(SELOW.CO): Kemunculan fenomena Dildo membikin klimaks banyak kalangan. Uhhh!

Di tengah situasi kampanye capres yang menjengahkan, untung masih ada Rocky Gerung yang menghindarkan kita dari kedunguan akut, tiba-tiba menyeruak Dildo yang mampu memberi kepuasan bagi banyak orang.

Sabar-sabar, Dildo yang satu ini bukan dildo yang terlanjur sudah kita kenal sebelumnya, sebagai sebuah benda yang terbuat dari plastik atau karet, berbentuk seperti penis yang berfungsi sebagai pengganti penetrasi. Bukan itu yang dimaksud.

Dildo yang ini merupakan akronim nama dari pasangan capres-cawapres parodi Nurhadi-Aldo. Saya yakin semua juga sudah pada kenal dengan guyonan ala-ala Dildo lewat unggahan meme dan quete kocak nan nyelenehnya di akun Instagram @nurhadi_aldo.

Biar makin segar, saya coba kutipkan beberapa di antaranya. Misalnya yang berbunyi begini:

“Democrazy adalah tempat bersuara bagi orang-orang kaya.”

“Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak mengolok-olokkan kata ‘Assalamualaikum’ menjadi ‘Samlekom’.”

“Cara terbaik meraih mimpi adalah tidur.”

“Bangkitlah kaum penindas.”

“Jika Karl Marx memimpikan tatanan masyarakat tanpa kelas, lalu dimana kita akan belajar.”

“Selamat tidur kekasih gelapku, semoga cepat kau lupakan aku. Kekasih sejatimu takkan pernah sanggup untuk melupakanmu.”

“Jangan takut cucuku. Kau akan kutuntun dan kuseberangkan jalan menuju INDONESIA MAJU.”

“Menciptakan pengangguran sebagai lapangan pekerjaan adalah prioritas kami saat ini.”

“Orang miskin dilarang miskin.”

“Bagi Anda yang benci diri Anda sendiri, ingat Anda tidak sendiri. Karena banyak yang membenci Anda.”

Keren, kan? Banget! Makanya sejak awal kemunculan Dildo dengan selorohannya yang menggelitik dan disambut suka cita para pengikutnya atau koalisi pengusung yang mendapuk diri mereka sebagai Tronjal-tronjol Maha Asyik, banyak kalangan yang mencurigai Dildo tak ubahnya sebagai ‘boneka’ belaka.

Bukan bermaksud meremehkan intelektualitas Nurhadi yang sehari-hari menjemput rezeki sebagai pemijat, namun gerakan yang dipertontonkan fenomena Dildo ini memang terbilang sistematis dan masif. Pasti ada think tank-nya?!

Belakangan kecurigaan tersebut memang terbukti dengan terkuaknya sosok admin di balik postingan Dildo di media sosial. Konon arsitek itu bernama Edwin and team. Anehnya, Nurhadi mengaku tidak mengenal Edwin secara pribadi, selain hanya kenal lewat Facebook.

Kejanggalan lainnya, kalau boleh dibilang begitu, Nurhadi juga mengaku belum pernah bertemu Edwin, selain hanya mendengar suaranya saat mereka sedang bertelepon. “Katanya dia orang Sleman (Jogyakarta),” terang Nurhadi. “Tapi dalam waktu dekat ini, katanya juga dia mau ajak keluarganya datang menemui saya di rumah.”

(Rasa-rasanya saya pribadi punya tebakan siapa gerangan Edwin atau siapa pun dia sesungguhnya, apalagi dikatakan dia dan timnya bermarkas di Sleman. Rasa-rasanya juga ciri-ciri dan pola permainannya memiliki banyak kemiripan dengan sosok yang saya kenal itu dan..hmmm, benarkah dia?)

Terlepas benar tidaknya sang kreator bernama Edwin, yang jelas publik sudah terhibur dengan kejeniyesan dia dalam mendesain Dildo dan quete-quete nya yang sesekali seronok itu.

Kalau mau dibanding-bandingkan, menurut saya komika Raditya Dika yang katanya merupakan salah satu pelopor stand up comedy di  Indonesia tersebut, nggak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kecerdasan sekaligus kelucuan Edwin (and team) atau siapa pun nama sebenarnya.

