(SELOW.CO): Protes tidak selalu harus disampaikan lewat berdemo sambil teriak kencang pakai toa, atau meradang debat kusir seraya adu tarik urat leher. Protes juga bisa efektif menangguk respon, walau hanya disampaikan lewat foto nyeleneh.

Tren cara publik menyampaikan protes agaknya mengalami pergeseran. Minat warga tidak lagi hanya terpaku pada satu pilihan mainstream untuk selalu menempuh jalur unjuk rasa yang ditingkahi kegaduhan.

Karena sesungguhnya memang tersedia banyak kanal pelepasan lain yang bisa dipakai untuk mengungkapkan keresahan atau bahkan tuntutan terhadap pemerintah. Sebagai contoh, tentu kita masih ingat pada upaya warga di beberapa daerah yang menanam pohon pisang di jalan berlubang.

Tak pelak peristiwa semacam ini kerap menjadi buah bibir. Jadi omongan orang banyak. Tapi justru efek itu yang dikehendaki. Semakin pergunjingannya meluas, semakin besar pula kemungkinan “pesan pohon pisang” itu, bisa sampai ke telinga kepala daerah atau aparat pemerintah yang sedang ngadem di ruang kerjanya yang ber-AC dan wangi, serta kerap meluncur di jalan aspal mulus dengan mobil dinasnya yang mentereng.

(Foto ist: Robby)

Kalau pun message itu tidak digubris, warga tak langsung patah arang. Mereka bakal kembali menyatroni ruas jalan atau lebih tepat disebut kubangan, lantaran sudah lebih banyak lubang menganga ketimbang lapisan aspal yang tersisa.

Kali ini warga bukan sekadar menanam pohon pisang semata, tapi juga sudah menjinjing bekal ikan lele untuk ditebar di kubangan, seakan mereka ingin bilang: “Ruas ini sudah tidak pantas disebut jalan, karena lebih mirip kebun dan balong ikan”.

Apakah setelah protes all out serupa itu, lantas pemerintah tergugah dan lekas memenuhi aspirasi warga? Ini bukan perkara matematis dimana 1+1= 2. Tidak selalu seperti itu. Sebab tidak sedikit tuntutan yang membentur tembok angkuh sekaligus tuli plus tidak peka.

Kalau sudah begini warga harus terima nasib sial karena punya pemimpin yang acuh tak acuh dan sudah terlanjur menggenggam teguh prinsip “Biarlah anjing terus-terusan menggonggong sampai serak, sebab kafilah yang tebal iman dan tak mudah terpengaruh ini, akan tetap melenggang”.

Sebaliknya, kalaupun protes itu pada akhirnya menangguk respon dari pemerintah, hendaknya jangan terlalu lekas puas. Karena boleh jadi obat penawar yang diberikan untuk memperbaiki jalan penuh lubang itu, hanya “obat warung” yang cenderung bukan untuk mengobati melainkan hanya sebatas penghilang rasa sakit sementara. Jadi sejatinya sumber penyakit masih bercokol di tempatnya.

Kok, bisa berpendapat begitu? Halah, kayak tidak tahu saja. Apa kurang banyak contoh yang berseliweran di depan mata kita mendapati ruas jalan sudah berlubang lagi padahal baru sebulan atau dua bulan lalu diperbaiki. Menjengkelkan, toh?

Memang menyebalkan. Rasa itu pula kiranya yang membekas pada Robby Ari Sanjaya, seorang pewarta foto di Sumatera Selatan. Sosok yang akrab disapa Robby itu belakangan ini memang sedang hits di kalangan warganet.

Penyebabnya tiada lain karena hasil karyanya yang dianggap nyeleneh alias tidak lazim, namun justru menangguk banyak apresiasi.

Ceritanya begini. Robby prihatin sekaligus sebal dengan kondisi jalan rusak yang saban hari dilaluinya di ruas Batumarta, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Meski sudah rusak parah cukup lama dan tidak sedikit warga pengguna jalan yang tersungkur oleh jebakan lubang menganga, namun pemerintah daerah seolah tutup mata dan tak bertindak apa-apa.

Didorong rasa kesal dan tidak tahu lagi harus menyampaikan keluhan dengan cara apa, sebab sebelumnya warga sudah berulangkali protes namun tidak juga membuahkan hasil, serta merta muncul gagasan di benak Robby untuk membunyikan protesnya lewat fotografi.

Ia lantas memakai sepasang model untuk berpose di jalan berlubang,  bahkan pada beberapa momen Robby mengabadikan pose para modelnya sedang berkubang di jalan berlubang yang digenangi air hujan. Foto-foto itu lantas diunggah ke sosial media miliknya, dan dalam waktu singkat menjadi viral.

(Foto ist: Robby)

Tak dinyana, tanggapan berisik para netizen mampu mengusik pendengaran aparat pemerintah. Bahkan Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, sampai ikut angkat bicara. Selain turut mengapresiasi cara protes kreatif yang diusung Robby, dirinya juga berjanji akan menindaklanjutinya dengan melakukan perbaikan pada jalan yang termuat di foto-foto viral tersebut.

“Tapi harap bersabar, karena perbaikannya tak bisa instan, butuh proses. Soal protes lewat foto-foto itu sungguh kreatif. Kita nggak marah, kok”.

Mudah-mudahan respon tersebut bukan janji klise, sekadar PHP doang, persis seperti yang acapkali diucapkan kepala daerah lainnya saat diminta warganya untuk memperbaiki jalan berlubang. Eits! awas kena sindir lewat foto lagi Pak Gub. (*)

Komentar

Scroll Up