(SELOW.CO): “Teman lama ditemukan oleh Facebook, dipererat oleh WhatsApp, namun dipisahkan oleh pilpres!”

SEKETIKA TAWA PUN TERGELAK saat unggahan dari AA Gym itu terselip di senarai lini massa akun Instagram. Tiga deret frasa itu begitu “makjleb” mendeskripsikan kondisi sosial yang terjadi sekarang.

Namun, sejurus kemudian saya coba membidik barisan kata-kata itu lewat perspektif yang berbeda. Ternyata, dari sudut yang lain, tebersit pula rasa miris dari sana. Tawa saya pun kontan mereda, berganti dengan satu tarikan napas yang begitu dalam.

Saat ini, kurang lebih begitulah realitanya. Betapa, serat-serat silaturahmi yang selama ini terpilin erat langsung rapuh gegara berbeda jago dalam hajat pilpres. Kabar buruknya, riak-riak sosial ini makin bergejolak seiring bergulirnya waktu menuju 17 April mendatang.

Perang mulut, debat, atau apa pun namanya makin santer. Akan tetapi, kalau debat berjalan tidak sesuai koridor akal sehat, untuk apa dilanjutkan? Bagaimana adu argumen mau lempeng jika komunikasi yang terlontar dibungkus dengan bahasa-bahasa sarkas yang bikin hati panas.

Padahal, bisa jadi, jika sosok calon pemimpin setiap hari kita rundung secara verbal, alih-alih memojokkan, orang lain khususnya swing voter malah justru simpatik dengan si korban. Ini bumerang namanya!
Yang dibutuhkan dalam mengarungi riak-riak ini adalah kedewasaan dan langkah cerdas. Cerdas dalam makna sesungguhnya ya, bukan cerdas yang berarti “ngincer endas”! Hehehe…

Menilik fenomena ini, bukan perkara dukung-mendukung calon yang mesti dipermasalahkan. Yang kudu disoroti adalah cara, sikap, etika, tata-titi, atau perilaku kita dalam “menjual” jagoan kita kepada orang lain. Yang tersaji kini, tak ada lagi bahasa santun, tak ada lagi respek, dan tak ada lagi “harga” untuk orang lain di sana. Semua cara dianggap halal!

Ditambah lagi dengan meruyaknya media sosial yang seolah memberi panggung buat mereka untuk tampil sebagai juru kampanye yang oportunis. Tak perlu mengawang-awang untuk mendapatkan contoh sahihnya. Bukti konkretnya sudah begitu banyak terjadi. Tak jarang hubungan pertemanan, persaudaraan, dan pertetanggaan rengat lantaran urusan politik.

Misalnya saja, dua kuburan di Gorontalo harus dipindahkan karena keluarga jenazah berbeda pilihan caleg dengan pemilik tanah (detik.com). Di Sampang, Jawa Timur, dua orang cekcok karena memiliki pilihan calon presiden yang berbeda. Akibat perselisihan itu, salah satu pendukung calon presiden itu meregang nyawa (Tempo). Ini ironis!

Sebegitu “murah”-kah harga sebuah ikatan silaturahmi hingga kita dengan mudah mengikisnya dengan ujaran-ujaran kebencian? Sudahkah kita memakai timbangan di hati kita; timbangan untuk mengukur manfaat-mudarat dari suatu perbuatan? Pertanyaan ini rasanya layak dikemukakan sebagai bahan refleksi bagi kita semua.

Semua, termasuk saya, memiliki sosok impian untuk memimpin negeri. Namun, jika cara kita berpolitik harus dengan mengorbankan tali persaudaraan, rasanya kita memerlukan langkah bijak.

Terkadang, berkomunikasi yang baik pun tak mampu mencegah timbulnya percik-percik emosi pribadi yang berpotensi memanaskan suasana lantaran fanatisme berlebih, apatah lagi jika dikemas dengan bumbu kebencian.

Dalam situasi demikian, jika ditanya memilih Jokowi atau Prabowo, saya tegas memilih tetangga! Tetangga di sini menyimbolkan “orang terdekat” yang mencakup orang tua, istri, mertua, kerabat, teman, rekan kerja, adik-beradik, dan seterusnya. Sebab, senyum mereka jauh lebih berharga dari sekadar debat tak sehat lantaran emosi sesaat!

Meski mempunyai pilihan yang berbeda, sudah selayaknya kita tetap memerankan lakon di panggung politik sesuai aturan main. Sebab, seperti yang saya dengar dari Guru Besar FKIP Unila, Sudjarwo, beberapa waktu lalu, bahwa berbeda pilihan bukanlah akhir, keberagaman adalah sunatullah, dan perbedaan adalah keindahan dari sisi yang lain.

Untuk pilihan presiden, ayo sama-sama kita kampanyekan dengan cara yang santun lagi anggun. Timbang lagi manfaat-mudarat dari cara kita berdebat menyampaikan pilihan, bukan dengan menebar hoaks, SARA, ujaran kebencian, atau nyinyir akut stadium akhir. Demi demokrasi yang bermartabat, mari berpolitik dengan cara yang sehat! Salam takzim…

(*Jurnalis Lampung Post)

Komentar

Scroll Up