(Selow.co): Tidak pernah terbayang oleh saya sebelumnya bisa menghafal Alquran. Apalagi saya hanya anak muda biasa yang masih doyan main game dan kongkow di warkop. Saya juga masih kerap menyusahkan hati orangtua dan menganggapnya itu ulah wajar seorang anak-anak. Duhhh!

Sampai akhirnya saya tahu bahwa orang tua seorang hafiz akan dipakaikan mahkota oleh anaknya yang hafal Quran. Mahkota yang akan dikenakan bukan sembarang mahkota. Tapi mahkota yang terangnya melebihi mentari.

Sedangkan saya masih saja terus-terusan ‘mengalungkan’ perilaku mbalelo yang membuat kedua orangtua saya nelangsa. Mungkinkah saya kelak dapat memasangkan mahkota kepada mereka, menjadikan keduanya raja dan ratu di akhirat kelak? Entahlah.

Saya teringat, sesungguhnya kedua orangtua saya sudah mengarahkan saya untuk dekat dengan agama. Bahkan, semenjak kelas 6 SD saya sudah dimasukkan ke sebuah pondok pesantren di Pesawaran yang mengajarkan hafalan Alquran.

Tapi dasar masih bocah, masih suka main, saya nggak serius belajar. Alhasil, dari satu angkatan, saya menjadi santri paling buncit capaian hafalan Quran-nya. Kalau kawan-kawan santri lainnya menghafal tuntas, saya masih tiga belas juz saja. Anehnya, saya tidak merasa kecewa apalagi malu. Pokoknya nyelow aja, kayak nggak ada beban. Dasar!

Melanjutkan SMA, saya masuk SMA Islam Terpadu di Bogor. Ketika itu belum ada program khusus menghafal Quran, sehingga hafalan saya menjadi tidak terjaga dan tersisa 10 juz. Kondisi ini terus berlanjut hingga saya kuliah di Unila.

Suasana baru di kampus, tugas akademis berdatangan silih berganti, belum lagi pola pergaulan yang berbeda membuat saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Memang, saat itu sempat terlintas kalau hafalan Al Quran saya bakal berhenti sampai disitu. Bukannya jadi hafiz, saya pikir saya malah akan habis (nggak menghafal lagi).

Untungnya Tuhan masih menyayangi saya. Saat memasuki
liburan semester 3, saya dikenalkan dengan program Takhosus Tahfizul Qur’an (TTQ) di Masjid Al Wasi’I Kampus Unila. Dalam program percepatan hafalan ini, semua peserta dikarantina selama 2 pekan dengan target hafalan 3 juz.

Entah mengapa saya merasa tertarik mengikutinya. Padahal ketika itu kesibukan akademis dan pergaulan tetap padat merayap. Tapi ini mungkin yang disebut ‘campur tangan Allah’ dalam membimbing saya.

Selama mengikuti program, saya sempat berpikir bahwa lingkungan memang berperan penting dalam membentuk karakter saya. Walau sebelumnya tekad saya untuk menghafal Quran belum sebulat rembulan dikala purnama, namun karena senantiasa berada di lingkungan yang berlomba-lomba menghafal Quran, secara naluri saya jadi ikut arus.

Sebaliknya saya menduga, kalau pun niatan saya besar untuk menghafal Quran, tapi saya berada di lingkungan yang tidak mendukung, boleh jadi pelan-pelan niatan itu bakal tergerus dan akhirnya tipis bahkan mungkin pupus tak bersisa lagi.

Alhamdulillah, usai rampung menjalani program TTQ, saya berhasil mencapai target. Bahkan muncul keinginan berikutnya untuk menuntaskan hafalan Al Quran. Seiring makin menguatnya keinginan itu, saya dipertemukan dengan kawan-kawan komunitas MPQ (Mahasiswa Penghafal Qur’an) Unila yang juga menyimpan tekad untuk memperjuangkan hal yang sama.

Namun semua perjuangan memang butuh pengorbanan. Saya dihadapkan pada pilihan dan mesti mengambil keputusan. Sebagai kompensasinya banyak kegiatan seru yang harus saya tinggalkan. Terutama  nge-game. Karena sebelumnya saya tergolong mania dengan permainan online semacam itu.

