(Selow.co): Kantin rupanya bukan hanya menawarkan hal-hal yang dapat memanjakan lidah sekaligus pengganjal perut saja.

Di tempat-tempat seperti ini juga berpotensi menambah beban dosa, bila makan gorengan lima tapi ngaku cuma makan dua, misalnya. Tapi di kantin -seberapa pun besar atau kecil ukurannya- tak jarang status sosial ikut dipertaruhkan, kalau tidak mau disebut dipamer-pamerkan.

Kantin mungil di salah satu sudut kampus saya ini bisa dijadikan contoh konkrit. Sebenarnya masih ada beberapa kantin lain di perguruan tinggi negeri di Bandarlampung yang letaknya di pinggiran kota itu. Disebut pinggiran karena cukup lima menit bermotor dari kampus sudah mengantar kita ke kabupaten sebelah.

Saya rutin menyambangi kantin ini bila sedang ke kampus. Selain simpati dengan keramahan Bude Sur sebagai pengelolanya, saya juga kepincut akan pemandangan rindang nan asri di sekitarnya. Selalu ada yang berbeda bila ngopi di sini sambil ngudut dan melempar pandangan ke luar.

Namun entah mengapa baru kali ini saya menyadari ada sesuatu yang luput dari amatan saya selama ini. Bahwa ternyata di kantin murahan seperti tempat Bude Sur sekalipun, ego identitas tetap mendominasi. Mungkin, sikap pengunjung yang demikian dimaksudkan untuk mengabarkan kepada pengunjung kantin tentang siapa gue.

Iya, ini fakta dan sesungguhnya saya muak mendapati kenyataan semacam itu. Atau jangan-jangan saya juga termasuk sebagai salah satu umat penganut ego identitas tersebut. Mungkin saja ada pengunjung lain yang pernah satu momen berbarengan dengan saya di kantin ini, juga memendam kekesalan atas ulah saya yang menurutnya sedang pamer identitas.

Maksud ego identitas itu apa, ya? Kalau ditanya seperti itu saya sendiri bingung buat mendefinisikannya. Tapi saya coba memberi sedikit gambarannya lewat cerita berikut ini.

Pagi itu saya sengaja tidak mengopi di rumah. Dengan menunggang vespa tua yang sering mogok ketimbang warasnya, saya berhasil sampai dan duduk di salah satu kursi kantin. Untuk sesaat saya menyapukan pandangan ke sekitar. Tujuannya untuk mendeteksi adakah pengunjung kantin yang saya kenal.

Untungnya clear, tidak ada yang saya kenali. Itu artinya saya bisa leluasa menikmati kopi dan pemandangan asri, tanpa gangguan kawan-kawan kampus yang sepertinya tidak pernah lelah berdiskusi dimana pun dan kapan saja.

Tapi saya keliru. Entah kenapa pagi itu sensitifitas panca indra saya begitu peka, sehingga saya bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan pengunjung lain yang sama-sama mahasiswa di kampus ini. Tak pelak, praktis perhatian saya ikut tersedot menyimak obrolan mereka. Untuk urusan yang satu ini saya kurang bisa mengkategorikan apakah saya masuk tipikal terlalu peka atau sesungguhnya punya bakat stereotip kepoan. Ah, sudahlah.

Sebelum Bude Sur mengantarkan kopi hitam pesanan yang kental dan tidak terlalu manis, saya terusik dengan obrolan 4 mahasiswi yang berada di arah kanan dari tempat saya duduk. Mereka kompak sedang mengeluhkan datangnya tugas yang bertubi-tubi. Kalau melihat penampilannya yang betah pakai jas almamater warna hijau, kayaknya sih rombongan itu mahasiswa baru. Tabiat anak baru kan begitu. Masih bangga-bangganya pakai almet.

Tak jauh dari mereka saya melihat 3 mahasiswi lain. Dari casingnya yang tampil necis lengkap dengan sepatu yang bagian bawahnya diberi penyangga ekstra tebal mirip personil girlband K-pop, saya menduga ketiganya lebih senior ketimbang 4 mahasiswi bau kencur tadi.

Berbeda dengan para yuniornya, isi obrolan trio senior ini lebih update. Maksudnya update ngobrolin tempat nongkrong baru yang pernah didatangi bersama cowok-cowok mereka. Atau ngomongin fashion terbaru yang lagi ngehits.

