(SELOW.CO): Pernah terbentur kebijakan baru yang bukan terasa sebagai solusi, malah bikin kita kepingin muntah berkali-kali?

SAYA PERNAH. Sebenarnya perkaranya merundung nasib ibu saya yang sudah sepuh, tapi secara tidak langsung tetap saja menjadi urusan saya juga, selaku anak cantik kesayangannya (lagian apa ada nyokap yang nggak sayang sama anaknya sendiri? dan semua ortu juga pasti bilang kalo anaknya paling cakep atau ganteng sedunia, toh,…hehe).

Bermula saat saya mendampingi ibu yang pensiunan guru ke Bank BRI. Saat itu bulan Desember 2018. Biasalah, urusannya buat ambil jatah pensiunan bulanan. Seperti pensiunan lainnya, momen ini pasti sangat penting bagi ibu saya. Tak heran kalau semenjak berangkat air mukanya sudah tampak cerah, semringah.

Tapi siapa nyana kalau kali ini urusannya tidak sesederhana bulan-bulan sebelumnya. Ibu dan saya, tentunya, agak terkesima saat mendapati informasi dari pegawai bank.

Kurang lebih infonya begini: Para pensiunan tiap bulan akan didata ulang dengan menyetor sidik jari, rekam suara, rekam wajah, dll. Sederet ketentuan tersebut wajib dilakukan melalui aplikasi Taspen Otentikasi yang sudah disediakan di playstore android.

Deg! Tetiba saya lihat wajah ibu mendadak kenceng. Agaknya beliau sedang berpikir keras. Mungkin ibu sedang menerka-terka. Aplikasi itu apaan, ya? Terus playstore itu apa mirip-mirip departemen store? Kok, pakai sidik jari, rekam suara sama rekam wajah segala, apa ini untuk jaga-jaga jangan sampai ada teroris menyusup di kalangan pensiunan, ya?

Saya biarkan ibu turut mendengarkan penjelasan pegawai bank itu, karena sesungguhnya saya juga tidak kalah berpikir keras untuk mencerna informasi tersebut.

Ternyata, bukan hanya membingungkan, informasi itu juga terasa menebar ‘ancaman’. Sebab menurut penjelasan bila ada pensiunan yang abai memenuhi ketentuan tadi selama 3 bulan berturut-turut, maka akan ada sanksinya.

Sanksi yang diberikan tidak tanggung-tanggung, yakni berupa pemblokiran rekening pensiunan yang bersangkutan. Jlebbb… kali ini wajah saya yang ikutan kenceng. Saya tidak tahu pasti bagaimana dengan wajah ibu saat itu, karena saya tidak sempat melirik ke arahnya. Jujur saja kali ini saya bukan lagi sebatas kaget tapi sudah ke arah cemas. Bagaimana mungkin pensiunan ibu yang sudah bertahun-tahun diterimanya bisa terblokir hanya gegara penerapan aplikasi baru.

Spontan saya angkat bicara menanyakan kenapa pola ini mendadak diterapkan tanpa ada sosialisasi sebelumnya. Alih-alih memberi pencerahan sang pegawai malah curhat, “Kurang paham, Bu. Ini aturan dari atas”.

Oalah rupanya yang sedang kebingungan atas program baru itu bukan hanya ibu dan saya saja, tetapi pegawai bank-nya sendiri sebenarnya masih kebingungan juga.

Duh, beneran pengen rasanya saya segera mendongak ke atas untuk melihat ada penjelasan apa di “atas”. Kiranya si mbak pegawai paham situasi, penglihatannya sudah terlatih untuk mendeteksi sekaligus mengendus jalan pikiran customer di hadapannya. Sebab, sedetik kemudian senyum penuh percaya dirinya sudah kembali mengembang di wajahnya.

