(Selow.co): Bener loh, masih banyak kalangan yang gentar untuk kongkow di EatBoss. Ups!

Silakan buat survei kecil-kecilan pada orang-orang terdekat kita. Apakah mereka pernah dengar tempat makan bernama EatBoss? Dari sepuluh orang yang ditanya kemungkinan besar sebagian di antaranya mengaku sudah pernah.

Terus lanjutin lagi dengan pertanyaan berikutnya. Apakah dari mereka yang pernah dengar atau malah tahu lokasi EatBoss itu, sudah pernah menjejakkan kakinya di tempat kongkow berkonsep cafe-resto tersebut?

Tak perlu kaget kalau sebagian dari yang ditanya itu lantas menggelengkan kepala, sebagai pertanda mereka belum pernah ‘nekat’ menyambangi EatBoss Lampung yang berada di Jl. Wolter Monginsidi No.43, Gotong Royong, Tj. Karang Pusat, Bandarlampung, ini.

Tapi sebelum menyikapi hasil survei kecil-kecilan tersebut, mungkin ada pembaca yang bertanya, “Emang penting ya mampir ke EatBoss? Sampai mesti gelar survei segala.’ Hayo, lho…!

Bagi sebagian khalayak mungkin nggak penting-penting banget, sedangkan bagi sebagian lain yang memang sudah familiar dengan kebiasaan nongkrong di cafe atau resto bareng kawan sekolah, kawan kuliah atau kawan kerja, atau juga kongkow bareng gebetan atau malah ngumpul bareng keluarga pada akhir pekan, tentu info semacam ini bisa menjadi referensi yang patut dipertimbangkan yang ujung-ujungnya penting juga bagi mereka.

Nah, kalau sudah sepakat bahwa info ini ada faedahnya, kita balik lagi ke hasil survei kecil-kecilan tadi.

Kenapa mereka yang sudah tahu EatBoss malah cenderung belum pernah mampir ke sana?

Seorang kawan saya berbisik, “Bro, gue rutin makan di luar bareng keluarga di akhir pekan. Tapi bujet gue kan terbatas. Nah, kalau di EatBoss, lu lihat sendiri kan tongkrongannya aja sudah mentereng begitu. Kalau gue nekat ajak keluarga ke situ ya bujet yang gue punya bakal ludes cuma buat beli aer minum doang!” tukas kawan itu.

Bagi nih kawan atau mungkin juga yang lainnya, yang sudah tahu akan EatBoss tapi masih suka merinding, bahkan buat sekadar membayangkan kongkow di situ sekalipun, agaknya EatBoss tak ubahnya wahana “Rumah Hantu” yang ada di pasar malam.

Coba sejenak bayangkan ketika kita lihat wahana rumah hantu di keriuhan pasar malam. Dari jauh pandangan dan perhatian kita sudah tersedot memperhatikannya. Tapi kita bakal bergidik untuk menghampirinya apalagi sampai disuruh masuk. Ada dorongan rasa penasaran berbaur rasa jiper yang bikin nyali sontak ciut. Duh, serba salah jadinya!

Jujur aja, awalnya saya juga punya prasangka demikian, xixixi….tapi pada satu kesempatan seorang kawan mengajak bertemu di EatBoss. “Akhirnya kesampaian juga menjejakkan kaki di sini,” pikir saya ketika itu.

Sesaat usai mendorong pintu kaca yang menjadi akses untuk masuk ke dalam, saya langsung menangkap kesan ruang bagian depan EatBoss ini memang luas menghampar. Saya juga langsung familiar dengan ruangannya yang cozy itu. Apalagi sambutan karyawan di sana begitu hangat tapi tidak lebay.

Pandangan pertama yang mengesankan.

Ternyata, kawan saya yang sudah lebih dahulu datang, telah menunggu di bagian smoking area. Saya pun melintasi ruangan ini sambil tetap menyapukan pandangan ke sekeliling. “Nih, cafe interiornya mengusung konsep kekinian tapi nggak berlebihan. Nggak norak!”

Saya juga mendapati deretan anak tangga di sisi kiri sudut ruangan. Saya tertarik untuk melongok ke atas. Tapi nanti, deh. Pas balik nanti saja.

Langkah saya kemudian arahkan ke sisi berseberangan dengan tangga. Sebuah pintu terkuak menuju bagian belakang. Benar saja, kawan saya sudah berada di sana. Dia duduk di sebuah meja di antara jejeran meja kursi lainnya.

