai apa pun agar tidak tenggelam.

Tak dinyana ada sebuah benda berukuran cukup besar yang terbawa hanyut. Spontan saya menggapainya supaya saya tetap bisa mengangkat kepala ke atas permukaan air untuk bernapas. Ternyata benda yang saya pegang adalah pinggiran spring bed. Untuk sesaat saya hanyut sambil berpegangan di sana.

Dalam kondisi serba gelagapan saya sempat melihat ada cukup banyak orang berwajah pucat dengan ekspresi panik di atas spring bed. Rupanya mereka menjadikan tempat tidur ini tak ubahnya rakit untuk menyelamatkan diri.

Saya tak kuasa mengeluarkan suara untuk memohon pertolongan. Konsentrasi saya terfokus menguatkan cengkeraman ke ujung spring bed. Namun belum lama saya bertahan, mendadak ekor mata saya melihat benda gelap meluncur deras di atas pernukaan air dan itu berarti persis di dekat kepala saya yang menyembul di antara gulungan ombak.

Sejurus kemudian benda yang ternyata sebatang pohon hanyut itu sudah melabrak dada saya tanpa ampun. Gedebuk, saya langsung sukses tak sadarkan diri.

Allah Maha Besar, entah apa yang terjadi sebelumnya, namun saat mata saya terbuka kembali saya melihat matahari sudah berada persis di atas ubun-ubun kepala. Dalam kondisi baru siuman seperti itu saya sempat berpikir apakah saya sudah berada di neraka dan akan segera di panggang di bawah terik matahari, atau mungkin sebaliknya telah dimasukkan ke surga, karena saya tak merasakan lagi gulungan ombak besar.

Namun saya segera mengerti kalau kedua jawaban itu salah. Saat melihat ada atap-atap rumah saya memastikan nyawa saya belum minggat dari raganya. Saya masih hidup. Rupanya ombak besar sudah berlalu dan kini tinggal tersisa genangannya yang merendam daratan hingga ke atap rumah warga. Saya juga terkejut saat mendapati sedang mendekap bantal busa. Kiranya benda penyelamat ini yang telah membuat saya tidak tenggelam.

Tapi siapa yang telah memberikan bantal busa itu kepada saya? bukankah tadi sebelum pingsan saya tidak melihat ada bantal busa. Entahlah, badan dan otak saya terlalu letih untuk mencari tahu jawabannya.

Yang jelas dengan posisi badan masih terendam dan hanya kepala yang berada di atas permukaan air membuat sekujur badan saya terasa remuk. Dengan lunglai saya mencoba menggapai sebatang pohon yang terapung di dekat saya.

Seraya mengandalkan tenaga yang tersisa, saya berupaya naik ke atas batang itu. Berhasil. Tapi saya tidak bisa rebahan dan hanya bisa duduk dengan kaki menjuntai ke dalam air.

Dalam kondisi pikiran kosong saya sempat merasakan kaki saya menyentuh benda keras tapi ada semacam benang halus. Saya menengoknya dan secara reflek mengangkatnya. Alangkah terkejutnya saya saat mengetahui  ternyata benda itu kepala bibi yang sudah setengah sadar.

Makin terkejut saya saat melihat bibi sedang memeluk Dian yang tadi terpisah dari saya saat diterjang gulungan ombak. Saya angkat mereka berdua ke atas batang besar yang saya duduki. Alhamdulillah,  bibi segera sadar dan Dian yang pingsan akhirnya siuman.

Untungnya batang pohon yang kami duduki menyangkut ke batang-batang pohon lainnya yang sama-sama terbawa hanyut gelombang besar. Dengan demikian posisi batangnya relatif stabil untuk diduduki kami bertiga.

Di saat sedang mengamati kondisi, kami merasa permukaan air seperti naik kembali. “Apakah akan ada gelombang besar susulan?” pikir saya. Tak ingin menanggung resiko tenggelam lagi saya berusaha memutar otak mencari tempat yang lebih tinggi.

Kebetulan batang pohon yang kami tumpangi menyangkut ke pohon yang lebih besar dengan dahannya menjulang ke atas. Dahan itu rimbun oleh dedaunan, sehingga saya harus mendekati untuk memastikan dahannya cukup kokoh menopang tubuh kami bertiga.

