(SELOW.CO): Pernah dengar even Jambore Kupu-kupu? Husss! beneran, ini bukan “kupu-kupu” yang biasa kelayapan malam terus kongkow nggak jelas.

KEBAYANG KAN kalau kupu-kupu ngumpul bareng mirip anak pramuka lagi jambore, gitu. Usai dirikan tenda, terus menyalakan api unggun, saling silaturahmi sambil membuat lingkaran. Wuih, kalau even Jambore Kupu-kupu itu benar adanya pasti keren, tuh.

Tapi sekali lagi ini riil, nyata, bukan hoaks. Saya benar-benar dapat kabar (saya yakini bukan kabar yang dibawa burung, apalagi burung hantu) bahwa memang ada even tersebut. Meski sesungguhnya saya sendiri sempat sanksi saat pertama kali peroleh informasi itu.

Setelah cukup lama meyakinkan diri, akhirnya saya mulai bisa menerimanya. Apa salahnya kalau memang ada jambore kupu-kupu? Apalagi istilah jambore kan bukan monopoli punya praja muda karana, doang. Kupu-kupu tentu juga punya hak buat kopdar. Terlepas dari semua itu, sejujurnya saya juga kepo kepingin membuktikan langsung yang dimaksud dengan Jambore Kupu-kupu.

Alhasil, saya sampai juga di lokasi jambore yang menurut info berlangsung di Taman Kupu-Kupu Gita Persada di ruas Jalan Bima Bumi Sari, Kota Bandarlampung. Taman ini memiliki koleksi lebih dari 100 spesies kupu-kupu Sumatra. Selain kupu-kupu yang hidup bebas, taman ini juga menyimpan 140-an koleksi kupu-kupu yang sudah diawetkan sejak 1997.

Saat menjejakkan kaki di area taman, saya sempat termangu. Katanya ada jambore tapi kok sepi-sepi aja. Hadeh, jangan-jangan kabar itu memang kabar burung belaka alias hoaks.

Karena tanggung sudah sampai lokasi, saya melangkah lebih jauh. Siapa tahu kerumunan kupu-kupunya di bagian dalam, batin saya. Tapi sudah berjalan cukup jauh, keriuhan jambore tidak juga kentara. Padahal saya sudah membayangkan akan ada kemeriahan.

Coba deh bayangkan ketika ada jambore vespa, misalnya, antusias pesertanya kan pasti membludak, tuh. Malah, nggak sedikit peserta yang turut membawa anak-bini, mirip orang mudik.

Nah, apalagi kalau kupu-kupu yang lagi jambore, mestinya pesertanya jauh lebih banyak, atau setidaknya sama deh dengan jumlah peserta jambore pramuka atau vespa. Coba deh simak keterangan ahli yang bilang sedikitnya ada 3 ribu jenis kupu-kupu di Indonesia. Kalau masing-masing jenis kupu-kupu mengirim perwakilannya bakalan padat tuh arena jambore. Belum lagi  bila masing-masing perwakilan membawa anak-bininya juga, duhhh… pasti sesak.

Tapi kok ini lengang. Bukankah istilah jambore tiada lain sebuah pertemuan dalam skala besar? Hmmm…apa ini yang disebut realita tak seindah ekspektasi?

Dengan langkah gontai saya mendekati seseorang. Ternyata dia salah seorang panitia dari acara Jambore Kupu-kupu. Berarti even itu memang ada, dong. Tapi kemana kupu-kupu peserta jamborenya. Kalau saya lihat-lihat di sekeliling memang banyak terlihat kupu-kupu, tapi apa iya cuma segini?

Didorong rasa penasaran saya kembali bertanya, “Mas, peserta jamborenya dari mana aja, ya?”
“Lombok, Jawa Timur, Jabodetabek, Sumatera Selatan, Belitung dan Lampung sebagai tuan rumah,” jawab panitia itu.

Waahh… Saya terkejut. Ternyata ini memang even jambore nasional, bukan kaleng-kaleng. Tetapi masih saja hati kecil saya menggugat di manakah pesertanya. Hingga saya putuskan untuk bertanya lagi alias kepo maksimal. “Pesertanya pada ngumpul di mana, Mas?” tanya saya hati-hati khawatir si panitianya jutek karena merasa ribet ditanyain melulu.

“Itu di sana,” kata dia nyaris mirip iklan sabun mandi lekboy. Aih, bikin saya semakin penasaran. Kali ini saya bertanya blak-blakan. “Tapi kok jamborenya sepi, ya?

Si panitia tak langsung menjawab. Untuk beberapa saat dia menatap saya. Tapi tak lama. Usai menghela nafas, dia memberi penjelasan. Menurutnya, Jambore Kupu-kupu ini bukan mendatangkan kupu-kupu dari berbagai perwakilan layaknya jambore lainnya. Melainkan hanya dihadiri oleh para penggiat dan pemerhati kupu-kupu di Indonesia.

Selama ini, terang panitia itu, mereka hanya komunikasi lewat media sosial karena keberadaannya yang tersebar di seantero Nusantara. Nah, melalui even ini mereka berkesempatan kopdar untuk saling berbagi cerita, pengalaman dan  pengetahuan, serta sama-sama membuat komitmen untuk tetap terus menjaga kelestarian kupu-kupu yang merupakan salah satu keanekaragaman hayati Indonesia.

Panitia itu juga bilang, seiring perkembangan jaman keberadaan spesies kupu-kupu sedikit demi sedikti mulai hampir punah. Kondisi ini jelas memprihatinkan. Dan makin mengkhawatirkan lagi bila mengingat minimnya jumlah peneliti kupu-kupu di Tanah Air.

Semua itu agaknya ada kaitannya dengan ketersediaan dana penelitian yang juga minim. Dengan demikian terbayang jelas bagaimana riskannya keberlangsungan kupu-kupu di Indonesia. Bentangan kawasan yang luas, tapi hanya memiliki sedikit periset kupu-kupu.

Untuk itu, masih kata panitia tadi, salah satu tujuan dari pelaksanaan jambore ini adalah untuk mengajak  orang-orang yang tertarik terhadap kupu-kupu agar dapat berperan sebagai citizen scientist.

Kalau dibilang eksistensi kupu-kupu mulai terkikis, agaknya benar adanya. Sebab seingat saya semasa kecil dulu ibu masih sering bilang, “Mau ada tamu siapa ini?” saat melihat kupu-kupu nyasar masuk rumah.

Sekarang ungkapan (mitos?) semacam itu sudah hampir tak terdengar lagi. Mungkinkah kupu-kupu sudah hengkang dari perkotaan dan mengejawantah menjadi kupu-kupu berspesies lain yang bergincu serta wangi, dan hanya bertebaran dikala malam? Semoga bukan!  (*Jurnalis)

Komentar

Scroll Up