Dia lantas meyakinkan kami bahwa kebijakan ini dibuat tiada lain untuk lebih mempermudah para pensiunan agar tidak perlu repot-repot mengantri di bank setiap bulan. Karena setelah otentikasi, secara otomatis gaji langsung masuk ke rekening dan bisa diambil melalui mesin ATM

Selain itu, tentu saja ini otomatis semacam solusi proof of life, bukti bahwa para penerima pensiunan masih hidup. Dalam hal ini agaknya pemerintah tidak mau kecolongan.   Bukankah sudah jadi rahasia umum kalau selama ini masih kerap kedapatan keluarga pensiunan bisa memanipulasi surat kuasa dalam pengambilan gaji pensiunan, meski pensiunan yang bersangkutan sudah meninggal sekalipun.

Sepintas program ini terdengar cukup realistis dan sangat membantu. Bagaimana tidak, kalau mengikuti informasi yang diberikan si mbak pegawai bank, hanya berbekal smartphone, ibu saya yang sudah berumur 82 tahun dengan bobot yang hampir mencapai 100 kilogram (berjalan pun sudah menggunakan tongkat) tidak perlu lagi setor muka ke bank saban bulan.

Secara tidak langsung program ini juga turut membantu saya, sehingga saya tidak perlu lagi mengawal sang nyonya besar…xixixi.

Tapi tunggu dulu …! Jangan lupa, bukankah ekspektasi kadang tak selalu sama dengan kenyataan? Ternyata, praktek soal otentikasi tak semudah teori yang dijelaskan. Setelah langsung men-download aplikasinya saat itu juga, saya mulai mencoba dengan memasukkan Notas pensiunan ibu. Lalu masuk ke program didampingi customer servise bank. Hasilnya? Berkali-kali gagal…! Lho, kok?!

Langkah-langkahnya kurang lebih begini: Pertama, isi no Taspen, lanjutkan. Kedua, foto wajah sesuai kotak yang disediakan, beres … lanjutkan. Ketiga, foto retina mata dengan menatap layar atau mengedipkan mata ke layar. Keempat, merekam suara dengan membaca angka-angka yang tertera di layar, lanjutkan.

Langkah kelima, menfoto sidik jari. Ini yang membingungkan sekaligus penentu keberhasilan otentikasi. Yang diambil gambar tidak disebutkan jari yang mana? Yang jelas hanya satu jari yang tertera di layar. Saya sempat bolak balik bertanya. Namun sayangnya pihak bank juga menjawab dengan keragu-raguan.  Sarannya hanya coba seluruh jari satu per satu dimulai dari jari jempol, telunjuk, jari tengah, dst.  Dimulai dari tangan kanan.

Nggak jelas banget kan? Sebalnya, tiap kali gagal, otentikasi harus diulang lagi dari awal. Dan yang tak kurang menyebalkannya terdengar saran dari pegawai bank. “Mungkin nanti bisa baca instruksinya langsung dari aplikasi mobile-nya di rumah, Bu,” katanya seolah mengusir saya dengan halus.

Oke … saya pun mengajak ibu untuk memilih pulang, karena melihat antrian di CS sudah menumpuk dan wajah-wajah pelanggan yang lain mulai terlihat murka.

Sesampai di rumah saya kembali penasaran. Saya ulangi lagi langkah yang sama seperti di bank. Bahkan saya sempat mengintip google, khusus mencari langkah-langkah instruksi sidik jari pada aplikasi ini.  Hasilnya langsung saya terapkan, tapi gagal lagi gagal lagi! dan ibu pun ngambek berat.

Berbagai ocehan keluar dari bibir sepuh itu sambil menyumpahi si pembuat kebijakan. Saya yang berada di dekatnya mau tak mau ikut mendengarkan. Ini sih seperti sudah jatuh tertimpa tangga pula, sudah bete dikerjai aplikasi … plus kena semprot pula, meski maksudnya bukan mengomeli saya pastinya.

Bingung Berjamaah

Hari berganti minggu dan pekan beralih bulan. Hingga saya kembali mengantarkan ibu mengambil dana pensiunan ke bank di bulan berikutnya. Bedanya kali ini saya dan ibu sambil berbekal seabrek keluhan soal otentikasi yang bakal kami semburkan. Tapi belum sempat kami berkeluh-kesah, si pegawai dengan enteng bilang, “Tenang saja Bu, ini baru uji coba, kok. Kita lihat sampai bulan Februari ya.  Untuk sementara Ibu tetap bisa mengambil gaji pensiunan secara manual”.

