(SELOW.CO): PNS itu sejatinya pelayan masyarakat. Pelayan, tahukan fungsinya? Tapi ada juga pelayan yang demen nilep sajian di atas meja makan majikannya.

Pagi itu, pertengahan Oktober 2018, saya merasa menjadi pria paling tampan sedunia. Dengan memakai setelan kemeja putih bersih, celana dasar hitam, plus sepatu pantofel, diri ini terlihat begitu perlente. Ditambah, rambut kelimis ala model iklan pomade, tangan lembap karena diusap losion aroma bengkuang, dan semprotan minyak wangi makin menyempurnakan penampilan saya hari itu. Pokoknya, rapi jali, deh!

Bukan untuk meminang istri (lagi), bukan pula hendak menyambangi bos besar. Hari itu saya mencoba mengadu nasib untuk menjadi abdi negara. Ya, ikut tes CPNS!

Bermodal haqul yakin, saya agak jemawa nilai tes nanti mampu melangkahi ambang batas. Apalagi, kemarin-kemarinnya, seabrek cara saya tempuh demi meraih ponten besar. Mulai dari memburu buku panduan, latihan simulasi tes, bermunajat siang-malam, meminta pencerahan dari rekan-rekan yang sudah lolos, hingga merekap contekan di telapak tangan. Hhe, yang terakhir bercanda, ya…

Dua jam berlalu. Waktu ujian pun kelar. Sekali klik, perincian hasil tes terpampang di monitor. Dan… Zonk! Tes kompetensi dasar saya kurang delapan poin! Agh, badan lunglai seketika! Tapi, itulah mungkin yang dinamakan jalan hidup. Saya memang belum ditakdirkan menjadi seorang abdi negara.

Yang jelas, satu ibrah yang saya dapatkan hari itu, menjadi seorang pegawai negeri sipil tidaklah semudah perkara kepala daerah menerima komisi dari kontraktor! Ups, yang terjaring OTT jangan baper, ya! Hehe…

Untuk bisa “sah” menjadi aparatur negara, memang perlu usaha ekstrakeras, cucuran darah, keringat, bahkan berbotol-botol balsem aroma terapi untuk merilekskan saraf kepala yang menegang karena kinerja otak yang habis-habisan digenjot. Untung saja benak kita bukan made in China, ya? Hehe… Masya Allah!

PNS Korup

Nah, ironisnya, meski dibekali kemampuan diri dari berbagai rangkaian tes tersebut, seiring berjalannya waktu, akhir-akhir ini integritas PNS tampaknya kian meluntur. Bukti konkretnya, kini banyak PNS yang bermetamorfosis. Mulut mereka menjadi moncong yang bersungut-sungut, giginya dan kumisnya makin panjang, di bokongnya tumbuh buntut, dan kakinya berubah jadi empat.

Sederhananya, mereka berubah jadi seekor tikus busuk yang tanpa ampun menggerogoti tubuh negara dari dalam. Mereka berwujud seorang garong, eh kurang keren, maksudnya berwujud seorang koruptor!

Di Lampung saja, berdasarkan data Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara-Reformasi Birokrasi, ada 97 PNS terlibat korupsi. Untungnya, hidung pemerintah tak kalah peka untuk mengendus. Pemerintah akhirnya mencium ulah culas hama bangsa tersebut. Surat Edaran Mendagri Nomor 180/6687/SJ pun dikeluarkan. Isinya, Kemendari akan memberhentikan secara tidak hormat PNS yang melakukan tindak pidana korupsi (Lampung Post).

Gayung bersambut. Tampaknya pemerintah daerah juga gerah akan ulah para bramacorah berdasi itu. Bandar Lampung, misalnya, sudah mencoret nama tiga pegawai tuman. Sementara itu, Pemkab Lamtim memproses SK pemberhentian 12 dari 14 PNS yang terbukti korupsi dan telah dijatuhi hukuman berdasar pada putusan inkrah. Di Lamsel, lima PNS korupsi juga bakal diberhentikan.

Coba saja regulasi ini diterapkan sejak awal, mungkin tidak ada pelaku korupsi dari PNS yang masih menerima gaji, yang ramai jadi buah bibir beberapa waktu lalu. Kalau itu terus berlangsung, sama saja negara menggaji koruptor dari uang rakyat.

Aneh kan, koruptor digaji, sementara di pojok-pojok desa sana banyak lansia renta yang makin tak kuasa menahan sakit lantaran tak mampu berobat karena terabaikan. Lalu, di perempatan lampu merah kota, berderet remaja yang sepertinya harus segera diselamatkan karena mereka merasa “bisa terbang” saat menghirup kaleng Aibon. Rasanya masih banyak lagi ketidakadilan yang tersaji miris di depan mata kita.

Mudah-mudahan, upaya pemerintah ini menjadi langkah awal untuk membenahi PR-PR besar yang melanda negara kita tercinta ini.

Walaupun, terkadang nada nyinyir sering merebak: “Sejauh mana kegalakan pemerintah daerah ini bertahan?” Sebab, hingga kini ternyata masih terdengar cicit si tikus yang belum terjaring untuk dipecat karena bersembunyi di balik “tembok”.

Kalau sudah memiliki keputusan hukum yang tetap, maunya sih segera dieksekusi. Nah, si tembok, eh maksudnya kepada para pemegang kekuasaan, harus punya nyali untuk menumpas habis penggarong uang rakyat tersebut.

Sebab, sejatinya, itu adalah uang kami. Kami tak sudi amanah yang dititipkan kepada negara dikeruk habis oleh oknum PNS korup yang bertanggung jawab. Kami titipkan aspirasi ini di pundakmu, wahai penguasa! Berantas habis hama bangsa itu!

(Jurnalis Lampung Post)

Komentar

Scroll Up