(SELOW.CO): Ada banyak keberuntungan yang saya rasakan, hingga saya merasa benar-benar kejatuhan durian runtuh.

Awalnya saya cuma memburu durian jatuh dari pohon. Siapa nyana saya malah dapat bonus melihat air terjun indah di balik perkebunan warga. Saya pun berkesempatan menyambangi sebuah tempat yang dikeramatkan warga setempat. Konon lokasi tersebut merupakan petilasan Abah Malik yang tiada lain salah satu murid Sunan Kalijaga yang ditugaskan menjaga keseimbangan di ujung Sumatra.

Beberapa hari lalu saya bersama ketiga kawan; Yuda, Windi dan May membuat rencana menyambangi kediaman pamannya Yuda yang berada di Pekon Taman Sari, Kecamatan Pugung, Tanggamus.

Kalau Yuda mungkin memang benar berniat merawat silaturahmi dengan keluarga pamannya. Sedangkan saya dan kedua kawan lainnya apa benar untuk tujuan yang sama?

Hmmm…Saya pribadi meragukan itu. Karena jujur saja, saya mengangguk saat diajak ke lokasi yang waktu tempuhnya tak kurang tiga jam dari rumah saya di Pringsewu, ya tak lain lantaran terhipnotis oleh iming-iming yang disodorkan Yuda.

Yupz, apalagi kalau bukan dijanjikan makan durian jatuh dari pohon sepuas-puasnya.

Apa nggak nekat tuh si Yuda kasih tawaran menggiurkan macam itu pada orang-orang seperti kami yang punya punya nafsu makan kelewat gede sama durian? lha wong durian pereman aja saya sikat tandas, apalagi bakal disuguhin durian matang di pohon.

Atau sesungguhnya dia tahu akan nafsu besar kami itu. Hanya saja boleh jadi dia berpikir nafsu kami akan sedikit ngerem bila ada paman dan anggota keluarganya yang lain. Hiks! Untuk kali ini saya pastikan dugaanmu meleset, kawan!

Tanpa banyak cakap dua motor pun langsung meluncur ke TKP. Matahari memang sudah meninggi. Tapi apalah arti panas-panasan sejenak kalau bakal diganjar durian matang di pohon. Lantak!

Usai melintasi ruas jalan yang beraspal mulus, lalu ke ruas jalan yang kurang mulus, hingga beralih menyusuri jalan yang belum di-hot mix, pengorbanan di siang bolong itu pun mengantarkan kami tiba di rumah Paman Makin, demikian nama pamannya Yuda biasa disapa.

Kesan pertama yang saya tangkap sungguh terasa hangat. Paman Makin dan keluarganya menyambut kedatangan kami dengan tulus, khas keramahan warga desa. Atau jangan-jangan mereka tidak menduga kalau keponakannya sedang menggiring gerombolan pelahap durian yang akan menyatroni kebun duriannya. Ah, saya masih sangat yakin dengan kemurnian warga di sini.

Sejenak kami berbasa-basi dengan tuan rumah, sambil mata dan hidung saya terus jelalatan seraya mengendus di mana arah kebun durian yang dijanjikan berada.

Sampai kemudian yang ditunggu-tunggu datang juga menampakkan batang hidungnya. Di tengah obrolan ringan mendadak Yuda muncul bersama keponakannya dari arah ruang dalam. Keduanya menjinjing buah durian yang menguarkan aroma memikat.

Tak berhenti sampai disitu Yuda dan keponakannya segera masuk lagi. Tapi tak lama. Sejenak kemudian mereka muncul kembali, lagi-lagi sambil menjinjing buah-buah durian kloter kedua.

“Ini durian simpanan. Durian jatuh dari pohon karena sudah masak. Kalau kurang masih ada banyak lagi di dalam, nanti bisa kalian ambil sendiri,” ujar Paman Makin saat mengamati bola mata kami yang berubah nanar melihat setumpuk durian istimewa tergolek pasrah di hadapan kami.

Oh iya, sebelumnya, kami sudah disuguhi makan siang dengan menu pembangkit selera; daun singkong kuah santan, ikan asin dan sambal. Nyamiii….kami anggap sajian itu sebagai hidangan pembuka, karena hidangan utamanya tak tergantikan, ya apalagi kalau bukan durian, cuy!

Benar saja, walau kami tidak ke kebun durian, tapi cita rasa durian yang saya kunyah tanpa jeda itu tidak bisa tipu-tipu. Ini memang durian masak di pohon. Ukuran buahnya memang tidak terlalu besar, tapi aroma dan rasanya nendang banget.

Dan sesuai prediksi saya, Yuda sampai geleng-geleng kepala melihat daya kunyah kami. Dia memang harus akui kalau intuisinya kali ini tak jitu menerka tabiat kami. Gila aja disuguhin durian lezat kayak gini masih pakai acara malu-malu. Yeah!

Sungguh, saat itu saya cuma bisa bilang sama diri sendiri, “Nikmat Tuhan mana lagi yang mau didustakan?!”

Tuntas melahap durian, kami pun leyeh-leyeh selonjoran kaki. Hadeh, puassss!

Tapi rasa ingin berlama-lama santai di bale-bale bambu sontak buyar, sewaktu Paman Makin menawarkan untuk melihat air terjun. Wuih….tawaran yang tidak kalah menarik, tuh. So, berangkatlah kami ke air terjun yang dijuluki Curug Cihandak itu.

Dari rumah Paman Makin menuju air terjun satu-satunya di pekon ini, memakan waktu tak kurang dari satu jam. Kami menyusuri jalan setapak yang membelah kebun-kebun kopi milik warga. Layaknya jalan setapak di pedesaan alurnya naik-turun dan di beberapa bagiannya licin karena lembab rerumputan.