Begitu pun dengan kebiasaan jalan-jalan, kongkow sana-sini dan nongkrong sambil ngopi. Sekarang nongkrongnya digeser ke masjid. Kalau pun ada waktu luang, saya mesti pakai untuk menambah hafalan. Sebab setiap anggota MPQ diwajibkan setor hafalan saban hari.

Kembali saya sampaikan syukur karena pada semester 7 akhirnya saya berhasil menuntaskan hafalan. Kalau dihitung-hitung butuh 4 semester atau 2 tahun bagi saya untuk melewati tahap perjuangan itu.

Ada pengalaman unik menjelang Wisuda Akbar (Wisbar)Tahfiz 30 juz di Masjid Al Wasi’I Unila pada 25 November kemarin. Dari sembilan calon wisudawan/ti saya termasuk yang sudah selesai hafalan 30 juz sepekan sebelum acara wisbar digelar. Sementara masih tersisa 5 orang lagi yang belum selesai.

Saat itu saya sempat ikut merasa cemas, mengkhawatirkan kawan-kawan saya itu terhalang diwisuda. Terdorong rasa peduli, saya berupaya mencari tahu apa kendala mereka, sambil berharap siapa tahu saya bisa ikut membantu.

Setelah saya cari tahu ternyata ada di antara mereka yang memang sengaja ingin menamatkan hafalan pada “momen cantik”. Mereka berniat merampungkan hafalan pada umur 23 tahun, tanggal 23 (November) dan persis pada pukul 23:00 wib. Rupanya mereka ingin membuat momen bersejarah itu agar mudah dikenang….hehehe…

Usai diwisuda akbar, sebagai manusia biasa, terselip rasa bangga bisa menyelesaikan hafalan Alquran. Tapi itu hanya sejenak saja. Karena selebihnya justru perasaan takut, lebih tepatnya khawatir, karena mengemban tanggung jawab baru untuk menjaga hafalan yang bukan saja merupakan harga mati, melainkan juga memang komitmen saya sampai mati dan itu tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Saya juga mengemban kewajiban untuk mengajarkan pembacaan dan penghafalan Qur’an kepada kawan-kawan lainnya. Disamping saya sendiri tetap harus melancarkan hafalan sampai Mutqin (lancar banget), kemudian belajar ilmu fiqh dan tafsir supaya bukan cuma sekadar hafal, melainkan juga bisa mengaplikasikan semua isi Quran dalam kehidupan.

Sebenarnya menghafal Alquran bisa dilakukan oleh semua orang. Hanya saja persoalannya apakah ada keinginan untuk itu? Keinginan yang belum muncul bisa disebabkan karena beberapa hal. Salah satunya karena belum tahu dan memahami apa ganjaran yang akan diperoleh bagi para penghafal Alquran.

Seandainya kita sudah tahu, astaga, sangat menggiurkan. Beberapa ganjarannya adalah seorang hafiz bisa memberi syafa’at menyelamatkan 10 anggota  keluarganya dari siksa api neraka. Seorang hafiz juga akan mendapat kemudahan urusan di dunia dan akhirat, Insya Allah.

Belum lagi kalau memang mau mengkalkulasi satu persatu pahala dari membaca (menghafal) Alquran. Sungguh banjir bonus, Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) yang katanya gila-gilaan tebar bonus juga nggak sebanding.

Bayangin aja, Rasulullah SAW pernah bilang bahwa setiap huruf Quran yang kita baca, akan mendapatkan pahala satu kebaikan yang dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan.

Mari kita kalkulasi. Kita coba hitung huruf yang ada di tujuh ayat surat Al Fatihah. Kalikan sepuluh. Sementara setiap hari minimal kita membaca Al Fatihah sebanyak 17 kali. Banyak kan? Apa nggak cair, tuh.

Sedangkan setiap kebaikan akan menghapus kesalahan yang pernah kita lakukan. Itu baru Al Fatihah, loh. Apalagi kalau kita menghafal. Kan, untuk satu halaman Alquran saja mesti dibaca berkali-kali. Belum lagi nanti diwajibkan untuk mengulang hafalan.

Lantas, nikmat Allah mana lagi yang kita dustakan?

(*Mahasiswa Semester VII, Fakultas MIPA, Jurusan Ilmu Komputer, Unila)

Komentar

Scroll Up