(SELOW.CO): Pernahkah bertemu situasi nyebelin yang bikin mood bubar saat baru saja menjejakkan kaki di “pantai perawan” tapi sudah disambut sajian welcome drink, eh…disatroni orang dari antah berantah yang minta duit kebersihan? Huhhh!!!

MANUVER ORANG-ORANG asing itu sungguh tak peka. Beraninya nindas orang kecil, mirip mata pisau hukum yang katanya cuma tajam ke bawah. Bijimana nggak peka, lha wong sudah bela-belain melipir di jalan setapak maksudnya supaya menghindari duit tiket masuk ke pantai komersial, tapi kok masih mau dipajekin dengan dalih uang kebersihan. Dasar tak punya perasaan!

Apa mereka tidak paham, kalau yang nekat blusukan dengan cara ekstrem seperti itu biasanya kaum anak kost, yang kondisi kantongnya kembang kempis dan otaknya sering diperas diajak berpikir keras untuk mendapati tempat rekreasi paket lengkap; murah, meriah dan menyenangkan?

Tapi apa peduli oknum-oknum itu. Mereka cuma tahu satu prinsip dasar yang dijadikan pakem untuk memalak secara halus, yaitu; pasang muka sesangar mungkin sambil pembawaannya disetel dingin abis-abisan. Sampai lalat nempel di hidungnya pun tak digubris demi konsisten dengan karakter stay cool. Lalu jangan pula ketinggalan ngomong secukupnya aja dengan intonasi berat dan ngebas biar dapat efek gahar.

Kalau sukses menjalankan kiat praktis itu, dipastikan duit bakal segera dikantongi, Dream come true! dan persetan dengan gerundelan para korbannya yang merasa seperti abis mimpi buruk disiang bolong.

Sungguh, sepakterjang oknum yang bersembunyi di balik upeti uang kebersihan itu tak ubahnya jelangkung, datangnya tak diundang sekaligus bikin jantungan lalu bikin uang hilang dan hati pun tak senang. Oalah….apakah nasib orang kecil memang selalu begitu? Selalu ada saja yang membuyarkan ekspektasi indahnya.

Nah, kalau kita menemui situasi tidak mengenakkan serupa itu, lantas sikap apa yang perlu diambil biar terhindar dari oknum yang sama menakutkannya dengan dedemit itu?

Saya tak ingin menjawabnya secara langsung, selain saya memang bukan praktisi konsultasi, tapi akan lebih ngena rasanya kalau saya yang bercerita dan para pembaca yang menyimpulkan, biar kayak tagline teve swasta, gitu…beib.

Beberapa waktu lalu saya bersama kawan-kawan menyambangi pantai di salah satu sisi pantai Kota Bandarlampung. Tepatnya di Jalan Ikan Kembung, Telukbetung Selatan. Nama tempat itu terdengar unik bagi saya; Ancolgen. “Emang ada Ancol di Kota Bandalampung?” sergah benak saya.

Entahlah, dari mana asal istilah itu muncul. Menurut beberapa masyarakat di sekitar teluk, mereka mengaku sudah sejak lama akrab dengan sebutan itu. Tapi tidak bisa menjelaskan asal-usul kenapa disebut demikian.

Kalau pun ada yang coba menerangkan kok malah bikin saya malas untuk mempersoalkannya lebih lanjut. Sebab jawabannya seperti ini, “Disebut Ancolgen karena lokasinya dekat sama Gudang Agen, Mas.”…..krik…krik….krik….Ancolgen …Gudang Agen, apa hubungannya? Ah, sudahlah, lupakan saja!

Sejatinya, kawasan Ancolgen itu merupakan sebuah hamparan hutan mangrove (bakau) sebagai mediasi pecegahan air laut. Saat menyambanginya saya melihat ada pembatas larangan bagi kendaraan roda empat memasuki area tersebut. Tak pelak bagi pengunjung yang akan tetap memasukinya harus rela menyusuri jalan tanah berbatu dengan tanaman mangrove di sisi kanan-kiri jalan.

Kebetulan saya dan rombongan datang berkendara motor, sehingga bisa terus melenggang masuk. Tak berselang lama ruas jalan di depan bercabang. Pada salah satu cabangnya terdapat gubukan yang dilengkapi portal bambu alakadarnya. Saya dan kawan-kawan langsung paham dengan keberadaan portal seperti itu. Itu tak ubahnya pertanda “hanya yang berkepentingan yang boleh masuk”, ups bukan…maksud saya “hanya yang bayar yang boleh masuk”.

Mudah ditebak, kami pun melengos dan mengarahkan motor ke ruas jalan yang tidak dipasangi portal. Rombongan motor melaju ke arah pantai yang tidak ada pengelolanya. Tapi bukan berarti kami sudah terhindar dari intaian para penghuni gubuk berportal tadi.