Walau saya tidak mengenakan sepatu tracking, tapi untungnya kami sudah membawa tali webbing yang banyak berguna saat menuruni jalan setapak yang licin. Pada tali tersebut saya meniti jalan turunan curam.

Sesekali terdengar suara hewan-hewan khas kebun. Saya juga mulai mendengar suara napas saya yang menderu ngos-ngosan. Bisa kebayang kan, bagaimana rasa perut yang baru diisi nasi dan dicampur durian, lalu diajak berjalan jauh dengan medan yang tidak bisa dibilang ringan. Campur baur dan rentan hilang konsentrasi.

Tak pelak pada satu spot turunan pijakan kaki saya tergelincir dan pegangan pada tali webbing pun terlepas. Tak terhindarkan, bummm!… saya merosot di jalan setapak nan licin dengan durasi cukup lama.

Saya meringis tapi langsung bangkit lagi. Agaknya wajah saya yang sudah merah karena panas dari dalam akibat durian dan dari luar lantaran sengatan terik matahari, kini makin memerah durjana.

Untungnya segala pengorbanan itu segera berbalas. Setelah melewati rerimbunan pepohan tiba-tiba dari kejauhan terkuak pemandangan luar biasa. Curug Cihandak melepaskan pesonanya.

Air terjun yang letaknya tersembunyi ini saya taksir menjulang tegak setinggi 50 meter. Debit airnya cukup deras. Sampai-sampai limpahan airnya memercik tubuh saya yang berada cukup jauh dari air terjun. Benar-benar menyegarkan.

Menurut Paman Makin, kedalaman air di dasar limpahan air terjun ini sekitar dua sampai tiga meter. Warga mengetahui itu setelah menaksirnya lewat sebilah bambu yang dicelupkan hingga menyentuh dasar curug. Pada bagian yang tidak terlalu dalam, di sanalah warga biasanya mandi sambil menikmati kesejukan murni.

Menurut saya pribadi yang sudah sempat mengunjungi beberapa air terjun di sekitar Tanggamus dan Pringsewu, keindahan air terjun Curug Cihandak ini tidak kalah memesona dibanding air terjun Gunung Batu di Gisting, misalnya.

“Di sini ramai pas lebaran aja. Sebenarnya banyak juga yang mau ke mari selain lebaran, tapi jalanannya kan jelek. Jadi banyak yang nggak mau,” tutur Paman Makin.

Lelaki yang masih terhitung sebagai tokoh masyarakat setempat ini, sebenarnya menghendaki pihak pekon dapat mengelola potensi obyek wisata ini, apalagi sekarang sudah ada Dana Desa. Dia berharap aspirasi ini kelak bisa diakomodir aparat pekon.

Usai membincangkan nasib Curug Cihandak, saya sempat menyicipi usapan air sejuk di sini. Tentunya tanpa ketinggalan mengeluarkan gawai untuk berselfie ria. Ehem!

Lantas Paman Makin menawarkan untuk mengunjungi lokasi menarik lainnya yang letaknya tidak begitu jauh dari Curug Cihandak. “Mumpung sudah di sini,” ajaknya. Adrenalin rasa ingin tahu kami pun terusik, dan tawaran itu langsung kami sambar.

Lokasi menarik yang dikatakan Paman Makin berada sedikit ke bagian atas. Langkah kami pun di arahkan ke sana.

Tak berselang lama kami ditunjukkan pada sebuah area yang menurut saya memiliki aura tersendiri. Persisnya aura seperti apa, saya sendiri tidak bisa melukiskannya lewat kata-kata, selain menaruh rasa takzim pada lokasi itu.

Menurut Paman Malik, lokasi ini dikenal warga sebagai petilasan Abah Malik yang konon merupakan murid dari Sunan Kalijaga.

Masih menurut penuturannya, Abah Malik pernah bersemedi pada sebongkah batu yang berada persis di atas aliran air kecil atau belik. Karena hikayat itu pula, setiap menjelang Maulud Nabi, petilasan ini mendadak ramai disambangi oleh orang-orang dari luar daerah. Mereka datang untuk berdoa meminta karomah.

Bahkan menurut juru kunci petilasan, Ningsih, yang sempat kami temui mengatakan, selain tempat memanjatkan doa untuk kesembuhan penyakit lahir dan batin atau terkena guna-guna, tidak sedikit pula yang melafazkan doa agar dientengkan jodoh.

Apa, supaya dapat jodoh? Aha!

Upz…rasanya tak ada salahnya buat dicoba. Saya pun mengambil wudhu dari air belik dan masuk ke dalam ruang petilasan yang ditutupi kain putih mirip kain kafan. Pada ruang berukuran sekitar 2×3 meter itu, di bagian bawahnya teronggok batu besar yang sebagian batunya tergenang air. Di petilasan itulah saya panjatkan doa dengan harapan mendapat karomah dan dikabulkan Allah SWT.

Kelar melakoni pengalaman baru tersebut, kami segera turun menuju rumah Paman Makin. Tak rehat lama, kami harus bergegas pulang karena hari menjelang senja.

Meski doa enteng jodoh masih butuh proses untuk sampai dikabulkan, tapi saya tetap memperoleh rezeki nomplok lainnya. Masing-masing dari kami dibekali buah tangan durian dan buah manggis oleh si empunya rumah. Duh, jadi kepingin sering-sering balik ke sini lagi, deh.

(* Jurnalis di Pringsewu)

Komentar

Scroll Up