(SELOW.CO): Dibesarkan dalam lingkungan pekerja keras menempa Jayen menjadi sosok berkarakter. Ada gelak tawa disela-sela prinsip yang digenggam kuat olehnya. Sesekali dia juga “terpaksa berseberangan” dengan kehendak orangtuanya.

“Bukan karena tak menghormati bapak dan mamak saya di kampung. Bukan pula ingin durhaka pada mereka. Tapi memang ada kalanya kami berbeda pendapat dan selalu ada cara Tuhan untuk menyatukan kami kembali dalam kehangatan sebuah keluarga,” ungkapnya mengawali kisah perjuangannya keluar dari bekapan kemiskinan.

Tanpa sungkan anak ke-7 dari 9 bersaudara ini, mengaku sudah mengakrabi keterbatasan hidup sejak masih tinggal di kampung halamannya di Tapanuli Utara, Sumatera Utara. “Bapak seorang petani kecil. Ada kebun nanas tapi hanya sepetak, sedangkan usaha lainnya dari kemenyan. Iya, kemenyan yang kita kenal untuk berbagai ritual itu. Horor, ya?” ucap pemilik nama lengkap Jayen Simanjuntak itu setengah kelakar.

Tak heran, lanjutnya, kalau perekonomian keluarga mereka cukup tersengal-sengal. Dan entah kenapa, sambung pemuda kelahiran 23 tahun lalu itu, sejak awal bapak sudah mewanti-wantinya untuk menjadi penerusnya mengurusi nanas dan kemenyan. Alamakkk!

Jayen hanya berdiam saat mendengar titah bapak, kendati hatinya sudah melonjak ingin menunjukkan penolakan. Gejolak hatinya makin menjadi saat memasuki masa tamat SMA.

Maksud hati ingin seperti kawan-kawan lain meneruskan ke perguruan tinggi, tapi apa daya hasil penjualan nanas dan kemenyan hanya mampu dipakai untuk menjaga agar periuk mamak di dapur tidak gelimpang. Penghasilan bapak memang cuma cukup untuk menyambung hidup anggota keluarga. Tidak lebih dari itu.

Maka saat pihak sekolah mengumpulkan murid-murid kelas 3 berprestasi di aula untuk diarahkan memilih jurusan di perguruan tinggi, Jayen yang selama sekolah langganan juara umum, malah melengos dan bergegas ke kantin. Bukan buat jajan, dia justru mengecilkan badan supaya tidak disuruh ikut berkumpul.

“Ketika itu saya berpikir buat apa juga ikut kumpul, karena saya sudah tahu nasib saya akan seperti apa. Saya nggak bakal bisa kuliah,” kenangnya.

Namun, gelagat itu terendus wakil kepala sekolah yang lantas menyusulnya ke kantin. Jayen digiring ke ruangannya. Di sana Jayen menumpahkan kegundahan ingin kuliah tapi tak punya biaya. Tak dinyana Pak Wakil Kepsek bilang ada program beasiswa bidik misi yang bisa dicoba.

Angin segar terasa mulai mengusap wajah dan harapan Jayen. Dia sampaikan kabar itu pada mamak dan bapak di rumah. Tapi diluar dugaan antusiasme yang diharapkan bakal terbit di wajah keduanya justru tidak tampak.

Jayen Simanjuntak

“Bapak dan mamak diam sediam-diamnya. Mereka sanksi ada program kuliah gratisan semacam itu. Mereka malah curiga jangan-jangan itu cuma iming-iming saja dan ujung-ujungnya tetap pakai duit juga. Maklum saja mereka hanya orang kampung biasa. Pemikirannya masih sangat sederhana. Sementara saya sudah membulatkan tekad untuk menjajal saran Pak Wakil Kepsek,” tutur Jayen.

Maka dia pun mendaftarkan diri untuk memperoleh beasiswa tersebut. Sebagai konsekuensinya dia harus mengirimkan foto-foto rumahnya, karena memang beasiswa ini diperuntukkan khusus bagi murid berprestasi dari kalangan keluarga tidak mampu.

