(SELOW.CO): Luar biasa riuhnya dunia media sosial akhir-akhir ini. Hiruk pikuk menjelang Pilpres terus menerus digaungkan nggak ada henti. Kalau berenang ada jeda untuk mengambil nafas, bacaan buku ada komanya, belajar ada istirahatnya. Nah, kalau isu di dunia maya, nyaris nggak ada koma apalagi titik.

SATU TEMA KELAR, lanjut ke tema berikutnya, sangkut lagi ke yang lainnya. Melingkar, lurus, berkelok, balik lagi, naik turun. Nggak ada putus-putusnya, cuman beda bentuk doang.

Apalagi pasca debat pilpres dari yang pertama hingga keempat. Makin riuh. Tak perlu menunggu selesai debat untuk mendengar para pengamat mengungkapkan pendapat. Kelamaan. Kita lihat saja media sosial. Karena di saat yang bersamaan, jagat dunia maya sudah dipenuhi komentar-komentar penuh tanda seru. Saling adu argumen berdasar statement yang bahkan belum selesai dipaparkan.

Sekali melihat bahasa tubuh yang tak lazim dalam potongan video, langsung posting. Tak lama kemudian, meme-meme dengan caption menggelikan dan menggemaskan juga bermunculan.

Atau sesungguhnya malah menyebalkan? Yups, kalau melihat mereka yang menyebarkan informasi tak lengkap dan cacat nalar. Dan ini bukan berlaku untuk salah satu kubu saja, tapi dua-duanya. Level grassroot begitu cepat merespon dengan diksi-diksi yang nakal dan sedikit liar.

Beberapa hari yang lalu, di sebuah grup whatsapp alumni orang pintar (berarti sekarang sudah tidak pintar lagi, xixixi…) seorang teman, sebut saja Mawar, mengunggah foto pengantin; Prabowo sebagai laki-laki dan Jokowi lengkap dengan kebaya. Candaan yang bermaksud menggambarkan betapa seharusnya kedua capres itu akur dan serasi.

Lalu teman yang lain, sebut saja Melati, bilang betapa gagahnya Pak Prabowo. Mawar adalah pendukung 01 garis keras, sedangkan Melati pendukung 02 garis menengah.

Mawar cs membully 02 dengan diksi yang menyerang pribadi. Melati n the genks membalas dengan bahasa pembelaan yang luar biasa dahsyatnya. Anggota whatsapp langsung terbelah 3. Pendukung Mawar, Melati dan golput. Kisruh.

Bagaimana dengan saya? Ya senewen sekaligus kesal. Bagaimana bisa kita membangun wacana yang sehat hanya berdasar pada meme-meme dan analogi yang tak bergizi? Bagaimana mungkin sebuah ide besar bisa lahir dari orang-orang yang berpikiran kerdil?

Duh, kalau enggak ingat ikatan pertemanan aja, mau rasanya diri ini mengeluarkan taring dan tanduk. Biar bisa mengisap dan seruduk saja darah ngaco dan tongkat kepongahan orang-orang seperti itu. Lah, mereka tuh nggak kasihan apa dengan orang-orang seperti saya yang cetek ilmu dan fakir gagasan ini? Hiks.

Ada lagi kasus Ibu Iriana yang terjatuh, tangan Prabowo yang terluka, menjadi bahan kukusan bagi pendukung kedua capres. Ya itu tadi, kita menjebak diri sendiri pada isu-isu yang tak urgent. Kita berada pada tanda koma, dan masih bingung serta kesulitan untuk membuat narasi selanjutnya. Terjebak pada apa yang tersirat, malas untuk memaknai yang tersurat.

Ibu jatuh, janganlah dijadikan bahan candaan. Videonya jangan pula dipaparkan dan dishare kemana-mana. Jikalau ada yang ingin disampaikan terkait kejadian naas itu, kembangkanlah dengan narasi yang penuh pembelajaran.

Pun begitu ketika Pak Prabowo salaman menggunakan sarung tangan. Carilah informasi yang valid, tangan beliau terluka, bukan karena takut kuman atau karena priyayi. Beliau itu tentara, loh. Yang keluar masuk hutan dan gunung, ketemu pacet, binatang buas, makan seadanya, bisa mandi bisa enggak selama berhari-hari. Apa iya takut kuman dan memepertahankan gaya priyayi?