Saking jeniyesnya, peta politik Indonesia menjelang pilpres 17 April mendatang bisa geger dibuatnya, dan diakui atau tidak itu menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi khususnya kubu Prabowo-Sandi. Lho, kok?

Lha iya, bukankah saat diwawancarai
Rosiana Silalahi dalam program Rosi di televisi Kompas beberapa waktu silam, Edwin tidak menampik kalau setingan Dildo-nya bisa menggelembungkan jumlah golput yang tidak akan memakai hak suaranya pada pilpres nanti.

Hayo, padahal angka golput saat ini diprediksi jumlahnya signifikan. Belum lagi bila angka itu ditambah dengan jumlah pemilih galau atau dalam istilah kerennya disebut swing voters.

Bahkan menurut Ketua Umum Perkumpulan Swing Voters, Adhie M Massardi, di setiap pemilu senantiasa terdapat 30 hingga 40 persen pemilih labil.

Sedangkan Direktur Eksekutif Indikator Politik, Burhanuddin Muhtadi, memperkirakan akan ada sekitar 20 persen golput pada pilpres ini. Sebagai pembanding angka golput pada pilpres 2014 mencapai 24,89 persen.

Bayangkan kalau dalam kelabilan tersebut lantas kalangan swing voters benar-benar bergabung pada koalisi Tronjal-tronjol Maha Asyik dan mendukung junjungan mereka, Dildo, sebagai presiden yang berarti tidak memilih kontestan baik 01 maupun 02, maka prediksi Edwin dimana “mainan boneka Dildo-nya” bisa menggelembungkan golput bakal sungguh-sungguh terwujud.

Kalau persepsinya demikian sudah barang tentu kondisi ini disambut riang gembira oleh pendukung pasangan nomor urut 01. Iya dong. Sebab menurut hasil sigi teranyar lembaga survei Alvara Research Center mencatat elektabilitas Jokowi – Ma’ruf masih unggul atas Prabowo – Sandiaga. Posisi elektabilitasnya  54,3 persen berbanding 35,1 persen.

Dengan mengabaikan keberadaan kaum golput, termasuk pemilih gamang yang diasumsikan ujung-ujungnya juga golput lantaran memutuskan bergabung pada koalisi Tronjal-tronjol, dan merujuk pada hasil sigi di atas maka jelas pasangan 01 berpotensi unggul pada pilpres kelak.

Skenario ini terlepas dari desas-desus yang berkembang dan mengendus adanya ‘hubungan’ antara Edwin and team yang mengusung pasangan capres-cawapres parodi nomor pijat (bukan nomor urut) 10 dengan capres-cawapres nomor urut (bukan nomor pijat) 01. Bahkan tim di belakang Nurhadi disebut-sebut juga pernah masuk dalam barisan timses Jokowi, kendati tudingan itu langsung ditepis Edwin.

Kalau begitu harapan capres-cawapres 02 pupus, donk?! Eits, jangan pesimis dulu. Bukankah panggung politik merupakan panggung sandiwara yang sesungguhnya dalam kehidupan. Dan bukankah di atas panggung sandiwara teks skenario bukan tidak mungkin berubah?

Bahkan, bukankah skenario dan peta politik tidak mustahil dapat berubah arah hanya dalam semalam atau malah lebih cepat dari itu, tentu saja dengan persyaratan sang penulis skenario (kreator) mampu meracik tema yang cukup masuk akal untuk membelokkan isi cerita.

Kemunculan Dildo dan dagelannya yang tidak bisa dipungkiri cukup menyegarkan dan mendebarkan bagi pihak yang merasa “dirugikan” hendaknya bisa dijadikan sebagai cerminan.

Kalau Edwin and team mampu menggegerkan dunia perpolitikan kita hanya dalam kurun waktu sebulan terakhir, mestinya waktu tersisa menjelang 17 April juga masih bisa memberi kesempatan untuk menjungkirbalikkan keadaan.

Tentunya (lagi-lagi) timses 02 harus lebih kreatif, inovatif dan sedikit nyeleneh asal berkelas. Biar bisa penetrasi (menerobos) stagnasi yang mungkin sedang dihadapi.

So, Dildo memang ajip, bisa bikin semua keringetan!  (*)

Komentar

Scroll Up