(Selow.co): Ada banyak kerugian yang bakal dialami bangsa ini ketika makin berpaling dari agama dan Pancasila.

Wuih, serius banget pembahasannya. Yupz! Kita memang sedang menghadapi persoalan serius. Bahkan lebih genting dari sewotnya Jerinx, penggebuk drum grup punk Superman is Dead, terhadap Via Valen yang sudah dianggap gegabah koploin lagu Sunset di Tanah Anarki ciptaan mereka.

Lantas seberapa genting kondisinya kalau anak bangsa benar-benar bergeser dari orientasi agama dan Pancasila? Jawabannya ya masih seperti tadi; genting banget! Sebagai contoh bisa berdampak pada kian merebaknya pergaulan seks bebas di kalangan remaja hingga penyalahgunaan obat-obatan terlarang, dan semakin jauhnya anak muda dari nilai-nilai kebangsaan dan persatuan.

Mengapa kualitas pendidikan dan kualitas pemahaman terhadap agama serta Pancasila jadi melempem begini?

Mari kita coba menguraikannya dari sudut pandang saya yang wawasannya pas-pasan ini. Kecenderungan fenomena melorotnya orientasi agama dan Pancasila di tengah anak bangsa menurut saya berhulu dari kurikulum pendidikan. Kok bisa? Iya bisa dong.

Banyak kalangan berpendapat tren kualitas pendidikan kita saat ini cenderung mengalami penurunan. Dari hal simpel ini saja kita sudah mulai bisa memperoleh sekelumit jawaban dari pertanyaan di atas.

Sebab bukankah pendidikan agama dan Pancasila juga merupakan bagian dari kurikulum pendidikan. Kalau kualitas pendidikannya melorot, secara umum kedua poin itu juga bakal bernasib serupa.

Sekarang kita sudah mulai satu persepsi, ya? Hehe…mudah-mudahan begitu.

Coba kita tengok ke belakang sebentar. Bagaimana kurikulum di era 90-an yang memberi porsi besar terhadap pengajaran pendidikan agama serta pendidikan moral. Bagi yang pernah mengalami era itu, tentu bisa segera merasakan perbedaannya dibandingkan dengan sentuhan kurikulum sekarang. Sedangkan bagi yang belum pernah mengalaminya, melalui tulisan ini diharapkan nanti bisa ikut membedakan cita rasa kedua era tersebut.

Agama dan Pancasila sudah merupakan fondasi bagi anak bangsa di negeri ini. Melalui keduanya kita bisa belajar banyak hal. Terutama mengenai urusan moralitas. Kalau anak bangsa telah dibekali kedua hal itu semenjak awal, sangat mungkin perkara kemerosotan akhlak dan budi pekerti di tengah masyarakat kita tidak seruwet sekarang.

Tapi nyatanya kurikulum yang dijalankan sekarang bisa dibilang kurang memberi porsi yang cukup dalam membekali anak didik akan akhlak dan budi pekerti, serta jiwa Pancasilais.

Salah satu contohnya pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Materi dari pelajaran ini lebih didominasi tentang pemerintahan. Mulai dari pembahasan tentang peran presiden, MPR/DPR, serta model ideologi negara. Di sisi lain materi tentang moral atau kepancasilaan justru sangat minim atau mungkin malah terabaikan.

Sedangkan jauh sebelum kurikulum era 2000-an lahir, ada sejenis mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang diberi nama PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan), sebelumnya lagi ada mata pelajaran serupa yang bernama PMP atau Pendidikan Moral Pancasila.

Pada mata pelajaran yang disebut terakhir, perihal moral anak bangsa sangat diperhatikan. Lalu masih ditambah lagi dengan frekuensi pendidikan keagamaan yang memadai. Makin komplitlah pembekalan akhlak, budi pekerti, dan spirit Pancasila kepada anak bangsa di era itu

Namun disayangkan formulasi kurikulum tersebut justru bermetamorfosis seperti yang berlangsung di ruang-ruang kelas sekarang. Sudah tepatkah upaya itu? Rasanya masih sangat mungkin diperdebatkan.

Terebih ada wacana mata pelajaran PMP akan dihidupkan kembali.
Hal itu seperti disampaikan Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud, Supriano, pada 26 November 2018. Namun kapan kepastian waktunya sampai sekarang belum ada kejelasannya.

Jadi agaknya bukan kita saja yang sepakat akan perlunya mengevaluasi kurikulum dan pendidikan moral. Tinggal kita menunggu kapan wacana penambahan jam bagi pendidikan keagamaan diumumkan.

Percaya deh, kalau moral anak bangsa ini didasarkan pada nilai keagamaan yang kuat, NKRI akan jauh lebih baik. (*Penulis Seorang Pendidik di Kabupaten Pesawaran)

Komentar

Scroll Up