(Selow.co): Apa yang terlintas saat mendengar kata SPG. Pasti langsung membayangkan sekumpulan cewek dengan tampilan kinyis-kinyis. Sambil pakai seragam rok yang satu sama lain seolah adu tinggi melewati lutut?

Saya kasih tahu aja nih. Nggak semua casing sales promotion girl kayak begitu. Karena saya sendiri pernah menjalani profesi itu. Tapi saya juga nggak terlalu paham apakah ketika itu gawean saya pantas diembel-embeli sebagai SPG atau hanya sebatas penjaga stand kopi di Lampung Fair kemarin. Entahlah, saya nggak terlalu memusingkan status.

Terlebih, side job itu juga saya peroleh karena nepotisme. Hehehe… kebetulan owner merk dagang kopi yang saya jajakan masih paman sendiri. Jadi dari pada bayar SPG profesional yang pasti gajinya mahal, mendingan saya yang diberdayakan.

Ups! keceplosan. Tapi nggak tahu jugalah. Aduh kenapa justru baru kepikiran sekarang. Jangan-jangan memang benar begitu motivasi paman melibatkan saya. Weleh, perlu diklarifikasi ini. Sebab nggak boleh ada dusta di antara paman sama keponakannya.

Tapi apa pun ceritanya, pengalaman kemarin tuh memang mengesankan. Setidaknya saya jadi tahu bahwa untuk jadi SPG tuh dibutuhkan ketebalan hati yang ekstra. Malah kalau bisa memang jangan sampai main hati kalau lagi dagang. Sebab, hampir bisa dipastikan bakal terluka. Iya beneran. Bisa luka dalam.

Gimana nggak. Kemarin tuh saya lebih dari seminggu jaga stand yang dilabeli ‘Lamban Kopi’. Kebetulan standnya berada di salah satu anjungan milik pemerintah kabupaten yang reputasi kopinya sudah kondang. Sungguh pemilihan lokasi dagang yang bisa dibilang tepat memang. Buktinya banyak pengunjung pameran yang singgah.

Wuih, kebanjiran rezeki dong. Belum tentu. Jangan buru-buru fitnah. Kan sudah dibilang, letak standnya di anjungan pemkab. Jadi yang masuk ke sana tujuannya nggak mutlak untuk ke stand kami. Beda kalau stand kopinya berada di jajaran stand komersial lainnya. Tempat khusus. Pasti pengunjung yang masuk ke sana memang ada minat terhadap kopi.

Tapi malang tak bisa ditolak. Alhasil, ada berbagai corak watak pengunjung yang nyamper ke stand kami. Mulai dari emak-emak yang datang dengan pasukan bocah-bocahnya. Yang masuk cuma celingak-celinguk lalu bergeser ke sana ke mari terus ke luar lagi tanpa mengucap sepatah kata pun.

Padahal semenjak awal saya sudah pasang muka nyengir seramah mungkin menyambut mereka, sambil mempersiapkan diri untuk menerima jawaban dan memberi jawaban meyakinkan. Tapi nyatanya malah dikacangin. Duh, tuh rombongan keluarga kayaknya salah masuk kamar deh, eh…stand.

Itu baru satu contoh. Pernah juga saya disambangi sama ABG-ABG yang super lincah. Ternyata cowok-cowok itu khas anak jaman now yang lagi kesengsem ngevlog. Mereka ngajak saya ngevlog bareng. Lantaran sudah bagian dari tugas buat melayani pengunjung seramah mungkin, saya pun mengangguk sambil nyengir. Rombongan remaja tanggung itu pun girang.

Tak pelak, setelah kamera disetel on, pembawaan cowok-cowok itu sontak berubah drastis. Gaya ngomongnya jadi kayak rapper. Terus bolak-balik pakai bilang yo….yo…. Saya cuma mesam-mesem sambil sesekali menjawab pertanyaan mereka, selebihnya berasa serba salah sendiri.

Sempat terlintas di pikiran kalau ibu tadi beserta rombongannya sampai melihat tingkahku ini, boleh jadi dia bakal nyeletuk. “Gimana Mbak rasanya ada di tempat yang salah?” Duh…!

Itu mungkin belum seberapa nyesek. Sebab berikutnya saya benar-benar merasa nyesek. Usai ngevlog anak-anak gaul itu cuma bilang thanks alot terus ngeloyor pergi. Pupus sudah asa saya yang sempat berharap mereka bakal beli kopi. Boro-boro beli kopi luwak, kopi dalam kemasan paling mini di stand saya pun nggak ditawar sama mereka. Nasib-nasib!

Sudah sampai segitu saja penderitaannya? Siapa bilang. Masih banyak banget kisah-kisah mengharu biru lainnya. Tapi saya sudah malas mengingat-ingat kepiluan itu. Sebab bisa berasa orang paling nyesek sedunia.

Tapi bolehlah saya bagi satu cerita menjengkelkan lainnya. Oh iya, saya juga pernah -malah kerapkali- disatroni orang-orang nggak jelas. Atau sebenarnya motivasinya jelas bagi para pengunjung itu. Memanfaatkan azas aji mumpung.

Mereka yang biasanya datang dalam rombongan kecil berisi antara tiga sampai lima orang itu, modusnya nyaris seragam. Tanya ini-itu lalu menjajal kopi tester yang memang kami sediakan gratis. Tapi begitu dipersilakan menjajal. Gaya malu-malunya serta merta sirna beralih rupa jadi agresif. Tanpa sungkan mereka langsung mengambil gelas plastik yang sudah disediakan.

Tapi kok sepertinya ada yang janggal. Saat dihitung jumlah gelasnya jauh melebihi jumlah rombongan itu. Owalah ternyata mereka sekalian ambil kopi untuk kawan-kawannya yang menunggu di luar stand.

Melihat mereka mondar-mandir tanpa beban bawain gelas plastik, mendadak saya berasa sedang jadi panitia kawinan. Cuma bisa nyengir lihat para tamu menyerbu hidangan, sambil pengen bilang; “Silakan-silakan jangan sungkan-sungkan lho. Jangan malu-malu ah kayak siapa aja. Anggap aja di rumah sendiri. Eh, Mas apa nggak sekalian kopinya dimasukkan plastik buat bekel perjalanan pulang nanti. Ini kita juga sudah siapin kantong plastiknya, kok. Ya…ya silakan. Dibuat enaknya aja….grrrzzzzttt!!!!! (*)

Komentar

Scroll Up