“Kalau syaratnya cuma adu prihatin kondisi rumah, ya jelas saya pasti lulus,” kata Jayen diiringi tawa. Tapi ternyata masih cukup banyak persyaratan lain yang harus dipenuhi.

Persis 27 Mei 2013 sore pengumuman yang ditunggu-tunggu tiba juga. Hanya saja untuk melihat apakah namanya muncul sebagai penerima beasiswa atau tidak, Jayen mesti mengeceknya ke website via internet. Hal sederhana ini tentu tidak akan menjadi perkara bagi mereka yang tinggal di perkotaan, dimana fasilitas dan jaringan internet banyak tersedia.

Namun tidak bagi Jayen dan anak-anak di kecamatan tempat mereka berdomisili. Dalam satu kecamatan hanya ada satu warnet berisi 10 unit komputer. Sedangkan yang ingin melihat pengumuman terbilang ratusan orang. Alhasil, Jayen mesti bersabar untuk mengantri panjang di luar warnet.

Situasi antrean makin diperparah oleh ulah beberapa pengguna warnet. Entah karena keterbatasan pengetahuan tentang internet atau terpicu emosi, ada di antara mereka yang menekan tombol enter berulangkali secara serampangan. Pemicunya lantaran namanya tidak tercantum dalam daftar pengumuman.

“Itu benar-benar terjadi. Mereka yang namanya tidak muncul lalu terus-terusan pencet tombol enter sambil berharap namanya nanti bakal  muncul. Entahlah, kenapa bisa punya keyakinan seperti itu. Yang ada nama mereka tetap tidak muncul, malah komputernya jadi hang,” cerita dia mengingat ulah konyol beberapa rekannya di kampung.

Saat tiba gilirannya, nama Jayen Simanjuntak tertera sebagai penerima beasiswa bidik misi. Diakui Jayen sesungguhnya dia ingin mengekspresikan kebahagiaan itu dengan melonjak girang. Tapi keinginan itu harus direm mengingat  masih banyak batu sandungan di hadapannya. Salah satunya terkait dukungan orangtua.

Saat kabar itu disampaikan ke bapak dan mamak di rumah, keduanya justru menangis lalu seperti yang sudah-sudah terdiam sejadi-jadinya. “Saya tahu. Mereka dilematis. Di satu sisi ingin mengikuti keinginan saya tapi di sisi lain mereka tidak punya duit untuk membiayai saya,” maklum Jayen.

Memang untuk perkara perkuliahan pemerintah telah menggratiskannya, tapi tetap saja masih perlu merogoh kocek buat ongkos dari Medan ke Kalteng. Apalagi perjalanan harus ditempuh menggunakan pesawat dengan tarif Rp 1.250.000.

Lagi-lagi Jayen sangat paham akan kendala itu. Bagi dia dan keluarganya jumlah segitu terasa besar. “Tapi apa tiket kuliah gratis ke Jurusan Akuntansi di Universitas Palangkaraya harus disia-siakan karena terganjal tiket pesawat?”

Sebagai jawabannya Jayen mengadu nasib di pasar. Dia menjadi kuli panggul. Seminggu penuh dia banting tulang dari pagi buta hingga petang. Alhasil, tiket pun didapat, bahkan masih tersisa Rp 300 ribu sebagai bekal hidup di tempat barunya nanti.

Namun bukan berarti persoalan tuntas sampai disitu. Sebab urusan lain sudah berderet menunggu. Misalnya perihal tempat tinggal selama berkuliah. Sedangkan bekal yang dibawanya tidak seberapa.

“Padahal masa-masa awal kuliah seperti itu biasanya disambut suka cita sama anak-anak. Malah ada kawan yang diterima di kampus luar daerah sampai bawa mejikom. Itu saking senangnya mereka akan menempati kosan. Lha saya, jangankan bawa termos air panas, untuk tempat kos aja belum ada,” tuturnya.

