(Selow.co): Dibekuk bosan, …. itu yang mereka rasakan.

Bersama dengan Forum Puspa Lampung, saya dan rombongan menyambangi kembali lokasi bencana Tsunami Selat Sunda di Lampung Selatan.

Kali ini, kami tidak lewat tol karena ditutup. Kami menyisir dari Desa Totoharjo sampai Kalianda.

Sepanjang perjalanan ke lokasi saya perhatikan kondisinya sudah lebih membaik. Beberapa rumah telah ditempati oleh penghuninya, bahkan aktivitas ekonomi juga sudah mulai terlihat. Ada yang berdagang durian, tambal ban, dagang sayuran matang dan warung klontongan di rumahnya.

Tapi masih juga ada yang tinggal di pengungsian. Terakhir, kami menyambangi pengungsi di Indoor Tenis Kalianda. Sebagian besar mereka berasal dari Pulau Sebuku dan Sebesi.

Kami bertandang seraya membawa mainan anak dan perlengkapan menggambar serta mewarnai. Seperti gula didatangi semut, anak-anak berduyun-duyun bergerak ke arah sumber mainan.

Sementara di bagian lain saya perhatian, satu rombongan pengungsi nekad kembali ke rumahnya dengan anggaran biaya sendiri.

Sedangkan sebagian besar lainnya masih menunggu instruksi dari kepala dusun tentang kepastian gelagat Gunung Anak Krakatau. Mereka akan tetap bertahan di penampungan bila sepak terjang GAK masih juga uring-uringan. Namun bila dirasa sudah aman barulah mereka akan menempati kembali tempat tinggalnya.

Pada satu kesempatan saya ajak ngobrol ibu-ibu terdekat. Pertanyaan standar saya lontarkan. Semisal tentang kondisi penampungan dan seputar aktivitas yang dilakukan selama di pengungsian.

Sebagian mereka mengakui kebutuhan pakaian dan makanan juga alas tidur sudah terpenuhi. Hanya saja ada sedikit kesulitan air, terutama pada waktu pagi hari, dimana mereka mesti antri untuk buang hajat atau mandi.

Diakui pula oleh mereka bahwa setelah 14 hari berada di pengungsian ini, rasa bosan mulai datang membekuk. Badan terasa sakit semua karena tidak banyak aktivitas.

“Ya kami hanya makan, minum, mandi dan mencuci pakaian yang kotor saja. Selebihnya duduk-duduk begini. Bosan,” kata seorang ibu.

Kemudian kutanyakan kekira, apa sih yang bisa mengalihkan kebosanan?

Rupanya mereka hanya butuh penggerak yang membuat mereka punya aktivitas. Misalnya memasak, menyapu atau kegiatan lainnya, seperti rutinitas yang mereka lakukan selama ini saat berada di rumah. “Sesudah beberes rumah, kami ke kebun. Tapi di sini nggak ngapa-ngapain, selain menunggu dari pagi ke pagi lagi,” keluh ibu itu lagi yang diamini oleh ibu-ibu lainnya.

Dari sini saya menyimpulkan,  sesungguhnya mereka tidak keberatan untuk mengerjakan apapun yang terkait pemenuhan kebutuhan mereka.

Karena diam saja, sangat membosankan, sekalipun kebutuhannya terpenuhi! (*Penggiat Isu Perempuan)

Komentar

Scroll Up