Tak diduga, ternyata dahan itu sudah ada penghuninya. Saya melihat seorang remaja perempuan dengan wajah pucat sedang memeluk erat dahan. Namun ada yang ganjil pada tampilannya. Ternyata (maaf) ia tidak mengenakan pakaian. Yang tersisa di tubuhnya hanya celana dalam.

Saya segera turun dan mengamati permukaan air. Ada banyak benda-benda hanyut di sana. Sampai kemudian saya berhasil menjangkau sebuah benda yang saya kira pakaian wanita. Ternyata sebuah daster yang jauh dari kata keren dan
entah hanyut dari toko pakaian mana. Saya julurkan daster itu pada si gadis yang dengan lunglai menyambut dan mengenakannya.

Awalnya perempuan itu tidak ingin turun dari pucuk dahan. Namun setelah diyakini bibi bahwa tak ada gelombang besar lagi, ia baru bersedia turun lalu menangis sejadi-jadinya di pelukan bibi. Belakangan saya tahu gadis itu bernama Cindi, mahasiswi Unsyiah.

Sesungguhnya kami tidak hanya berempat saja, karena masih ada warga lain bernasib seperti kami di sekitar lokasi itu. Mereka hanya terduduk lesu dengan tatapan kosong.

Selang beberapa jam kemudian permukaan air menyusut, namun ketinggiannya masih lebih dari 1 meter. Saya lantas mengajak bibi, Dian dan Cindi untuk turun mencari tempat lebih aman.

Setelah turun dari batang pohon, saya berjalan di depan sambil menjunjung Dian di atas bahu. Sedangkan bibi dan Cindi berada di sisi kiri dan kanan saya. Berjam-jam lamanya kami melewati genangan air bekas tsunami.

Setelah berjalan tersaruk-saruk kami tiba di depan Taman Ratu Syafiatuddin, yang sekarang menjadi lokasi Pekan Kebudayaan Aceh (PKA). Kendati terkena tsunami namun lokasi tersebut tidak sampai rusak parah dan genangan airnya hanya sampai lutut.

Setiba di sana, saya meminta izin pada bibi untuk pulang sendiri mencari ibu di Kajhu, Aceh Besar. Saya tak bisa mengajak mereka karena saya pikir mereka lebih aman di tempat itu, selain juga bila mereka ikut justru akan memperlambat pergerakan saya.

Usai mendapat restu, saya berjalan perlahan. Pada saat itulah baru disadari ternyata telapak kaki saya cidera koyak tertancap duri tajam ikan laut yang ikut terbawa arus tsunami. Saya tak memerdulikannya, hingga tiba di Jembatan Krueng Cut, sebuah jembatan terpanjang di Banda Aceh yang memisahkan Kodya Banda Aceh dan Aceh Besar.

Dari sana saya menyapukan pandangan. Sejauh mata memandang tak ada satu bangunan pun yang masih berdiri utuh, selain puing-puing bangunan masjid yang masih terlihat sedikit berbentuk.

Menyaksikan kehancuran luluh lantak seperti itu saya diam seribu bahasa. Pikiran saya berkecamuk antara berharap masih bisa menemui ibu dan rasa putus asa yang menggelayut.

Saat sedang termenung itu, seorang nelayan dengan sampan kecilnya menghampiri saya.
“Mau kemana, Dek?”
“Mau pulang ke Kajhu, pengen ketemu ibu,” jawab saya polos.

Pria itu menghembuskan nafas panjang kemudian berucap, “Tidak ada yang tersisa di Kajhu. Jika ingin tahu apakah ada keluargamu yang selamat, kamu bisa ke Darussalam. Ada posko pengungsian di Masjid Jami’ Darussalam, Komplek Kampus Unsyiah,” jelasnya.

Ibu dan adik perempuan (saling berdekatan) tak pernah dijumpai lagi pascatsunami.

Disisa tenaga yang saya miliki, saya mencoba meniti langkah menuju Masjid Jami’ Darussalam. Setelah sampai, saya bertanya pada seorang anggota tim SAR tentang keberadaan para pengungsi korban tsunami. Tapi petugas itu justru mengkhawatirkan kondisi saya yang lemah. Ia malah menyarankan agar saya istirahat sejenak dan baru mencari ibu.

Saya yang merasa sudah kehabisan tenaga mengikuti sarannya. Ia mengarahkan saya untuk istirahat di dalam masjid. Namun saat melongok lewat pintu masjid, saya lihat sudah ada begitu banyak pengungsi di dalam. Sebagian besar dari mereka terluka. Saya merasa tak mungkin untuk istirahat di sana.

