(Selow.co): Mungkin pemilu serentak bulan April 2019 mendatang merupakan kali pertama buatmu masuk bilik tempat pemungutan suara (TPS). Pertanyaannya apakah kamu akan ikut pemilu? Lantas apakah kamu sudah punya ‘jagoan’ yang bakal dipilih?

Di alam demokrasi seperti sekarang memilih saat pemilu merupakan hak asasi setiap individu yang sudah berumur minimal 17 tahun. Sebagai anak muda kesempatan ini harusnya dipergunakan. Tapi kenyataannya masih sering dijumpai anak muda yang sudah bisa ikut pemilu namun malah ogah memilih.

Alasannya karena tidak tertarik pada dunia politik atau menganggap politik itu kotor. Ada juga yang punya keinginan ikut memilih tapi tidak tahu harus memilih siapa. Karena bingung pada akhirnya ia tidak ke TPS dan sia-sialah hak suara yang dimilikinya.

Situasi seperti di atas sebenarnya sungguh sangat disayangkan. Sebab saat ini jumlah pemilih pemula seperti itu terbilang banyak. Bayangkan, kalau setiap anak muda yang sudah memiliki hak suara ikut pemilu, tentu pilihannya berdasarkan alam pikir dan jiwa mudanya. Kita percaya, pilihan anak muda pasti asyik.

Kalau anak-anak muda yang jumlahnya besar itu, ternyata berhasil memenangkan calon yang dipilihnya, orang yang terpilih itu besar kemungkinan memang kandidat yang punya ‘ikatan batin’ dengan alam pikir anak muda. Kalau tidak, rasanya tak mungkin dipilih mereka. Asyikkan? Anak muda yang asyik,¬†memilih kandidat yang asyik pula. Klop deh!

“Aku nanti pasti ikut memilih. Secara itu pengalaman baru buatku,” ungkap Sela, mahasiswi Fakultas Ekonomi, Unila, saat ditanya apakah akan memanfaatkan hak suaranya pada pemilu serentak nanti.

“Kalau ada anak muda yang masih golput. Itu mungkin sudah jadi keyakinan dia. Tapi ada juga kok yang cuma sekadar ikut-ikutan golput. Hak masing-masinglah. Tapi apa kerennya golput? Malah kesannya kayak enggak punya pendirian,” tambahnya.

Menurutnya, kalau memang alasan golput karena menganggap politik di negeri ini sudah tidak baik, ya mestinya orang-orang golput itu berupaya merubahnya. Setidaknya upaya itu ditunjukkan dengan ikut memilih orang yang menurutnya terbaik di antara pilihan yang ada.
“Kalau sudah tahu ada yang enggak beres, tapi didiamkan saja, ya nambah tidak bereslah,” kata Sela.

Sementara Sadam, seorang aktivis gerakan koperasi yang berdomisili di Sukarame, menganggap memang tidak ada orang yang sempurna. Tapi dari sekian calon yang akan dipilih pada pemilihan anggota dewan, misalnya, pasti ada di antaranya yang cukup baik.

“Mana ada yang sempurna banget. Namanya juga manusia. Tapi seenggaknya kan kita bisa pilih yang cukup baik. Misalnya yang benar-benar punya kepedulian pada lingkungan atau sesama. Kenapa enggak kita mulai memilih calon-calon seperti itu. Setidaknya dia punya bakat untuk baik. Kalau ternyata dia melenceng ya jangan kita pilih lagi di pemilu berikutnya,” ungkapnya.

Lain lagi menurut Echa, menurutnya dia akan ikut memilih pada pilpres dan pemilihan anggota dewan nanti. “Aku pilih calon anggota dewan yang enggak main money politic. Aku enggak suka sama yang kayak gitu. Calon yang ngandelin duit tuh saat kampanye enggak ngapa-ngapain. Ngobrol sama tetangga juga enggak, apalagi sama calon pemilihnya. Tapi biasanya saat mendekati pemilu mendadak jadi sibuk keliling bagi-bagiin duit supaya dipilih,” kata mahasiswi UIN Raden Intan ini.

Baginya calon anggota dewan macam begitu cuma datang ke warga kalau ada perlunya saja. Mereka menganggap para pemilihnya tak ubahnya seperti orang bayaran. Tak lebih dari itu. “Jadi wajar kalau calon-calon dewan yang kayak gitu pas sudah terpilih sontak lupa ingatan sama kita-kita yang sudah milihnya. Menegur kita pun mungkin dia alergi,” tukasnya.

Lalu bagaimana rumusan yang setidaknya bisa dipakai sebagai kisi-kisi untuk memilih calon anggota dewan?

“Pilih aja calon yang mau membaur. Mau peduli dengan persoalan masyarakat. Walau dia enggak money politic naburin duit, orang kayak gitu patut dipilih. Kitanya juga, sebagai anak muda, jangan ikut-ikutan mengharap money politic. Kalau enggak dikasih duit enggak mau milih, padahal calon itu punya kepedulian tinggi pada lingkungan di sekitarnya. Kalau masih ada anak muda yang punya pikiran begitu ya sangat disayanhkan. Enggak keren tuh,” pungkas Sadam. (Red)

Komentar

Scroll Up