Sesaat setelah kami yang berjumlah tak kurang dari 30 orang memarkirkan motor, saya melihat dari arah gubukan meluncur sebuah sepeda. Saya sempat perhatikan wajah girang si penggowesnya. Dengan bersemangat dia mengarahkan tunggangannya ke arah kami.

Beberapa kawan saya sudah saling tukar pandang menyaksikan ulah si pengendara sepeda. Agaknya mereka sudah dapat menerka manuver apa yang bakal digelar orang itu sebentar lagi. Sebagian kawan-kawan saya lantas berdiri berjejer seakan menyongsong kedatangannya. Sedangkan sebagian lagi langsung bergerak menyebar menjalankan niatan utama kami mendatangi pantai ini.

Detik bertambah detik seirama dengan kayuhan kaki orang di atas sadel sepeda yang semakin mendekati kami. Tapi semakin mendekat, kayuhan sepedanya semakin melemah. Seakan pengayuhnya sudah kehabisan tenaga. Sementara kawan-kawan yang berjajar itu masih pada posisi menunggu. Sampai kemudian sepeda itu benar-benar berhenti di dekat kami.

Sejenak orang di atas sepeda menyapukan pandangannya. Beberapa di antara kami menyambutnya dengan melemparkan senyum, sedangkan sebagian lagi balas memandang tanpa ekspresi. Terutama kawan-kawan saya yang sedang berdiri berjajar menunggunya. Alih-alih balas senyum, sepertinya mata mereka tak berkedip saat melihat lelaki itu.

Untuk beberapa saat tidak terdengar sepatah kata pun keluar dari mulut lelaki itu. Lalu seorang kawan mencoba mengambil inisiatif untuk sekadar memecahkan suasana hening namun mencekam ini.

Sepintas saya jadi teringat dengan aksi-aksi di film cowboy, dimana dua kelompok Janggo saling berhadapan dengan pistol siaga di pinggang masing-masing dan dipastikan senjata-senjata itu akan berlomba menyalak kalau ada salah satu di antara mereka yang membuat gerakan mencurigakan.

Kawan saya maju mendekati orang itu sambil berucap, “Kenapa, Bang?”. Sejenak menunggu tapi tak ada jawaban dari yang ditanya. Malah lelaki bersepeda itu kembali menyapukan pandangannya ke arah kami.

Merasa belum mendapat jawaban, kawan saya tetap menunggu sambil berdiri di dekatnya. Hingga akhirnya terdengar suara agak tercekat yang keluar dari rongga mulut si pengayuh sepeda. “Nggak apa-apa. Nggak jadi,” jawabnya kikuk, lalu memutar balik arah sepedanya sambil mengayuh lemas.

Menyaksikan ulah orang itu kami kembali saling lempar senyum. Ada-ada saja. Tapi kenapa dia urung memungut uang kebersihan seperti yang kami yakini pasti akan dilakukannya pada pengunjung lain. Apa karena dia sudah berhitung jumlah kami kelewat banyak? Ah, jangan suuzon.

Saya menduga orang tersebut malu hati untuk meminta uang kebersihan,  karena lokasi pantai tempat kami berdiri dipenuhi serakan sampah plastik. Belum lagi dia melihat sebagian dari kami sedang memunguti sampah-sampah plastik atau clean up di bibir pantai. Jadi bagaimana mungkin lelaki itu meminta uang kebersihan kalau ternyata kebersihan pantai itu tidak terjaga, ditambah lagi justru kawan-kawan saya yang sedang bersih-bersih di sana.

Kebetulan kawan-kawan saya ini memang tergabung dalam sebuah komunitas pemuda-pemudi peduli lingkungan bernama #makansampah. Kehadiran mereka ke Pantai Ancolgen memang untuk menggelar aksi pembersihan pantai.

Kelakuan oknum pemungut uang kebersihan itu memang cukup konyol. Maksud hati ingin menjemput rezeki, tapi malah malu hati sendiri. Usai bersih-bersih kami bergegas meninggalkan pantai. Saat melewati gubukan berportal dimana lelaki pengayuh sepeda dan kawan-kawannya bercokol, laju motor kami sedikit perlambat untuk sekadar berpamitan.

Namun tunggu punya tunggu, tak ada satu pun wajah penghuni gubukan itu yang mengangkat kepalanya. Agaknya mereka sedang menekuri nasib, atau tak sanggup bertatap muka dengan kawan-kawan komunitas saya yang abis mandi keringat membersihkan pantai. Cuma orang-orang itu yang tahu isi hati mereka sendiri. (*Jurnalis)

Komentar

Scroll Up