Duhhh…adem suara si mbaknya. Lewat suaranya seakan dia ingin menyampaikan pesan “Jangan panik, Belanda masih jauh!”. Namun, sepertinya dia enggan untuk tahu bagaimana kami, khususnya saya, yang sudah pontang-panting berjibaku meladeni aplikasi otentikasi yang membingungkan.

Tadinya saya mau segera menyanggah ucapannya yang menyuruh saya tenang, hanya saja saya sudah bisa menduga, si mbak pegawai bank pasti akan meluncurkan pesan-pesan motivasinya untuk jangan lelah mencoba, sebab hasil tak akan mengkhianati proses dst, dst. Duh, males banget dengarnya.

Sampai sebulan kemudian, tepatnya awal Maret lalu, sejak pagi saya sudah kembali menjajal otentikasi melalui handphone.  Hasilnya lagi-lagi FAIL.  Kali ini stok kesabaran saya sudah makin menipis. Dengan terpaksa saya kembali menggiring “nyonya besar” menuju bank.

Lagi-lagi seperti sebelumnya bukan solusi yang didapat, malah kami disodorkan keluhan yang bikin miris.  “Bukan ibu saja yang bermasalah, hampir setiap keluarga pensiunan memuntahkan keluhan yang sama pada kami. Kemungkinan program ini akan ditinjau ulang,” kata pegawai bank.

Lega? Sama sekali nggak! karena justru makin tak jelas arahnya. Ini sih seperti “digantung” karena program tetap berjalan tanpa kepastian. Ya, kalau sambil menunggu ada jaminan bahwa pengambilan manual tanpa otentikasi selama 3 bulan berturut-turut tidak akan menutup otomatis aktivasi rekening nasabah, seperti bunyi peringatan yang mereka buat. Kalau ternyata tiba-tiba terjadi pemblokiran sepihak, siapa yang mau bertanggungjawab? Yang ada pasti akan bikin panik dan susah para pensiunan seperti ibu saya ini.

Kenapa juga pembuat kebijakan tidak mau mengalah sedikit saja. Setidaknya dengan menyederhanakan sistem pengisian aplikasi agar lebih simple. Semisal menghilangkan beberapa langkah dan hanya menyisakan step memasukkan satu sidik jari saja dengan cara menempelkan jari, bukan memfoto.

Saya membayangkan, bagaimana nasib para pensiunan yang jumlahnya jutaan di negeri ini dengan penyebaran penduduk tak hanya tinggal di perkotaan, belum lagi tingkat ekonomi dan psikologis  mereka yang berbeda-beda.

Tidak semua pensiunan juga mampu membeli android, kan? bahkan menggunakannya. Ibu saya saja selama ini menggunakan hape polyphonic, itupun hanya untuk menerima telepon atau SMS.

Lha terus apa kabar pensiunan yang tinggal di pelosok, dalam keadaan fisik sudah sangat sepuh atau sakit-sakitan, berdomisili jauh dari bank, bahkan tidak memiliki satupun keluarga yang menggunakan HP android? Apakah ke depan mereka tetap terancam rekeningnya terblokir dan tidak bisa mengambil haknya?

Pertanyaannya, kebijakan tersebut sesungguhnya berpihak pada para mantan abdi negara atau malah pro pada kepentingan pemerintah sendiri?

Ataukah memang sudah hobinya para pembuat kebijakan di negeri ini melakukan ujicoba aturan tanpa didahului study kelayakan. Ujung-ujungnya ya seperti sekarang ini yang mirip just like test on the water, diterima baik jalan terus … banyak di protes, ya tinggal di kaji ulang! Untuk rakyat kok coba-coba.

(*Penulis buku kumpulan cerpen “Andai Dosa Berbau”)

Komentar

Scroll Up