(Selow.co): Ada yang berbeda dari tahun sebelumnya. Malam 31 Desember, saya memilih mengungsi ke rumah keponakan, menghindar dari hingar bingar suasana pergantian malam di lokasi titik nol Kota Bandarlampung.

Yah, rumah saya tidak jauh dari pusat kota. Pendek cerita, kami menaiki kendaraan pesanan online. Mobil melaju keluar mulut Jl Flamboyan, saya melongok ke sebelah kanan jalan arah Bundaran Gajah, tak biasanya saya melihat panggung. Panggung yang dipersiapkan untuk doa bersama atas bencana yang silih berganti terjadi di republik tercinta Indonesia.

Suara terompet yang biasanya bersaut-sautan dibunyikan sejak sore, pada pergantian tahun kali ini hal itu tidak terlalu mendominasi.

Saya melewati gereja, berjejer mobil terparkir di Jl Skala Brak yang padat merayap. Umat kristiani merayakan pergantian tahun baru dengan ritual ibadah. Betapa bangganya saya melihat perubahan ini. Menyambut awal tahun, orang mulai banyak merefleksikan diri untuk mendekatkan diri pada Tuhannya dan berempati pada saudara yang tertimpa musibah.

Ada catatan penting beberapa perubahan yang terjadi di sekeliling saya. Saya mulai melihat gerakan orang belanja di warung saudaranya sendiri. Saya juga mulai melihat perlahan tapi pasti orang meninggalkan utang dan riba. Memang semestinya sudah saatnya bagi kita memuliakan diri sendiri dengan menghindari keduanya.

Dan saya juga melihat gerakan orang yang cepat tanggap atas musibah yang dialami saudaranya sendiri. Serta saya juga melihat banyak orang-orang kaya menyekolahkan anak-anaknya pada pendidikan penanaman karakter diri.

Saya yakin gelombang gerakan menuju kebaikan tidak akan terbendung sampai kita semua bisa berjalan bangga dengan diri kita sendiri.

Wallahu muwafiq illa afwamith thoriq.

(* Penggiat Isu Perempuan)

Komentar

Scroll Up