(SELOW.CO): “Itu kan sekolah yang hampir seluruh gurunya eks simpatisan hatei (baca HTI) Mak, pendirinya aja pentolan organisasi itu. Kok, kamu malah nyekolahin anak-anakmu di sana, sih?”

DUH, BENERAN kaget saya, tetiba worry ketika suatu hari mendapat bisikan dari seorang rekan. Iya khawatirlah, bagi saya pendidikan anak merupakan hal krusial. Tapi kok ya dilalah saya baru tahu sekarang, setelah anak-anak dua tahun bersekolah. Hadehhh!

Bagaimana tak khawatir coba, Muslim mana sih yang hari ini tidak tahu organisasi macam apa HTI itu. Apalagi pemerintah sudah ketok palu mengeluarkan keputusan pembubaran organisasi tersebut yang dituangkan dalam Perpu Nomor 2 Tahun 2017.

Walau sudah tahu semua itu, anehnya hati saya tidak serta merta tergerak untuk segera pindahin anak-anak dari sana. Kenapa?

Ok, saya jawab jujur. Selain kebentur masalah biaya yang tak sedikit, maklum saja dua anak sekaligus tentu nggak sedikit biayanya. Disamping itu saya juga  mencoba untuk tidak grasa-grusu dan lebih mengukur apa yang saya lihat secara nurani dan logika.

Selama bersekolah di tempat eks simpatisan HTI itu, tidak pernah ada satu sikap pun yang mereka bawa pulang menyangkut tentang doktrin khilafah. Bahkan keponakan tertua saya, yang lebih dulu bersekolah di sana dan telah lulus kemudian mondok di sebuah pesantren di Bogor, sama sekali tidak menunjukkan gelagat “janggal”.

Bahkan kalau mau jujur, sebagai emak-emak yang masih minim pengetahuan agama, saya merasa sangat terbantu dengan pengenalan Islam sejak dini yang diterapkan di sekolah tersebut. Sungguh, pengalaman yang tak pernah saya dapat semasa di bangku sekolah dahulu.

Oke, saya ceritakan secara umum deh, pola ajar seperti apa yang diterima anak-anak saya dari sekolah. Sejak awal masuk sekolah mereka telah diajarkan adab-adab sesuai sunnah, mulai dari menjaga pandangan, makan-minum dalam Islam, tidak berkhalwat bermain bercampur baur bersama lawan jenis, sampai bertutur kata yang baik.

Soal ibadah jangan ditanya, buktinya anak kelas 1 sekolah ini sudah tak asing lagi dengan ibadah sunnah shaum Senin-Kamis, tahajud, dan dhuha. Nah, kalau sunnahnya saja terjaga, sudah barang tentu ibadah wajibnya otomatis dijalani.

Oh iya, murid di sekolah ini juga sudah paham dengan aturan penggunaan hijab yang benar sesuai surat Al Ahzab 59 dan aN Nur 31. Maka jangan heran kalau mata polos mereka tiba-tiba terbelalak saat melihat ada wanita berkerudung namun masih berlegging ria tanpa kaus kaki, serta merta mereka bakal mengucap, “Al hayya u minal iman!”, malu itu sebagian dari iman. Ya, karena mereka paham betul, aturan jilbab serupa gamis panjang dan khimar yakni kerudung yang harus melampaui dada.

Meski sudah merasa yakin anak-anak saya aman di sekolah itu, namun sebagai emak-emak rasa kepoan saya terbilang sumbu pendek, mudah terpantik. Untuk memenuhi hasrat ingin tahu lebih lanjut saya pun beberapa kali mengikuti majelis yang lagi-lagi katanya dibina oleh eks kader hatei itu.

Ternyata semakin banyak berinteraksi dengan mereka, semakin apa yang saya khawatirkan tidak ditemukan. Ya jelas sebab isi taklim mereka cuma seputar kajian fiqih, siroh, hadist dan muamalah. Dimana letak makarnya? Saya malah bingung sendiri.

Sebaliknya, saat mengetahui saya sering bolak-balik mengikuti majelis mereka, justru kerabat saya yang merasa ketar-ketir, sampai akhirnya sebuah pesan WhatsAp masuk darinya. “Tante sekarang ngaji di hatei? Jangan kesana lah … pilih yang nyunnah aja”. Ups! Pikiran saya kembali terusik. Tapi saya tetap anteng, menimpali kegusaran kerabat itu dengan senyuman.

Fuiih panjang ya uraiannya yang jelas saya bukan simpatisan, bukan juga kader hatei. Hanya seorang Muslimah yang mungkin imannya setipis kertas, dan sedang mencoba menggali informasi sekaligus berupaya meluruskan opini sesuai fakta.

Tapi satu hal yang menenangkan… inshaAllah anak-anak saya berada pada tempat yang aman, tak perlu khawatir berlebihan.

(*Penulis Kumpulan Cerpen “Bila Dosa Berbau”)

Komentar

Scroll Up