(SELOW.CO): Meski di bawah pendaran cahaya remang-remang, mata saya masih bisa menangkap jelas betapa kotornya bilik-bilik penjara itu.

Saya terus melintas melewatinya. Aroma tak sedap sesekali menyelinap masuk ke lubang hidung. Sementara itu, dari balik jeruji-jeruji besi yang berdiri vertikal, beberapa penghuni hotel prodeo itu tampak begitu tajam menatap orang asing yang melintasi rumah para pesakitan itu.

Situasi itu saya rasa kala menyambangi kawan nahas yang akhirnya menikmati dinginnya bermalam di bui, sekira lima tahun lalu. Kasusnya, enggak banget! Sang teman kelewat selon menjajakan kupon togel keliling kampung.

Saking semangatnya dengan “bisnis” anyarnya itu, tak pandang bulu, semua orang dia tawari untuk pasang lotre. Lantaran dirasa meresahkan lingkungan, selang sehari, pagi-pagi istrinya histeris saat si kawan diborgol lalu digelandang ke kantor polisi. Berbulan-bulan dia habiskan waktu untuk “mondok” di tahanan.

Beranjak dari “neraka dunia” itu, mata saya baru terbelalak betapa nikmatnya menghela udara bebas yang selama ini saya nafikan. Dari sana pula, kesan penjara yang angker nan mengerikan makin tertanam di benak saya. Tempat yang, nauzubillah, sebisa mungkin tidak kita huni meski cuma semalam.

Surga Pengedar Narkoba

Waktu bergulir. Jika sebelumnya aura penjara yang horor itu tertanam dalam di kepala, tampaknya akar-akarnya kini mulai tercerabut. Ya, saya tidak lagi melulu melihatnya seperti itu. Malah, bagi beberapa narapidana, penjara tak ubahnya “lapak berdagang” yang menjanjikan seabrek keuntungan. Bukan tanpa alasan asumsi tersebut menyeruak. Banyak kasus yang terang benderang menunjukkan bahwa kini penjara tak lebih seram dari toilet terminal.

Di awal tahun ini saja, napi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Kotaagung sah menjadi tersangka pemerasan sekaligus penyebar foto aduhai seorang polisi wanita di Makassar. Rada janggal ya, karena kelakuan itu leluasa dia lakukan dari dalam penjara. Lalu, BNN Provinsi Lampung juga menyibak kasus jaringan ekstasi yang dikendalikan napi Lapas Kelas IA Rajabasa. Beberapa kasus lain malah melibatkan oknum petugas lapas, seperti kasus mantan Kepala Lapas Kalianda yang akhirnya diganjar 15 tahun penjara karena turut bergelut dalam bisnis haram narkotika (Lampung Post, 7/2/2019).

Penjara yang mestinya menjadi alat perampas kemerdekaan para tahanan agar jera tampaknya tak berjalan sesuai koridor. Memang, para napi masih bisa menikmati hak-hak lain, seperti hiburan, olahraga, beribadah, seni, dll. Akan tetapi, hal biasa itu berubah menjadi “barang mahal” di lapas. Ada uang, ada pelayanan! Itulah yang disebut pengamat hukum Unila, Eddy Rifai, sebagai prisonisasi dalam penjara.

Kondisi itu jualah yang dimanfaatkan Kepala Lapas Kalianda tersebut untuk melanggamkan budaya “wani piro”. Dengan memanfaatkan sederet simbol pangkat nan mengilat di bahunya, sang pimpinan memberi lampu hijau dengan menyuguhkan fasilitas khusus kepada napi dalam melakukan transaksi narkoba. Perlakuan spesial itu salah satunya dengan mengizinkan napi untuk ber-ponsel ria. Jika bisnis haram itu berjalan mulus, fulus pun kembali menginfus ke saku Kalapas.

Di saat pemerintah menabuh genderang perang terhadap narkoba, sang abdi negara malahan membelot menyuburkan transaksi barang haram tersebut. Gilanya, sang oknum tengik ini mempraktikkannya di lembaga pemasyarakatan, yang seharusnya menjadi tempat suci dan bersih dalam membina tahanan agar kembali “lempeng” saat terjun ke masyarakat. Miris, ya?

Wajarlah jika mereka akan sering-sering berdoa supaya penjara penuh-sepenuh-penuhnya. Dengan begitu, curut-curut itu memungkinkan untuk menggerogot lebih banyak “cis” dari gerombolan orang malang nan tak berdaya tersebut.

Ada kongkalikong di sana. Kerja sama busuk ini mungkin saja sudah lama berlangsung. Sayang, aparat baru bisa menjamahnya akhir-akhir ini. Dengan gaji yang terbilang besar-bagi saya-mestinya petugas lapas tidak perlu lagi “nyeser” dengan cara culas seperti itu. Kalau sudah terbongkar seperti ini, mau ke mana lagi wajah akan dipalingkan? Cuma dinding lembap penjaralah yang mau menerima raut penyesalan itu.

Memang, koalisi sipir dan napi ini sama-sama menguntungkan. Tapi, tujuan seorang penjahat dikerangkeng kan agar kapok. Apabila telanjur dienakkan seperti ini, artinya penjara tak membuat penjahat tobat. Atau, karena begitu nyamannya mengeruk pundi-pundi rupiah dari balik jeruji besi, mungkin mereka bakal betah bin kerasan hidup di penjara.

Yang jelas, kini bos lapas itu bakal mencicipi bersemayam di balik terali besi. Tentu, kita berharap tidak ada perlakuan spesial di sana, apalagi jika dia sampai diberi kebebasan menggunakan Android dalam bui.

Mencoreng Negara

Bukan saja tentang terkait petugas lapas dalam transaksi narkoba, kasus lain juga pernah mencoreng hidung Kemenkum HAM sebagai induk dari lapas-lapas tersebut. Sebelumnya, kita mendengar warta tentang kerusuhan yang pernah terjadi di Mako Brimob, Depok.

Kemudian, disulapnya bilik penjara di Lapas Sukamiskin yang menjadi ruangan supermewah bak kamar hotel. Jika sudah begini, tentu sang penghuni tak tidur di lantai dingin, tapi akan terlelap pulas di kasur empuk.

Mau makan, kulkas dan microwave sudah terpajang rapi di sudut ruangan. Televisi pun standby bisa ditonton 24 jam. Belum lagi seabrek fasilitas lainnya yang siap memanjakan tahanan spesial berdompet tebal tersebut.

Mestinya para pemangku kepentingan tak boleh banyak molor dalam menghadapi persoalan ini. Jangan ada diskriminasi di antara sesama napi! Pemerintah mesti membereskan tuntas masalah ini. Sebab, rakyat bakal bingung untuk menitipkan kepercayaan mereka jika negara tak juga hadir di sini. Nah, lo! (*Jurnalis)

Komentar

Scroll Up