(SELOW.CO): Apa yang terlintas di benakmu kalau hari pertama kerja langsung disodori deadline fantastis? Beuh!

“40 SCRIPT SEHARI, PAK?” tanya saya ternganga nyaris tak percaya. Jelas saya syok, sebab baru saja diterima sebagai script writer pada radio swasta bergenre eskekutif muda di Bandarlampung, tapi sudah digabrukin kerjaan sebanyak itu. Wadooow!

Untung kejadiannya sudah lewat beberapa waktu silam. Sewaktu saya masih muda (kalau sekarang kan malah tampak lebih muda, hiks!). Jadi semua tinggal menjadi kenangan yang menyebalkan sekaligus memperkaya pengalaman. Setidaknya semenjak di radio itu saya jadi terbiasa bekerja di bawah tekanan deadline.

Saya masih ingat, ketika mendapat instruksi dari kepala divisi on air saya langsung menggerundel, ‘Huh … enak aja! memangnya menulis itu, gampang?!” Tapi cuma dalam hati, lho. Lha iya lah cuma membatin. Lagian mental saya jelas nggak siap kalau langsung kena pecat persis dihari pertama kerja gegara ngerengkel. Hmmm…nggak banget, kan.

Oh iya, ngomong-ngomong soal profesi script writer radio, belum tentu semua orang tahu, lho. Bahkan saya sendiri meski sudah diterima bekerja sebenarnya belum paham jenis makhluk apa script writer itu, hadeh. Kalau dipikir-pikir nekat banget saya waktu itu. Mungkin ini yang disebut “The Power of Kepepet”

Tapi memang sih yang dipahami kebanyakan anak muda perihal bekerja di radio ya paling mentok seputar cuap-cuap dan itu identik dengan penyiar.

So, waktu dijejali deadline setumpuk, otak saya berasa mendadak migrain. Duh! Kalau tahu begini, lebih asik jadi penyiar, sesal saya. Hanya saja masalahnya ketika apply job vacancy saya lebih pede menjadi penulis script.

Pasalnya, saya merasa terlanjur terlahir dengan suara ngebas, jauh dari suara microponis. Itu anggapan saya dulu loh, tapi belakangan saya baru tahu kalau ternyata warna suara yang berbeda justru bisa menjadi ciri khas tersendiri dan berguna banget untuk beberapa keperluan siaran radio, misalnya buat variasi voice dubber iklan dan news caster.

Balik lagi ke soal script writer.
Singkatnya, profesi ini tiada lain ya menjadi penulis naskah siaran. Jadi gini, para penyiar yang kadang terdengar begitu smart mengolah kata dan informasi rupanya tidak sepenuhnya bekerja sendiri.

Sebelum masuk ruang siaran mereka dibantu penulis naskah dalam menggali ide dan informasi sesuai tema yang akan mengudara. Sehingga ketika on air, penyiar tinggal membacakan dan memilah-milah bahan yang hendak disampaikan kepada pendengar, tapi pastinya juga harus dikombinasikan dengan skill improvisasi dari penyiar itu sendiri.

Berdasarkan pengalaman saya juga, menjadi script writer itu tidak serumit yang dikira. Apalagi saat saya nulis script di awal bergabung di radio, naskah yang diminta bukan bahan full untuk durasi satu atau dua jam siaran on air. Melainkan hanya menyusun info penting sebagai penyelia informasi supaya acara terkemas lebih berisi.

Setiap info yang dibacakan juga singkat. Satu tema (angel) paling banyak memuat 200-an kata atau setengah halaman kertas A4. Kalau kewajibannya nyusun 40 script, ya berarti kira-kira menulis 20 lembar saban hari.

Untuk menggarap jobdes serupa itu saya didukung perangkat perang yang cukup komplit. Mulai dari akses internet tanpa limit sampai pasokan majalah remaja, referensi mode termutakhir hingga majalah kesehatan. Semua referensi up to date itu datang khusus untuk saya.  Asik kan? Yup …lantaran kudu melahap abis bacaan tersebut  otomatis membikin wawasan saya lumayan terdongkrak.

