(SELOW.CO): Gonjang ganjing harga tiket pesawat yang tak juga membaik menjelang lebaran bikin cemas masyarakat.

BAGAIMANA TIDAK? Tradisi mudik menjelang hari raya konon sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun lalu. Cobalah tanyakan pada para perantau. Pastinya mereka akan bilang, ada yang tak lengkap rasanya bila Idul Fitri dirayakan nun jauh dari sanak saudara di kampung halaman.

Pengalaman hampir sepuluh tahun merantau, tinggal di kota Batam adalah kota terjauh dari kelahiran saya, Bandarlampung. Selama empat tahun menetap di sana, hanya dua kali kami bisa pulang kampung.  Itu pun harus menyiapkan “amunisi” yang tak sedikit dari jauh-jauh hari.

Harga tiket penerbangan normal kala itu masih berkisar antara Rp700 hingga Rp800-an ribu. Namun bila tuslah hari raya dikenakan jangan harap dapat tiket seharga itu.

Dari hunting hampir setiap hari melirik situs perjalanan ketika itu, mentok-mentok pernah dapat harga Rp1,2 juta untuk satu orang sekali perjalanan. Kalikan empat orang untuk jatah pulang-pergi karena saya bawa dua krucil. Belum lagi biaya makan, amplop untuk para sanak saudara dan hal-hal perintilan lainnya di perjalanan. Bisa bengek kalau dipikirin …hiks!

Walau begitu, saya yakin para perantau lainnya akan merasakan hal serupa. Berusaha mengatasnamakan silaturahmi keluarga di atas segalanya. Nabung terus demi pulang kampung! Walaupun keseharian di perantauan makannya Senin-Kamis hehehe.

Beberapa hari lalu, salah seorang teman yang masih tinggal di Batam mengunggah harga tiket ke kampung halamanannya, Surabaya. Angka yang fantastis menurut saya untuk layanan terbang domestik, yakni mencapai 3 juta rupiah.

Aiih … ngalah-ngalahin tarif penerbangan rute Jakarta-Changi atau Jakarta-Kuala Lumpur yang nggak sampai satu juta.

Kalau sudah begini, sebagai warga negara kami boleh nggak sih teriak? Hello pak pejabat terkait ada masalah besar ini, bisakah dicarikan solusinya? Tentu saja karena amanah itu diemban oleh Anda.

Oke-oke … memang ini bukan hal yang mudah, menurunkan harga tiket nggak segampang membalikkan telapak tangan. Banyak intsrumen yang kudu dicermati dan diselaraskan lebih dulu. Tapi yang jelas kami-kami sebagai warga negara hanya bisa mengandalkan peran pemerintah sebagai pemegang kunci utama penentu kebijakan.

Apa?! Kemarin di sebuah pemberitaan Pak Menteri angkat tangan soal harga?

Duh! jangan salahkan mereka kalau lebaran tahun ini lagi-lagi memilih ramai-ramai menghabiskan THR dengan melintasi perbatasan dan memenuhi tempat wisata di negeri sebelah.

Beneran Pak, yang rugi kita sendiri.  Saya bisikin ya, di Singapur dan Malaysia nggak mengenal tuslah kayak kita. Tiket normal penyeberangan pulang-pergi melalui kapal Batam-Singapura hanya sekitar 30 dolar, atau kalau dirupiahkan hanya 300-an ribu rupiah. Batam-Stulanglaut (Malaysia) juga nggak jauh beda.

Jadi, kebayang dong … daripada stress mikirin keinginan pulang tapi dana tak sampai, lebih baik mereka leyeh-leyeh, mejeng keren di patung “Singa Muntah Merlion” atau selfie-selfie cantik sambil makan es krim potong di Orchard Road.

Saya bisa cerita ini, karena pengalaman pribadi, Pak.
Kami yang hidup di daerah perbatasan bukan karena mampu jeprat-jepret berlokasi negeri sebelah, tapi karena negara kasih kesempatan besar untuk itu.

Duh mengalir keluar deh uang kita … Ya mau gimana lagi?!

(*Penulis Cerpen)

Komentar

Scroll Up