Untung atas bantuan seorang pengojek Jayen dikenalkan pada seorang pemilik kos yang kebetulan satu marga dengannya. Untuk beberapa bulan urusan tempat tidur bisa diatasi. Sebagai konsekuensinya dia mesti bantu sapu dan pel lantai kosan, serta bersih-bersih kamar mandi yang berderet mirip WC umum mengingat tempat kos itu memiliki puluhan kamar.

Momen serupa ini berlangsung sementara saja. Karena berikutnya Jayen mencari tempat kos sendiri. Bagaimana pun juga dia butuh tempat privacy. Namun persoalan baru muncul. Dia mesti membayar kosan. Meski selain kuliah gratis, peserta beasiswa bidik misi juga  memperoleh uang saku bulanan Rp 600 ribu, tapi nilai segitu terasa masih kurang memadai.

Tak pelak duit itu sebagian besar dipakai buat ongkos bulanan kosan. Selebihnya dia mesti putar otak untuk mensiasati agar tetap bisa makan tiga kali dalam sehari. Kalau urusan ke kampus atau balik ke kosan bisa diakalinya dengan bersepeda, tapi ketika ada referensi perkuliahan yang mesti dibeli atau di foto copy itu cukup menyesakkan.

Sedangkan untuk melambaikan tangan ke orangtua, sebagai pertanda butuh bantuan, dianggap bukan merupakan solusi terbaik.

“Saya ngerti kondisi prihatin orangtua di rumah. Awal-awal kuliah saya pernah minta kiriman, tapi saya terenyuh dengar suara lemas Bapak di telepon yang bilang mau cari pinjaman dulu supaya bisa kasih tambahan ke saya. Sejak itu saya nggak pernah lagi meminta kiriman,” kata Jayen.

Tapi hidup harus terus dilanjutkan, pikirnya. “Tak ada pilihan lain, saya harus bekerja!” tekadnya waktu itu.

My Passion

EatBoss Bandarlampung

Memasuki semester 3 perkuliahan, dibantu oleh seorang teman perempuan yang membuatkan surat lamaran pekerjaan, Jayen melangkah untuk mengadu peruntungan.

Dia masih ingat tidak kurang 10 map berisi surat lamaran dilesakkan ke dalam tas. Mulai dari toko kelontongan hingga toko sembako disambanginya seraya menyodorkan lamaran pekerjaan. Termasuk ke EatBoss (Tomodachi).

“Saya juga masih ingat. Jam 3 sore saya mulai mencari pekerjaan. Saya keliling tanpa tujuan pasti. Pokoknya saya masukkan surat lamaran ke berbagai tempat. Sampai akhirnya jam 5 sorenya saya diterima di EatBoss. Senang luar biasa,” paparnya.

Sejak itu ritme kuliah sambil bekerja dilakoninya. Jayen mengawali karir dari level paling bawah sebagai housekeeping dengan gaji awal Rp 900 ribu. Tak lama berselang dia menjadi waitress, kemudian pindah tugas ke bagian bar. Dua tahun berikutnya dia dipercaya menjadi captain dalam grup, lantas supervisor.

“Semua proses itu saya nikmati. Sepenuh hati saya jalani dengan ikhlas, meski kadang saya mengelap meja usai kawan-kawan kampus makan di EatBoss. Saat mereka kaget melihat saya, tanpa beban saya senyumi. Memang mereka teman saya di kampus, tapi di tempat kerja mereka tamu saya dan patut diberi perlakuan sebaik mungkin,” kenangnya.

Sebagai anak muda biasa, bukan berarti Jayen tidak memiliki keinginan seperti kawan-kawannya itu yang bisa menikmati waktu mudanya tanpa harus berjibaku dengan pekerjaan. Dia juga kepingin belajar kelompok seperti yang lainnya. Bisa menikmati waktu berdua dengan pacar, misalnya.

Satu waktu, cerita Jayen, dia pernah menjajal pola ‘normal’ seperti yang dijalani kebanyakan anak-anak muda sebayanya. Dia pun menjalin hubungan khusus dengan seorang cewek idaman. Di sela-sela kesibukan kuliah dan rutinitas kerja, Jayen menyempatkan diri mencicipi masa-masa pacaran.