Rasa penasaran saya makin tergelitik mencerna suara obrolan mereka yang tidak bisa dibilang pelan tapi juga nggak kelewat kencang, namun bisa jelas didengar dari tempat saya duduk atau mungkin juga oleh pengunjung lain.

“Elo masih kan sama dia? Kalau memang nggak bisa diomongin lagi ya mendingan diputusin aja lah. Elo kan cantik, banyak lagi yang mau sama elo. Dari pada elo makan ati mulu, ngapain. Sudah, bulatkan tekad buruan ambil keputusan tegas. Putusin dia!” tukas salah seorang dari ketiga mahasiswi itu pada kawannya yang terlihat lebih cantik di antara mereka.

Mungkin karena bete atau males dikepoin sama kawannya, mahasiswi yang sedang disuguhi hasutan eh pencerahan itu, cuma terdiam sambil memainkan pipet dalam teh botol di depannya. Sampai akhirnya keluar kalimat yang membikin saya terlongok saat mendengarnya.

“Gue masih sayang sama dia. Gue enggak mau pisah sama dia.” Nyes! Saya ikut merasa adem mendengarnya. Halah!

Ternyata benar kata emak dan bapak di rumah, hanya ada dua tipikal manusia yang tidak bisa dinasihati. Tipikal pertama adalah orang gila, sedang tipikal satunya lagi orang yang sedang dimabuk daun kecubung, eit….asmara.

Tapi saya punya kecurigaan tersendiri. Saya mensinyalir ucapan cewek paling cantik di antara mereka itu lantaran sudah ditumpangi kekhawatiran. Dia khawatir saran kawannya nggak tulus. Dia menduga itu hanya akal-akalan semata dari kawan-kawannya yang sirik karena cowoknya lebih ganteng dibanding cowok-cowok mereka.

Tak heran kalau kemudian muncul pikiran di benaknya bahwa semua ini tipu daya. Sangat mungkin karena sirik mereka akhirnya sepakat bersekutu untuk memisahkan dia dari cowoknya. Enak aja. Paling juga kalau gue putusin, nanti cowok gue kamu orang gebet di belakang gue,” begitu dugaanku tentang isi kepala cewek cantik itu.

Kini aku bisa makin memahami kebenaran petuah emak dan bapak di rumah, sekaligus bisa menambahkan, bahwa selain susah diberi nasihat ternyata orang yang lagi kasmaran juga jadi sangat curigaan.

Belum tuntas saya menyimak obrolan ketiga cewek itu, tiba-tiba terdengar suara khas Bude Sur. “Maaf ya agak lama kopinya. Soalnya air panasnya ngerebus dulu, yang di termos sudah habis,” katanya sembari senyum ramah.

Tak sabar saya langsung menyeruput kopi panas itu. Walau cuma sebatas membasahi lidah, namun sugesti air kopi sudah cukup menciptakan rasa nikmat setelah dipadu pekatnya kepulan asap dari sebatang rokok yang saya hisap.

Sambil menghembuskan asap rokok tiba-tiba radar pendengar saya menangkap suara obrolan kelompok kecil yang duduk di sisi kiri saya. Sekilas saya tengok mereka. Ada lima mahasiswa duduk mengerubungi meja dengan lima gelas kopi di atasnya. Satu orang di antaranya seorang perempuan yang tampilannya seadanya saja. Sementara keempat kawan prianya terlihat slengean bahkan sekilas cenderung terkesan urakan.

Tapi saya cukup dibuat kagum dengan tema obrolan mereka. Kelimanya sedang mempergunjingkan perilaku cebong dan kampret yang menurut mereka sama-sama menjemukan, bahkan salah seorang di antaranya menegaskan sebagai perilaku menjijikan.

Lagi-lagi saya bisa bilang, suara kelima anak muda ini tidak pelan tidak pula kencang, tapi tetap jelas terdengar. Kok, ada kesamaan volume suara di antara para pengunjung kantin ini saat sedang berbincang. Apakah itu kebetulan semata, atau memang naluri kaum penganut ego identitas memang seperti itu. Apalagi motivasinya kalau bukan supaya orang lain tahu siapa gue! (*)

Komentar

Scroll Up