Beda lagi ketika pindah ke radio bergenre muslim, masih dalam profesi yang sama. Deadline-nya berubah, karena ada beberapa program yang mengharuskan saya menulis semacam cerpen, atau menggarap kisah pengalaman seseorang dalam menggapai hidayah atau perjalanan perkembangan Islam di suatu negeri.

Program sejenis ini yang memang difokuskan untuk dibuatkan scriptnya, sementara segmen itu hanya mengudara seminggu sekali.  Selebihnya, untuk mengisi waktu tersisa, saya diminta menuliskan script berupa info-info pendek sebagaimana di radio sebelumnya.

Profesi Menjanjikan

Untuk orang yang memang menyukai dunia tulis menulis, profesi script writer sesungguhnya pilihan menyenangkan. Bahkan sangat menyenangkan. Kenapa? Karena sambil menulis bisa sekalian me-refresh pikiran yang penat sambil mendengarkan musik yang mengudara.

Malah kalau lagi hoki bisa ikutan cuci mata manakala radio disantroni artis ibukota. Kalau anak zaman now, pasti girang karena bakalan jadi ajang eksis di instagram. Foto sama artis, berasa keren. Iya nggak sih. Sayangnya zaman saya dulu medsos seperti itu belum ada, adanya baru friendster. Jiaah….Ketahuan deh, angkatan berapa kira-kira.

Walau terasa menyenangkan tapi bukan berarti profesi ini tanpa tantangan. Karena bila ditengok dari sisi penulisan, realitanya script writing tak semudah copy paste tulisan dari internet. Sebab ada tuntutan teknik tersendiri dalam menulis script radio. Pada prinsipnya menulis script di sini untuk dibacakan dan didengar. Jadi bukan sekedar asal tulisan enak dibaca.

Lalu ada pula ketentuan lain, misalnya, bagaimana dalam durasi yang sempit harus mampu menyajikan informasi yang apik, lengkap dan tentunya tanpa membuat penyiar ngos-ngosan dan tidak terkesan sedang membaca. Kalau sudah begitu, maka kolaborasi antara script yang bagus dan penyiar yang jago bermanuver bersilat lidah, eh…mengolah kata maksudnya, menjadi penentu keberhasilan sebuah program acara.

Karena menulis untuk didengar dan dibacakan, tak jarang seorang script writer radio juga punya kelemahan. Biasanya sih jadi tak terlalu aware sama kaidah penggunaan bahasa baku yang baik dan benar seperti di pelajaran Bahasa Indonesia. Tak ayal penggunaan diksi umum akan menjadi pilihan utama dengan asumsi biar mudah dipahami khalayak pendengar.

Selain script writer kita juga acapkali dengar istilah copy writer di radio. Lantas apa bedanya dengan script writer? Setahu saya jelas ada perbedaannya. Penugasan serta jenis tulisan yang dihasilkan juga berbeda.

Secara umum kalau script writer melulu menggarap naskah siaran, kontennya disesuaikan dengan tema acara. Sedangkan kalau copy writing lebih kepenulisan untuk iklan. Pada bidang ini justru sisi bahasa marketing-nya yang kudu dipertajam. Penggunaan bahasa yang menjual lebih ditekankan. Output akhirnya berupa pariwara yang direkam atau dibacakan sebagai flash insert.

Tapi berdasarkan pengalaman yang saya tahu kebanyakan script writer juga merangkap sebagai copy writer.

Nah, kalau soal besaran gaji script writer gimana? Sepanjang yang pernah saya jalani, dua kali ganti radio dan berstatus sebagai karyawan staf, insentif yang diterima script writer lebih tinggi ketimbang penyiar lepas atau part time.

Bahkan tak jarang script writer bisa kecipratan rezeki lebih bila sedang menggarap materi iklan yang lagi banyak-banyaknya. Makin cair lagi kalau suara script writer ikut kepakai buat isi iklan.

Aih … kesannya maruk ya? tapi as long as team produksi asik aja recording suara kita, just do it …. explore saja kemampuan diri. Tapi jangan pula kebablasan terlalu ngoyo, supaya deadline nggak keteteran…pokoknya harus tetap cemungut, beib!

(* Penulis Buku “Andai Dosa Berbau”)

Komentar

Scroll Up