“Ternyata saya kebablasan. Saya jadi sering izin nggak masuk kerja cuma karena harus menemani jalan cewek saya. Suatu saat saya kepergok sama atasan. Mati saya kena surat peringatan. Sejak saat itu saya nggak mau lagi bolos kerja. Kapok. Ujung-ujungnya saya bubar juga dengan pacar saya itu. Bete kali dia karena saya jarang punya waktu buat dia,” ucap Jayen seraya tertawa mengenang masa-masa itu.

Hingga pada akhirnya waktu mengantarkan dia di penghujung masa perkuliahan. Ketika diwisuda bapak dan mamak datang dari Medan. Mereka tinggal di kosannya untuk beberapa hari. Bahkan sempat pula diajak makan-makan di tempatnya bekerja.

“Nah, pada hari wisuda itu saya masih harus kerja. Jadi pagi di wisuda, siang sudah masuk kerja. Pas sedang kerja ada kawan yang datang bersama keluarga besarnya. Mereka makan-makan di EatBoss untuk merayakan wisuda kawan saya itu dan saya yang melayani mereka. Sambil kerja saya sempat teringat sama mamak dan bapak yang sedang berada di kosan. Seharusnya saat ini saya bersama mereka seperti kawan saya dengan keluarganya. Tapi biarlah ini sudah menjadi cerita hidup saya dan tetap harus dijalani dengan tulus,” kata Jayen.

Tapi ketenangannya sempat buyar sehari menjelang mamak dan bapaknya ingin pulang. Merasa anaknya sudah menyandang gelar sarjana, kedua orangtuanya merasa Jayen tak pantas lagi bekerja di restoran. “Buat apa jadi sarjana kalau masih kerja di restoran. Begitu bapak dan mamak bilang. Mereka minta saya cari kerja kantoran,” tutur Jayen.

Meski dengan berat hati, akhirnya pekerjaan yang sudah dirintisnya selama kuliah itu ditinggalkan. Jayen ikut tes ke beberapa perusahaan, sampai kemudian diterima pada sebuah perusahaan perkebunan besar milik pengusaha asing.

“Saya diterima sebagai akuntan. Kerja di kantoran meski kantornya berada di perkebunan. Gaji saya cukup besar dan memperoleh mess tersendiri sebagai tempat tinggal. Saat saya kabari bapak dan mamak, mereka senang luar biasa,” imbuh Jayen.

Namun itu tidak berlangsung lama. Karena belum genap 3 bulan bekerja, dia sudah memutuskan untuk keluar, sekalipun pemilik perusahaan sudah mengiming-imingi bakal memberinya tambahan insentif dan fasilitas.

“Ternyata saya memang tidak bisa memungkiri keinginan hati. Saya sudah terlanjur cinta dengan pekerjaan di EatBoss. Sepertinya itu sudah menjadi passion saya. Untung pihak EatBoss masih membuka lebar pintu buat saya kembali. Bahkan saya dipercaya untuk mengepalai EatBoss cabang Lampung pada 2018,” urai Jayen yang kini diberi mandat tambahan sebagai Manajer Area Sumatera membawahi EatBoss Lampung dan Medan.

Awalnya, sela Jayen, kedua orangtuanya marah besar saat mengetahui dirinya resign dari perkebunan asing itu. Untungnya, setelah berhasil membuktikan bahwa pekerjaannya saat ini juga dapat memberi kesejahteraan, mamak dan bapak akhirnya bisa turut merasakan kebanggan itu.

Saat ditanya apa rahasia bisa melewati perjalanan panjang yang telah dilewatinya, Jayen cuma bilang agar jangan pernah menyia-nyiakan waktu dengan menunda pekerjaan. “Jadikanlah setiap waktu dalam hidup berharga,” pungkasnya.

(Seperti diceritakan kepada Hendri Std)

Komentar

Scroll Up