(Selow.co): Ironis memang, saya baru menyadari, sesungguhnya saya sedang kuliah atau lagi berada di wahana Rumah Hantu di pasar malam? Kok, sama-sama menegangkan.

Usai melewati masa perjuangan putih abu-abu yang ditandai dengan mencorat-coret seragam pakai pilok, walau belakangan tindakan ini jadi sesalan, babakan baru dalam kehidupan dimulai; masa perkuliahan.

Jika saya lihat di FTV sungguh indah masa kuliah. Berpakaian bebas, berpenampilan bebas, hidup serasa bebas. Oh indahnya dan begitu merdekanya para maha…siswa itu. Tapi sekarang saya bisa memastikan FTV yang saya tonton sebelumnya isinya kebohongan semata. Untungnya acara seperti itu tergolong fiksi, sehingga saya batal berencana memperkarakannya atas dalil pembohongan publik.

Sekarang saya sudah mengalami langsung menjadi mahasiswa. Tak ada satu pun keindahan dalam FTV yang saya temui dalam hari-hari yang saya jalani dengan ngos-ngosan ini. Tak ada mahasiswa ganteng dengan potongan model rambut tertata ciamik.

Saya malah seringkali melihat cowok berambut gondrong yang begitu bangga dengan mahkotanya itu, sampai-sampai tidak peduli sama isi kepalanya yang pas-pasan yang memang nggak ada pantasnya untuk dibanggakan. Ini mau kuliah atau sedang ikut kontes panjang-panjangan rambut?

Belum lagi realita hidup lainnya di kampus yang sangat bertolak belakang dengan cerita di FTV. Saya juga malah sering mendapati mahasiswa ‘bermata panda’ dengan kantong mata membesar dan lingkaran hitam di sekitarnya sebagai barang bukti sering begadangan.

Keprihatinan ini makin menjadi-jadi bila menyaksikan mahasiswa perantauan yang terpaksa ngekos dekat kampus. Pulang malam langsung cus begadangan garap tugas, bahkan cacing di perut berdemo pun tidak dipedulikan.

Untuk urusan yang satu ini memang masih bisa diperdebatkan. Nggak peduli sama perut keroncongan ini  apakah karena terlalu serius kelarin tugas atau sedang irit lantaran duit di kantong sudah cekak. Biar anak kosan itu dan Tuhan saja yang tahu kepastiannya.

Tapi adanya tugas padat merayap tersebut apakah lantaran kesalahan dosen yang sirik kalau melihat mahasiswanya punya waktu luang buat sekadar ongkang-ongkang kaki sejenak sambil menghela napas melepas penat? Apa seburuk itu kedengkian yang telah bersarang di benak dan hati mereka.

Agaknya dosen-dosen macam itu bila sedang di dalam mobil mesti mulai membiasakan mendengarkan CD lagu ‘Jagalah Hati Jangan Kau Nodai’. Maksudnya supaya menjadi teringat bahwa akan ada hari pembalasan, kelak. Sebab, bukankah hati yang buruk bisa menuntun kita pada langkah yang buruk pula. Ehem…

Kalau di atas adalah cerita seputar pengamatan terhadap kawan-kawan sesama mahasiswa, maka sekarang giliran saya berbagi pengalaman pahit nan getir yang terpaksa pernah saya telan. Sumpah, benar-benar pahit, mirip brotowali yang dijajakan bude-bude jamu gendong saban pagi atau sore.

Saat itu awal semester, para dosen seakan kompak menyenandungkan koor tidak masuk di minggu pertama. It’s oke, kami bisa memaklumi kesibukan mereka yang bertumpuk-tumpuk itu. Tapi kami, khususnya saya, sontak merasa dizalimi oleh tindakan semena-mena dari para dosen yang lagi-lagi seakan kompakan menggelontorkan tugas. Benar-benar bertubi-tubi. Saya nyaris sempoyongan didera tugas tanpa henti dan tak mengenal toleransi itu. Benar-benar kenyataan pahit yang mesti diteguk.

Sampai akhirnya tibalah kenyataan paling pahit berikutnya. Itu berawal saat datang giliran saya mempresentasikan tugas di depan kelas. Sumpah, malam sebelum presentasi saya sudah begadangan belajar. Susah payah memahami dan menguasai materi yang akan dipresentasikan.

Tapi apa daya jalan hidup berkehendak beda. Apa yang saya pelajari semalam seakan tak berguna sama sekali buat menangkis berondongan pertanyaan yang menukik tajam dengan beringas. Satu pertanyaan datang saya gelagapan. Belum mampu menguasai diri sudah datang lagi gempuran pertanyaan selanjutnya. Ampunnn…saya seperti jadi obyek sasaran tembak. Yang bikin nyelekit sederet pertanyaan kejam itu terlontar dari mulut-mulut comel kawan-kawan saya sendiri.

Dalam hati aku mengelus dada. Apakah orang-orang itu masih percaya akan adanya hari pembalasan. Sebab sejak saat itu saya berjanji akan mendatangkan hari pembalasan lebih cepat pada mereka. Khusus buat kawan-kawan saya itu tidak perlu menunggu berlama-lama hari pembalasan di akhirat nanti.

Sebab sejak saat itu pula saya bersumpah. Saya akan belajar habis-habisan saat besok datang jadwal kawan-kawan kejam saya ini giliran presentasi tugas. Saya berjanji akan menghadirkan kedahsyatan daya hancur bom atom Hirosima ke dalam kelas. Biar kawan-kawan kejam itu bisa ikut merasakan kepedihan yang kurasakan saat ini.

Tapi niat untuk mendatangkan azab pada kawan-kawanku itu mendadak luluh dan kemudian sirna. Pasalnya, setelah kelar presentasi saya mendapati kawan-kawan itu tertawa terpingkal-pingkal. Mereka geli melihat saya gelagapan diseruduk pertanyaan-pertanyaan mereka.  Tetapi mereka juga salud karena saya tetap mampu menangkisnya. Ehem…

Untungnya penilaian mereka sejalan dengan penilaian dosen yang menganggap saya berhasil lolos dari lubang jarum. Meski harus melewati saat-saat mendebarkan, akhirnya saya tidak dapat nilai A (memang) tapi juga tidak dapat nilai juru kunci.

Itu saja sudah cukup buat saya, yang sedang-sedang saja! Mirip lirik lagu dangdut yang setia menemani saat saya bergadangan kelarin tugas dari dosen yang belum berhasil memetik hikmah dari lagu Aa Gym yang mengajarkan kita untuk; ‘jagalah hati jangan kau nodai, jagalah hati lentera hidup ini’. (Aprylia Shinta Bella)

Komentar

Scroll Up