(SELOW.CO): Kepiawaiannya menggocek bola tak hanya membikin moncer namanya, melainkan juga turut meluruskan pandangan salah publik internasional terhadap Islam.

WAKTU BAKDA ASAR seolah menjadi alarm bagi anak-anak untuk berkumpul di lapangan ujung kampung. Bermodal bola plastik dan gawang imaginer yang dibatasi dengan dua buah sandal jepit, lapangan tanah berdebu itu seperti arena bermain yang membius.

Saking besar dosis biusnya, terkadang baru sadar ada luka yang menganga di ujung jempol saat kaki terbasuh air waktu mandi usai bermain. Atau, biusnya seperti setan yang membisikkan kami untuk melewatkan waktu mengaji menjelang magrib. Sebab, permainan kerap berlanjut hingga peluit panjang alami dibunyikan, yakni azan magrib.

Terlepas dari nilai keseruannya bermain dengan teman, sepak bola saat itu, sekitar awal tahun 2000-an, membuat saya sering meninggalkan hal yang lebih penting, seperti mengaji atau menimba air di rumah. Karena sering terlena dalam euforia bermain, tak jarang guru mengaji kami, Abah Mustar, harus menjemput kami di lapangan dengan membawa rotan sekitar setengah meter untuk memaksa kami beranjak ke musala.

Saat itu, sepak bola seperti bertolak belakang dengan kehidupan religi kami. Jika ingin bermain bola, mengaji tertinggal dan salat magrib pun telat. Jika ingin menjadi anak yang pintar mengaji, harus merelakan serunya bermain bola sepak dengan kawan-kawan. Dilematis!

Belasan tahun berlalu, saya tetap menggilai olahraga ini. Hanya saja, kini bukan lagi di lapangan tanah yang kadang membuat jempol cantengan, tetapi di tempat yang lebih layak di lapangan futsal, plus kebiasaan baru nonton bareng bersama teman-teman. Kabar baiknya, akhir-akhir ini, saya merasakan banyak hal yang membuat diri ini melihat celah bahwa ternyata dalam sepak bola ada nilai-nilai dakwah yang terkandung di balik kerasnya permainan.

Saya melihat itu setelah mengenal sepak bola muslim macam Zinedine Zidane, Mesut Ozil, Yaya Toure, Hakan Calhanoglu, dan yang terakhir duo Afrika yang baru saja membawa Liverpool juara Liga Champions Eropa: Sadio Mane dan Mohammed Salah. Nama terakhir menjadi idola baru saya, termasuk mungkin pembaca setia Selow.co dan jutaan umat muslim di seantero dunia.

Pemain berewok berambut kribo ini memang sukses mencuri perhatian dunia. Selain dilengkapi kemampuan mengolah sepak bola hingga menjadi mesin gol Liverpool dan Timnas Mesir, ternyata Salah juga punya kehidupan pribadi yang membuat orang lain merinding kagum.

Di atas rumput hijau, lihat saja usai Salah mengoyak jala lawan. Hal pertama yang ia lakukan ialah mengingat Allah dengan melakukan sujud syukur di tengah lapangan. Atau, melakukan gestur tauhid dengan mengacungkan jari ke atas. Gerak tubuh lainnya saat bermain juga mencerminkan akhlaknya. Betapa dia dengan mudah memaafkan Sergio Ramos yang membuatnya cedera parah hingga ke luar lapangan lebih awal pada laga mahapenting di final Liga Champions tahun lalu.

Saat mencetak gol ke gawang mantan klub yang membesarkan namanya, AS Roma dan Chelsea, striker kidal ini tak melakukan selebrasi berlebihan untuk menghormati pendukungnya yang dulu pernah mengelu-elukannya. Sepanjang bermain di atas lapangan, senyumnya pun tak pernah surut terkulum sebagai refleksi keramahannya kepada pemain lain.

Bagaimana dengan kehidupan di luar lapangan? Nah, ini saya bilang tadi hingga membuat saya bergidik terpesona. Saat perjalanan menuju tempat berlatih atau bertandang ke markas lawan, kerap atlet bernama lengkap Mohammed Salah Ghaly ini tertangkap kamera tengah membaca ayat-ayat Alquran. Betapa dia merupakan pribadi yang taat. Masya Allah!

Pengakuan datang dari pelatih Liverpoll, Juergen Klopp. Klop kerap mendapati Salah terlambat ke tempat latihan karena harus melaksanakan salat. Namun, dia memberi toleransi yang luar biasa kepada para pemain muslim di klubnya. Bahkan, Klopp tidak melarang mereka untuk berpuasa meski akan menjalani laga penting.

Saat menyunting sang istri, Maggi, Pemain Terbaik Afrika itu blak-blakan mengumumkan pernikahannya dan membuka pintu lebar-lebar bagi siapa saja untuk datang ke resepsi pernikahannya. Tentu ini sebagai bentuk pengakuan bahwa dirinya adalah milik bangsa Mesir. Anak hasil pernikahannya dengan Maggi pun mereka beri nama Makka, yang berarti Mekah, kota suci umat Islam. Islam begitu kuat meresapi relung kehidupan seorang Mohammed Salah.

Meski telah menorehkan prestasi moncer di dunia sepak bola, Salah yang besar di perkampungan Nagrig, di wilayah bagian barat Mesir, tak melupakan tanah kelahirannya. Dia sering mengulurkan tangan membantu orang-orang miskin, rumah sakit, sekolah, dan teman-temannya di masa kecil dulu.

Di balik semua polah Salah, ada begitu banyak nilai dakwah yang dapat dengan mudah diserap oleh anak-anak muda. Salah merupakan sosok inspiratif. Ini juga yang mengubah pandangan Islam di Inggris yang kini semakin membaik. Bukan tidak mungkin, ini mengikis Islamfobia yang menjangkiti masyarakat Eropa. Bahkan, oleh pendukung Liverpool, Salah dianggap sebagai pahlawan yang membuat mereka ingin mencari tahu lebih jauh tentang Salah.

Bagi anak muda, dakwah tidak selalu identik dengan syiar agama di atas podium atau melalui ceramah-ceramah. Mengembangkan kemampuan atau hobi kita untuk kepentingan Islam juga merupakan bagian dari dakwah. Apalagi jika dikemas dalam media sosial yang kini menjadi alamnya para generasi muda.

Seorang Mohammed Salah-lah yang mampu menciptakan respek luar biasa dari warga dunia. Setidaknya, ini menutupi sisi hitam sepak bola yang identik dengan kerusuhan, taruhan, dan kerusakan sarana publik. Fenomena ini membuktikan bahwa sepak bola bisa menjadi sarana untuk berdakwah.

Bagaimana dengan kita, sudahkan kita memanfaatkan hobi, karier, atau kebiasaan kita untuk kepentingan dakwah Islam atau memberikan inspirasi bagi orang lain untuk berbuat baik?
(*Jurnalis Lampung Post)

Komentar

Scroll Up