Narasi yang menggemaskan kalau boleh dibilang menyebalkan, bukan? Atau bisa jadi itu yang komentar belum pernah naik gunung dan keluar masuk hutan, eh.

Cerita terbaru adalah viralnya foto salat berjamaah saat kampanye 02 di GBK, Ahad (7 April) di mana pada beberapa titik lokasi berdiri saf perempuan bersisian dengan laki-laki. Bertebaran tanya cenderung mencela. Jawaban bahwa salatnya tidak batal berdasarkan pendapat Imam Malik, As-Syafii dan beberapa ulama, bisa dipahami oleh sebagian tapi tidak oleh yang lain.

Sebenarnya sampai di sini sudah cukup. Biarkan saudara kita beribadah di sela ratusan ribu manusia. Bayangkan jika kita ada di situ. Kita yang belum tahu area, datang bersama ayah dan anak laki-laki. Sepertinya sulit untuk memisahkan diri. Maka bergabung demi tidak tersesat adalah salah satu cara nyaman dan tepat.

Lagipula, apa iya kita jadi tak salat karena tak menemukan saf yang tepat? Ini yang jelas tak boleh. Salat itu wajib dan kebutuhan. Tak bisa berdiri, ya duduk. Tak bisa duduk, ya posisi tiduran. Masih tak bisa juga, pakai kedipan mata. Intinya, selagi dalam keadaan waras, salatlah!

Berhusnuzonlah! Jangan terlalu sibuk mempermasalahkan suatu hal sampai lupa dengan kebaikan lainnya. Bahwa acara berjalan tertib, teratur, tak ada sumpah serapah, joget dan nyanyi-nyanyi gaje, bahkan, dalam hitungan satu dua jam, GBK bersih seperti semula. Bukankan itu manis, Saudara?

Seingat saya, sekira lima tahunan yang lalu, konflik yang terjadi biasanya vis a vis antara pemerintah dengan masyarakat. Masalahnya ya korupsi, pungli dan sejenisnya. Tapi lihat sekarang, konflik horizontal terlihat sangat masif. Pemerintah yang harusnya jadi problem solver, malah memposisikan diri sebagai petarung dalam arena yang seharusnya tak ada. Ruang diskusi yang sejatinya berisi ide brilian diganti dengan wacana perbedaan yang meruncing pada kata intoleransi dan persekusi. Duh!

Benar, siapa presiden kita nanti sudah ditetapkan oleh Sang Pemilik Semesta. Tapi adalah kewajiban kita bersama untuk memaksimalkan ikhitar demi menjadikan negara ini kokoh, tangguh, mandiri, beriman dan santun. Yang sudah baik ya diteruskan. Yang belum baik, dibenahi. Yang belum ada, diciptakan.

Berharap sepenuh hati agar tak akan ada lagi persekusi, intimidasi, intoleransi dan intervensi membabi buta. Indonesia selalu diridhoi Allah, bermartabat, kuat di mata dunia, welas asih dan penyayang terhadap rakyat. Duuh, bahagianya.

Menjelang pilpres dan pileg marilah kita belajar berdemokrasi dengan riang gembira. Cukup para caleg yang main uang saja yang stres. Yang bersih dan rakyat jelata kayak kita ini jangan. Kita mah seseruan bikin komunitas penuh tawa aja. Macam Komunitas Bubur Diaduk, Komunitas Makan Mie Buka Bumbu Pakai Gunting, Komunitas Sungkan Masak Hobi Makan, Komunitas Bapak Rajin Ngopi Malas Cuci Gelas, Komunitas ASN Foto Tutup Muka Pake Panci, dan banyak lainnya. Kreatif dan cukup membahagiakan, kan?

Aku sih masuk Komunitas Sungkan Masak Hobi Makan dan Komunitas Penulis Lupa Deadline tapi Selalu Ingat Royalti. Hihihi. Kalau kamu?
(*Penulis Fiksi)

Komentar

Scroll Up