Akhirnya saya memilih tidur di halaman masjid, karena saya lihat sudah banyak juga orang yang rebahan di sana. Saat saya rebah berjajar seperti yang lainnya, luka di telapak kaki saya kembali terasa perih. Untungnya rasa lelah dan kantuk segera membekap. Saya memilih segera tidur seperti orang di samping saya.

Namun rasanya baru sebentar terlelap, mendadak saya merasakan perih teramat sangat. Sambil masih memejamkan mata saya merasa-rasa dari mana datangnya rasa sakit itu. Saat saya sedang mendeteksi sumbernya, tiba-tiba kedua kaki saya ada yang mencengkeram. Mendadak rasa nyeri dari kaki menjalar.

Saya spontan membelalakkan mata dan melihat ada dua orang berseragam orange sedang memegangi kedua kaki saya. Sedangkan seorang lagi berdiri tak jauh dari kedua rekannya sambil memegang kantong panjang berwarna hitam.

“Oalah. Sedang apa mereka?” saya tergeragap dan langsung duduk bangkit dari rebah. Tak pelak ketiga orang itu pun ikut terkejut. Bahkan salah seorang dari mereka sampai melompat ke belakang.

Rupanya saya salah memilih tempat istirahat. Jejeran orang yang saya anggap sedang tidur itu tiada lain mayat korban tsunami yang sudah dievakuasi. Tidak salah kalau ketiga anggota relawan tadi menganggap saya sebagai jenazah.

Tanpa banyak cakap saya berlalu meninggalkan ketiga orang itu yang masih terbengong-bengong. Huh! nyaris saja saya menjadi penghuni kuburan massal.

Malam itu saya tak bisa tidur lagi, dan memutuskan untuk menyusuri setiap inci dari masjid. Saya berharap bisa menemukan ibu dan adik-adik saya. Namun hingga pagi usaha saya tak membuahkan hasil.

Dengan langkah terpincang-pincang saya menuju pinggir jalan. Di sana saya mengamati orang-orang yang hilir mudik. Saya masih berharap dapat melihat orang tua atau saudara. Hingga sebuah suara memecah keheningan.

“Cuuut, aku lihat adek kamu selamat. Dia di pengungsian Ponpes Abu Madinah, Cot Keueng,” teriak Nazar, teman sekelas saya di SMPN 1 Kajhu. Sedangkan Cut adalah panggilan sehari-hari saya.

Berbekal informasi tersebut saya menaruh harapan besar akan berjumpa sanak keluarga di sana. Hanya saja untuk sampai ke sana memakan waktu tak kurang 2 jam dengan berkendara. Sedangkan kaki saya masih terasa nyeri dan tenaga juga belum pulih.

Hari kedua tsunami berlalu begitu saja. Saya memutuskan untuk meneruskan pencarian di lingkungan masjid, hingga saya akhirnya bertemu ayah. Senang bukan kepalang rasanya. Saya pun langsung memberi tahu kabar keberadaan adik di lokasi pengungsian Ponpes Abu Madinah.

Dengan mempertimbangkan kondisi saya, ayah memutuskan baru akan mendatangi ponpes esok hari. Sedangkan hari itu ayah mengajak saya ke Ketapang. Ternyata ayah sudah peroleh kabar keberadaan paman, bibi dan Dian di sana.  Namun nyawa Mona, adik Dian, tidak dapat diselamatkan. Sedangkan Kakak Fitri belum diketahui keberadaannya.

Di sisi lain keinginan saya untuk segera menemui adik yang bernama Habibur di pengungsian semakin menggebu. Akhirnya lepas subuh kami berangkat ke Ponpes Abu Madinah dan menemukan Habibur. Tapi ibu dan adik perempuan saya tidak berada di sana dan tidak pula diketahui keberadaannya.

Selama sebulan pascatsunami kami terus mencari keberadaan kedua orang yang kami sayangi itu. Namun jangankan berjumpa, informasi keberadaan mereka pun tak kami dengar. Hingga kemudian kami memasrahkan semua pada kehendak Allah SWT.

Hingga kini saya hijrah ke Bandarlampung, saya tak pernah lagi bertemu ibu dan adik perempuan saya. Entah bagaimana nasibnya, mungkin Allah sudah mengurus mereka. (*Korban tsunami Aceh, kini jurnalis suratkabar harian Lentera Swara Lampung)

Komentar

Scroll Up