(SELOW.CO): Percaya deh, perkara “Kacang lupa kulitnya” itu, bukan persoalan sepele.

Saya sempat terhenyak ketika mengetahui Pelaksana tugas (Plt) Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Joko Driyono, menjadi tersangka dalam skandal pengaturan skor persepakbolaan di Indonesia.

Terhenyak lantaran tidak menyangka lelaki yang akrab disapa Jokdri itu, sudah secara sistematis menjadi pengkhianat sekaligus musuh bersama suporter sepakbola nasional. Sungguh bajingan tengik orang macam ini kalau dugaan Satgas Antimafia Bola terbukti benar di pengadilan nanti.

Jokdri dikalungi status tersangka sebagai aktor intelektual dalam kasus pencurian, perusakan, dan penghilangan barang bukti. Sebagai dalang dia memainkan sedikitnya tiga wayang untuk memuluskan skenario jahatnya tersebut. Salah satu pelakon wayang itu adalah Muhammad Mardani Mogot alias Dani yang tiada lain sopir pribadi Jokdri.

Dalam pengakuannya Dani menyebut memang benar dirinya yang menyusup masuk ke ruang kerja Jokdri di kantor PSSI yang sesungguhnya telah disegel oleh polisi. Ia lalu membawa berbagai berkas yang disinyalir ada kaitannya dengan kasus pengaturan skor.

Uniknya, usai sukses menyelinap sambil mengamankan pesanan sang majikan, Dani malah putar balik dan mengakui perbuatannya di hadapan polisi. Saat ditanya apakah sesungguhnya ia menyadari kesalahan besar yang telah dilakukannya dan resiko apa yang bakal ditanggungnya, Dani mengangguk. Ia mengatakan sangat sadar akan semua itu. Ups!

Nekat? bagi saya perkaranya tidak sesederhana itu. Kalau semata nekat, buat apa belakangan malah mengakuinya. Poin ini sebenarnya yang paling besar menyedot perhatian saya.

Diluar dugaan meluncur jawaban dari mulut Dani. Menurutnya, segala resiko dijabani lantaran teringat jasa-jasa besar majikannya selama dirinya mengabdi tak kurang dari sembilan tahun. Dengan kata lain, Dani melakukannya semata demi balas budi terhadap Jokdri. Mapas! Sedangkan mengenai pengakuannya di depan aparat, karena didorong keinginan menebus kegelisahannya setelah melanggar hukum.

Aneh atau naif atau malah dungu? Entahlah, namun yang jelas lewat jawabannya Dani ingin menunjukkan bahwa ia enggan menjadi “Kacang lupa kulitnya”.

Bicara soal kacang, lengkapnya, kacang lupa akan kulitnya, bisa dibilang bukan hal langka di keseharian kita. Saking banyaknya contoh, tanpa disadari perilaku demikian sudah cenderung dianggap sebagai kelaziman. Iya, benar itu. Malah pada situasi tertentu tabiat serupa demikian wajib diterapkan, kalau ingin dianggap realistis, terlebih di zaman yang serba pragmatis seperti sekarang ini.

Sebaliknya kalau tetap ngotot menentang prinsip “kacang lupa kulitnya” bukan tidak mungkin malah bakal dianggap konyol. Lha kayak kasus Dani ini, misalnya. Siapa pula yang mau mengapresiasi alasan semacam itu kalau harus bergesekan dengan perkara hukum!

Namun faktanya tetap masih ada orang semacam Dani yang pantang melupakan jasa orang lain, kendati mesti memanggul beban yang menyesakkan sekalipun. Walau pasti ada yang mencibir sambil nyinyir bilang “solidaritas ala kaca mata kuda” atau “balas budi membabi buta”.

Isu “Kacang lupa kulitnya” ini tampaknya masih akan terus menggelinding. Terlebih setelah pemilu 17 April mendatang dan KPU telah mengumumkan hasil pemungutan suara yang mengerucut pada nama pasangan Capres-Cawapres, anggota legislatif dan anggota Dewan Perwakilan Daerah.

Dimana nanti ketika janji-janji yang dihamburkan pada masa kampanye terbukti diabaikan oleh para pemenang, dan aspirasi rakyat yang tiada lain merupakan konstituen mereka dengan enteng dipinggirkan atau dianggap sepi.

Lantas pantaskah orang-orang macam itu disematkan predikat “Kacang lupa kulitnya”? Hampir bisa dipastikan akan terdengar jawaban koor yang seragam; Pantas!

Tapi ternyata kita tidak perlu menunggu hingga pemilu rampung dihelat, karena hari-hari ini pun kita sudah disodorkan keriuhan atau lebih pantas bila disebut tawuran opini seputar “Kacang lupa kulitnya” tersebut.

Berawal dari ucapan menohok Capres 01 yang menyebut Capres 02 menguasai lahan perkebunan ribuan hektar di Kalimantan Timur dan Aceh Tengah. Ternyata statemen tersebut sukses memantik kegaduhan. Kubu pendukung Capres 02 pun langsung menyalak.

Mereka menyerang balik sambil tak lupa bilang bahwa telah berlaku idiom “Kacang lupa kulitnya” dalam persoalan ini. Sebab, secara gamblang dikatakan bahwa keuntungan Hak Guna Usaha (HGU) lahan ribuan hektar yang dikelola Capres 02 sebagian keuntungannya pernah dipergunakan untuk mengongkosi politik Capres 01 saat bersama Ahok mengikuti kontestasi Pilgub DKI 2012 lalu.

Nah, lho. Urusan “Kacang lupa kulitnya” memang bikin runyam, toh?! (*)

Komentar

Scroll Up