(SELOW.CO): Tadi malam (20/3), saya menonton salah satu video yang di-share kawan di akun Facebook-nya.

VIDEO ITU BERISI statement Prof. Mahfud, M.D., dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) di TV One. Pembahasannya mengenai OTT Ketua Umum PPP Romahurmuziy alias Romi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dalam statement-nya, salah satu yang diungkap Prof. Mahfud adalah dugaan permainan dalam pemilihan rektor (pilrek) Universitas Islam Negeri (UIN) dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) pada beberapa provinsi di negara ini.

Usai menonton video berdurasi 26 menit 51 detik itu, saya bertanya dalam hati. Apakah dugaan permainan dalam pilrek UIN dan IAIN bisa juga terjadi di pilrek perguruan tinggi negeri (PTN)?

Sebab, setahu saya, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) memiliki hak suara 35 persen dari total pemilih dalam pilrek di PTN.

Hal itu diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 24 Tahun 2010 tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Rektor/Ketua/Direktur pada Perguruan Tinggi yang Diselenggarakan oleh Pemerintah. Kemudian diperbaharui dengan Permenristek Dikti No.1 Tahun 2015. Selanjutnya diterbitkan lagi Permenristek Dikti No. 1 Tahun 2016.

Saya menilai, adanya aturan itu membuat potensi terjadi tindak pidana korupsi dalam pilrek di PTN. Bukannya saya meragukan integritas menristekdikti. Karena, bisa saja ada orang-orang yang mengatasnamakan menteri mengambil kesempatan dalam aturan ini.

Karena itulah, saya juga ”menitipkan” harapan kepada KPK agar juga memelototi pilrek di PTN-PTN yang ada di Indonesia. Salah satunya di Universitas Lampung (Unila) yang rencananya tahun ini akan melangsungkan pilrek.

Informasi yang saya dapat dari salah satu media, penjaringan nama calon rektor Unila akan dilakukan pada Juni. Kemudian, rektor baru bakal diketahui pada September.

Harapannya, ketika KPK ikut memelototi pilrek Unila, tidak ada yang berani coba-coba melanggar hukum. Sehingga rektor yang terpilih nanti adalah yang benar-benar diinginkan civitas akademika ”kampus hijau”.

(*Alumnus Universitas Lampung)

Komentar

Scroll Up