Wow, suasana di sini tak kalah asyiknya dengan kondisi di dalam tadi. Lagi-lagi saya melemparkan pandangan ke berbagai arah, hingga tertumbuk lama mengamati lahan parkir yang luas.

Spot mural jadi sentuhan tersendiri.

EatBoss ini bukan cuma bangunannya saja yang mentereng, tapi lahan parkirnya pun berlimpah ruah. Padahal, saat memarkirkan kendaraan tadi, lahan parkir di bagian depan sudah begitu lapang.

“Kenapa, parkirannya luas, ya?” sergah kawan saya saat melihat pandangan saya masih tertuju ke lahan parkir. “Kalau komunitas mobil atau motor lu mau gelar even out door di situ, dikasih gratisan sama EatBoss, Bro,” sergahnya.
“Oh ya?”
“Yupz!”

Kawan saya yang sepertinya sudah rajin nongkrong di EatBoss menambahkan, di sini selain bisa kongkow ngobrol bareng kawan, juga bisa dipakai sambil mengerjakan tugas kampus atau kantor sekalipun karena ada dukungan WiFi memadai.

“Lu tengok ke sebelah kanan itu,” pintanya lagi. Saya pun mengikuti sarannya.
“Lu tetep bisa berlama-lama di sini tanpa bingung mesti salat dimana. Ada mushola di sana. Cakep nggak?” selorohnya. Saya menimpalinya dengan senyuman. Kawan saya ini modern tapi tetap ingat Tuhan…hehehe. Inspiratif.

Ruangan luas nan cozy terhindar dari kesumpekan.

Sampailah pada momen untuk membuktikan kengerian saya dan mungkin pula mewakili kekhawatiran banyak orang lainnya, seputar harga sajian di EatBoss.

Sebuah buku menu tergeletak di hadapan saya. Ada ratusan item pilihan di sana. Mata saya langsung menelusuri satu persatu sajian menu yang ditawarkan. Setiap kali kelar melihat foto-foto makanan atau minuman saya langsung mengecek harganya.

Walau bukan anak nongkrong tapi saya pernah juga lah beberapa kali menyambangi cafe-cafe yang katanya ngetop di Bandarlampung, dan juga beberapa di antaranya di Bandung dan Jogyakarta, dua kota yang terbilang relatif sering saya kunjungi. Ternyata harga jajanan di EatBoss nggak sesangar seperti yang dibayangkan selama ini.

Lantai dua menawarkan kesan kekinian yang asyik buat kongkow.

Bahkan, ada beberapa item menu yang harganya relatif lebih murah dibanding harga di cafe tenda sekalipun. Sebagai contoh, roti bakar peanuts butter, keju dan susu dibandrol Rp16.500 kalau dipadu dengan coffee espresso yang segelasnya Rp 14 ribu, rasanya sudah bisa jadi teman nongkrong, tuh. Harga yang masih masuk akal untuk bisa “makan dan minum layaknya seorang BOS”…hehehe.

Atau merasa kurang mantep kalau belum kena nasi? Ada nasi goreng yang dihargai Rp 17 ribu. Bila mau jajal makanan ala Italiano tersedia spaghetti sambal matah dan spaghetti aglio e Olio and Chili flakes yang cukup merogoh kocek Rp 10.500 untuk bisa memilih salah satunya.

So, harga yang ditawarkan EatBoss ternyata nggak angker juga, kan? Dalam hati saya sempat menyesali diri. Kalau tahu begini, sudah dari kemarin saya nongkrong di sini, ketimbang lantaran mau hemat lalu nyamper ke cafe-cafe alakadarnya yang ternyata tarif makan minumnya bisa dibilang sama saja dengan di EatBoss. Ini mungkin yang dibilang, mau untung malah buntung, halah!

Kelar bincang-bincang soal pekerjaan, saya dan kawan saya pun bubar barisan. Seperti ingin memenuhi rasa penasaran yang tertunda, saya mengajak dia untuk melangkah sejenak ke lantai 2 EatBoss.

Welcome to EatBoss

Usai menapaki anak tangga, saya dihadapkan pada pemandangan yang menawarkan sensasi tersendiri. Suasana cozy dan instagrammable. Benar-benar suasana yang mampu membikin pengunjung terlena. Sesuai dengan tagline EatBoss, di sini pengunjung dibikin “Eat Like a Boss”. (*)

Komentar

Scroll Up