(SELOW.CO): Jadi korban bullying memang nggak enak, tapi apalah daya sepertinya kebiasaan mengejek sudah membudaya.

SEDARI KECIL saya punya banyak julukan “keren” diantaranya si jenong, tomboi, ayam sayur karena kerap sakit, sampai kutilang darat (kurus tinggi langsing *maaf dada rata).  Kejam memang predikat yang disematkan, bahkan sempat membuat saya minder dan perlahan jadi pribadi yang introvert.

Kenapa sekarang berubah hampir 180 derajat? Orangtua yang pasti punya peranan penting untuk mengarahkan saya lebih berfokus pada potensi diri, daripada terus-terusan sedih merasa dilecehkan.

Setelah puluhan tahun berlalu, hampir bisa dibilang saya sudah melupakan semuanya, bahkan membayar lebih pandangan miring dengan prestasi yang saya torehkan.  Nggak ada dendam dengan teman kecil yang dulu berada pada deretan si pembully. Bahkan kami pernah tertawa bersama dalam berkendara ketika bertemu di jalan dan mengingat masa-masa itu.

Tentu saja, karena ejekan itu hanya sebatas ucapan, tidak berlanjut pada kekerasan fisik. Meski pada dasarnya bullying bukan perilaku terpuji yang bisa dibenarkan. Atau, mungkin saja karena korbannya setangguh saya? Ups!

Bayangkan jika dialami oleh mereka yang rapuh, lalu dibesarkan dalam keluarga yang minim perhatian? Duh! … seram.

Malah ada loh kawan sekolah saya dulu -dari keluarga tajir melintir- yang sampai bela-belain oplas demi merubah salah satu bagian wajahnya karena kerap di bully semasa kecil. Tapi apa masalahnya selesai begitu saja? Karena bagaimanapun juga bisik-bisik di belakang nggak bisa dihentikan.

Oh iya, pernah baca buku Rooftopbuddies karya Mbak Hanny Dewanti? Novel teenlit yang isinya tentang remaja yang ingin bunuh diri karena kerap dibully. Di situ diceritakan, bagaimana perasaan sang tokoh yang kerap diremehkan dan dendam yang perlahan tersulut di hatinya. Namun karena kurang dukungan keluarga dan ketidakberdayaan, akhirnya sang tokoh sempat memilih mati agar seluruh permasalahannya selesai.

Menariknya, sebelum sang tokoh memutuskan loncat dari atap gedung, dia bertemu seseorang-korban senasib dan seide (sama-sama hendak bunuh diri dan melompat dari atap gedung meski masalahnya beda). Keduanya akhirnya sepakat memutuskan menunda rencana mati, dan melakukan 10 hal yang paling diinginkan selama hidup sebelum benar-benar bunuh diri bareng.

Selanjutnya gimana? iish, kok jadi promosi buku ?! bukan ke sana opini yang mau saya giring, tapi menitikberatkan bahwa bullying itu jahat dan bisa berakibat fatal pada kejiwaan si korban.

Seperti kasus bully (Audrey) teranyar yang tengah viral dan membuat kita terhenyak berjamaah, lantaran ulah remaja pengeroyok usai terlibat sindir menyindir dengan korban di medsos.

Entahlah, saya tidak mau berkomentar banyak atau serta merta menghakimi pelaku, karena kasusnya memang masih simpang siur dan bagaimanapun biarlah proses hukum yang berjalan.

Yang jelas, peristiwa ini menjadi tamparan bagi semua bahwa ejek-mengejek bukan hal yang patut diremehkan. Gak usah berkoar-koar dulu ini tugas pemerintah yang sudah salah dari awal membuat sistem pendidikan yang hanya terfokus pada nilai akademik ketimbang membentuk karakter.

Setidaknya sebagai orangtua, sudahkah kita mendidik anak-anak agar tidak menjadi pelaku bullying? Sebab banyak orang hanya pandai menilai, memaki bahkan mengecam, padahal nggak sadar diri sering juga menjadi pelaku.

Orangtua kadang nggak sadar jadi teladan buruk, sehingga anakpun merasa sah-sah saja menyematkan gelar buruk pada temannya. Contoh simple, cermati keseharian saat mengawal kegiatan bersekolah anak. Adakah emak-emak yang teriak semacam ini, “Tupol (Ratu ngompol) … bukunya sudah disiapkan belum?” Nah kan?!

(*Penulis Fiksi)

Komentar

Scroll Up