(SELOW.CO): Sebagian besar dari kita mungkin pernah mengalamai trauma. Entah sewaktu masih kecil atau bahkan baru-baru ini. Trauma lihat orang sakit, lihat anak-anak menyeberang jalan sambil ambil ancang-ancang kayak mau lomba lari 100 meter, makan seafood, memakai high heels dan sebagainya. 

MENURUT KAMUS Bahasa Indonesia, trauma adalah keadaan jiwa atau tingkah laku yang tidak normal sebagai akibat dari tekanan jiwa atau cedera jasmani. Biasanya trauma akan membekas lama dan butuh terapi untuk membuatnya normal kembali.

Apakah trauma hanya dialami oleh orang dewasa saja? Ternyata nggak. Trauma juga banyak dialami oleh anak-anak. Misal, trauma ketika mendapat perlakuan kasar atau bullying, saat main sepeda atau jatuh dari motor. Untuk yang terakhir, saya dan buah hati pernah mengalaminya.

Setahun yang lalu, kami berdua terjatuh dari motor tepat di depan gerbang sekolah. Saat itu bocah saya ini sempat loncat sebelum motor jatuh menimpa kaki kanan saya yang mengakibatkan sebagian tulang kaki pecah plus retak dan harus dipasang pen.

Sesaat setelah tragedi dia tetap di sekolah bersama guru dan teman-temannya, sementara saya langsung dilarikan ke rumah sakit. Saya tak sangka kejadian itu membekas lekat di benaknya hingga saat ini

Ceritanya beberapa hari lalu, anak lelaki kelas 3 SD itu, memberikan dua lembar surat pemberitahuan. Salah satu isinya adalah undangan keikutsertaan siswa dan wali siswa untuk terlibat dalam acara lomba pemanfaatan barang bekas.

Saya langsung membayangkan keseruannya. Bertemu dengan para orangtua, guru dan anak-anak yang pasti lucu menggemaskan. “Waah, kita harus datang, nih. Yuk, Dek, kita cari di google, enaknya bikin apaan, ya…?”

Tapi, ups, ternyata bahagia saya tak beriringan sempurna. My boy langsung menggelengkan kepala mantap. “Aku enggak mau ikut. Bunda nggak boleh datang,” ucapnya sambil mengernyitkan alis. Bahasa tubuhnya yang tadi biasa saja, berubah tegang dan gelisah.

Ini persis sama ketika hendak mengambil rapor. Dia sangat keberatan jika saya yang ke sekolah, dan bersikeras menunggu bapaknya pulang dari luar kota. “Asal jangan Bunda,” begitu ucapnya.

Waktu itu saya tanya kenapa, dia hanya menggelengkan kepala. Jujur, sedih sekali. Karena jauh sebelumnya, kalau ada acara di sekolah dia paling suka bila saya terlibat di dalamnya.

Menjelang tidur adalah salah satu waktu tepat untuk ngobrol ringan dan menancapkan kebaikan di memorinya. Saya bertanya ulang, “Kenapa Bunda nggak boleh ke sekolah?”

Dia memandang wajah saya, tiba-tiba matanya berair. “Di sekolah itu nggak aman untuk Bunda. Nanti Bunda kecelakaan terus operasi lagi. Walau naik gocar, nanti ke kelas aku kan ada tanjakan. Bunda bakal  susah jalannya,” jawabnya lantang.

Airmata dan marah seolah bercampur jadi satu. Marah? Ya, dia sepertinya merasa kesal dengan dirinya sendiri karena dulu tak menjaga bundanya sehingga saya harus ‘menderita’ (versi dia) dalam  waktu yang cukup lama. “Aku masih kecil, nggak bisa nuntun Bunda jalan. Apalagi naik turun tangga,” lanjutnya dengan suara mulai melemah.

Saya meleleh. Tapi berusaha tetap strong. “Bunda sudah bisa jalan jauh, kok. Kemarin-kemarin, Bunda bisa naik turun tangga sampai lantai tiga. Bunda juga sudah bisa duduk lama,” bela saya. Dia tetap bergeming.

Baiklah, saya mencoba menghargai keputusannya. Jelas dia mengalami trauma. Kalau menurut Nathanael Sumampauw, staf pengajar Fakultas Psikologi UI, si kecil saya ini menunjukkan gejala trauma berupa avoidance (menghindari segala sesuatu yang berkaitan dengan trauma yang dialami atau dengar) dan re-experiencing (mengulang-ulang kejadian yang sudah berlalu).

Kalau diingat-ingat anak saya itu menjadi tak suka setiap mendengar saya akan ke sekolah, bahkan untuk sekadar berencana rapat komite sekalipun. Sampai kapan ini akan terus berlangsung?

Entahlah. Yang pasti kami -saya dan suami- coba memberi pemahaman padanya bahwa apa yang kami alami adalah takdir dari Allah, sebentuk ujian supaya lebih waspada dan hati-hati. Kecelakaan itu bukan tanda Allah benci, justru Allah mengajarkan untuk selalu bersyukur, tangguh dan kuat menghadapi apa saja, baik kejadian yang menyenangkan, menyedihkan bahkan mengerikan.

Sebagai orangtua, kami juga harus terus fokus memberikan rasa aman, nyaman, pelukan dan kehangatan. Sesekali dia menangis, tak mengapa. Itu adalah salah satu proses yang baik untuk memahami emosinya sendiri.

Mengajak bicara dan mendengar segala bentuk ketakutan, kekhawatiran dan kegelisahannya juga merupakan cara ampuh agar anak tumbuh dengan percaya diri dan merasa terlindungi. Jangan pernah berbohong demi menutupi ketakutan anak. Tetap mengintervensi traumanya dengan cara yang baik dan terarah.

Melalui cara-cara ini, kami berharap traumanya akan berkurang bahkan hilang. Berdoa agar kelak dia menjadi lebih ridho, ikhlas sekaligus tangguh.

Jadi, gimana dengan urusan ke sekolah? Untuk sementara tugas negara yang super penting ini saya alihtugaskan ke Bapaknya (tapi itu pun kalau doi tak sedang ke luar kota). Pilihan lainnya minta izin ke ibu bapak guru tersayang untuk absen tidak bisa hadir.

Memang saya dan suami sudah mulai memahami makna tersirat dan tersurat dari semua kejadian. Tapi untuk saya pribadi, sepertinya memang butuh terapi khusus. Sampai detik ini, setiap liat emak-emak bawa motor, kok perasaan saya dagdigdugder.

Apalagi kalau ada yang nyalain sen kiri eh beloknya ke kanan. Hiks. Jangan, ya, Makkk… Bukan kita saja yang bakalan menderita, tapi juga seisi rumah dan jagat raya. Beneran!
(*Penulis Delapan Buku Cerita Anak)

Komentar

Scroll Up