(SELOW.CO): Badan boleh besar. Kalau deskripsinya masih kurang macho bisa ditambahi embel-embel tinggi-besar. Tapi bila bicara soal nyali, nggak ada jaminan postur tubuh seseorang berbanding lurus dengan nyalinya.

APALAGI KALAU nyali itu diuji pada ketinggian, seperti para pekerja pembersih kaca gedung bertingkat, misalnya, yang tetap enjoy bergelantungan walau hanya ditopang seutas tali.

Memang tidak dipungkiri terkadang mulut tak selalu kompak dengan kata hati. Nggak selalu seiring sejalan. Boleh jadi bibir menyungging sinis, meremehkan, saat disodorkan tantangan menuruni dinding gedung.
“Ah! begitu doang masa nggak berani!” Padahal dalam waktu bersamaan lubuk hatinya mendadak mengkerut ketar-ketir. Nah, saya punya cerita tentang kawan yang bersikap serupa ini.

Postur kawan saya itu memang tak terlalu besar. Mungkin lebih cocok dibilang atletis. Yang jelas lebih berisi dibanding badan saya yang kerempeng sebelas dua belas sama jari kelingking.

Sebenarnya saya sendiri tidak ingat persis hal apa yang memantik obrolan kami hingga berujung pada munculnya tantangan itu. Seingat saya tiba-tiba saja niatan itu melintas. Saya goda dia untuk menuruni ketinggian gedung. “Berani nggak nyobain turun?”

Teman saya satu ini memang menyukai salah satu tokoh karakter Marvel. Yess… Spiderman, mungkin dengan alasan itu dan segudang penuh stok gengsinya yang terlanjur meluap-luap, dia mengangguk.  Mengamini tantangan itu. “Wuihh… sangguplah masa begini aja nggak berani.”

Mungkin juga ia menakar postur badannya yang lebih segala-galanya ketimbang badan saya yang mirip mistar plastik yang makin hari makin tipis dan letoy saat dibeli di warung.

Atau boleh jadi jawabannya merupakan kolaborasi dari ketiga keunggulan yang dipunyainya; mengidentikkan diri sebagai Spiderman, badan kekar dan punya stok gengsi melimpah. Maka menyelinaplah rasa takabur. Ups!

Pembaca yang budiman, peristiwa yang saya ceritakan ini tak patut untuk dicontoh. Sejatinya, pekerjaan seperti yang dilakukan oleh si pemanjat gedung harus bersertifikasi. Kalaupun sang pekerja sudah bersertifiksi, tak ada sedikitpun alasan untuk mempermainkan nyawa seseorang ataupun diri sendiri.

Kalaupun saya beranikan berbagi pengalaman ini, bukan dimaksudkan untuk unjuk gagah-gagahan, melainkan lebih agar bisa dipetik hikmahnya, bahwasanya kecerobohan saat guyonan pada ketinggian sungguh tidak lucu sama sekali.

Balik ke cerita kawan saya tadi yang sepertinya telah mengumpulkan nyali, entah sih… seberapa banyak. Tapi kalau lihat gelagatnya, agak kurang meyakinkan, deh

Haha… gimana mau dibilang meyakinkan kalau baru saja mengenakan harnes (alat seperti popok untuk menopang tubuh) kaki kawan saya itu sudah bergetar hebat. Lantaran tantangan yang saya sodorkan ke dia sesungguhnya sekadar candaan, maka saya kembali memastikan, “Ini yakin beneran mau turun?”

Anehnya, walau lututnya sudah goyang-goyang tak menentu, kawan saya itu masih tetap keukeh dengan jawaban awalnya. “Masihlah, kok kayaknya nggak percaya banget, seh?” kilahnya dengan suara protes. Oke…oke, kalau memang sudah jadi keputusannya.

Usai hernes terpasang, kawan saya berjalan gontai ke arah bibir atap gedung bertingkat, dimana saya dan beberapa kawan lainnya sedang dapat job membersihkan kacanya. Setelah tiba di tepian, seakan tak ingin berlama-lama, dia langsung ambil posisi bersiaga untuk mulai menuruni dinding gedung.

Tapi keyakinan yang diperlihatkan sangat tinggi pada saat awal, mendadak menyusut drastis bahkan tanpa sisa. Semua itu terlihat jelas ketika separuh badannya sudah melayang dan cuma telapak tangannya yang masih menumpu ke tepi atap gedung, tentu saja dengan tali pengaman tetap standby memback-up.

Sejenak dia menggelantung dengan posisi tidak jelas, antara mau melanjutkan turun atau malah kepingin balik ke atas. Alhasil, tangan berotot dan berurat seperti tukang itu bergetar hebat.

Setelah saya dan kawan lainnya perhatikan rupanya dia ingin mengurungkan niat menuruni gedung. Dia kepingin lekas balik ke atas. Tapi lantaran sudah campur takut, tangan besarnya yang terlanjur bergetar makin tak mampu mengungkit badannya ke atas.

Alih-alih, balik ke posisi awal, yang ada malah kedua tangannya yang bertumpu ke bibir dinding atap gedung makin bergoyang dahsyat. Bagi kami pemandangan ini sungguh menggelikan.

Ishhh….kok tega gitu, sih. Kawan sedang kepayahan malah jadi bahan tertawaan. Jadi olok-olok. Ini jelas candaan konyol. Becanda kok nyerempet keselamatan jiwa. Kalau tangan kawannya nggak kuat lagi nahan beban, kan bisa berabe, tuh. Bisa jatuh dramatis dia, meluncur bebas dari ketinggian. Bedebah banget cara becandanya!

Sebenarnya saya dan kawan-kawan lainnya bukan mentertawakan bahaya yang sedang mengancam keselamatan kawan kami itu. Hanya saja kami tergelak melihatnya yang semula penuh percaya diri, tiba-tiba nyalinya raib dan berganti panik,  sampai-sampai tidak sadar kalau di bawah kakinya sesungguhnya masih ada teras gedung.

Jadi bentuk gedung itu memiliki space seperti teras yang letaknya berada persis di dekat atap gedung. Sehingga kalaupun pegangannya pada atap gedung terlepas, dijamin dia tidak akan langsung melayang terjun bebas sampai ke lantai dasar. Dipastikan tidak bakal seperti itu. Karena dia pasti akan tertahan di space teras itu terlebih dahulu.

Dan tahukan berapa jarak antara atap dengan teras itu? Yah, sekitar satu meter lebih dikit, deh. Dengan kata lain, kalau kawan saya itu meluruskan kakinya dan melepaskan pegangannya, maka tanpa susah payah dia praktis akan menjejak space teras yang jaraknya memang sangat dekat itu.

Tapi ya itu tadi. Karena bawaan sudah panik duluan, akhirnya hilang pula akal sehatnya. Ikh, kok kayak siapa gitu ya, yang merasa panik lalu  kehilangan akal sehatnya, dan bawaannya jadi curigaan melulu.

Padahal awal-awalnya berasa super pede, hehehe…., Husss!!! Jangan senggol-senggol politik akh, nanti dianggap penyebar hoaks dan bisa diberangus dengan pasal antiteroris loh. Hiiii….lebay!  (*Jurnalis)

Komentar

Scroll Up