(Selow.co): Guru kelimpungan. Ternyata, murid mereka, para generasi milenial, mampu melesat jauh dalam hal teknologi.

Sementara itu, sebagian para guru, terlebih yang menyandang status senior, untuk menggunakan mouse saja perlu adaptasi lumayan keras. Mereka harus menahan napas, seperti layaknya pemburu yang ingin membidik burung di dahan pohon, untuk sekadar meng-klik item yang mau dipilih.

Ini ancaman bagi para guru, sang penyuluh bangsa! Peran guru sebagai sumber pembelajaran lambat laun tapi pasti mulai tergantikan oleh si Mbah Google. Murid bisa mendapatkan segala informasi yang disajikan Google jauh melebihi kapasitas otak seorang guru. Tentu, bagi murid, mengeruk informasi pelajaran di Google lebih “mereka banget” ketimbang duduk di kelas sambil mendengarkan sang guru berceramah.

Lalu, apakah guru harus menyisihkan si Mbah Google yang kini menjadi rival mereka merebut hati si murid? Jika sang guru kekeuh memilih itu, guru harus siap-siap babak belur dibabat zaman.

Ya, tentu opsi kedua yang dipilih: guru harus melek—kalau perlu melotot—teknologi! Guru harus menciptakan sebuah romantisme dengan Google untuk bekerja sama melahirkan sebuah metode pembelajaran yang mantul—mantap betul! Tak ada kata terlambat untuk belajar, itu kata pepatah, sekalipun memang dirasa begitu sulit.

Belajar dari Driver Online

Terkait ini, ada satu kisah. Suatu ketika saya naik taksi online menuju Bandara Radin Inten II, Branti, Lampung Selatan. Dari Rajabasa ke Branti, saya punya waktu cukup luang, sekitar 30 menit, untuk ngobrol santai dengan Pak Sopir.

“Sudah lama, Pak, jadi driver online?” tanya saya. “Baru sebulan ini, Mas!” jawab pria setengah baya itu sambil fokus mengemudi.

“Sebelumnya kerja di mana, Pak?” kata saya lebih lanjut. “Tadinya saya sopir travel, Mas,” ucapnya.

“Apa bedanya, Pak, nyopir online sama nyopir travel?” saya mulai kepo. “Sama, Mas. Sama-sama nje-jek gas juga! Hahaha,” selorohnya.

Pak Sopir melanjutkan awalnya dia enggan untuk menjadi driver online lantaran dia buta teknologi. Boro-boro mau menggunakan aplikasi Android, hape dia selama ini saja Nokia jadul yang cuma bisa dipakai buat teleponan dan SMS.

Tapi, di sisi lain, kisahnya, pendapatan di travel menurun drastis sejak ada taksi online. “Saya enggak bisa terus-terusan jadi sopir travel,” katanya.

“Akhirnya, saya nekat! Saya minta ajarin anak saya cara make Android. Alhamdulillah, pelan-pelan, saya mulai paham cara jalanin aplikasinya! Sekarang hampir enggak ada kendala sama sekali. Saya enggak nyangka ternyata saya bisa juga di taksi online,” kata Pak Sopir bersemangat.

Dari cerita ini, saya melihat ada satu alasan kuat dari sopir online itu untuk menggeluti teknologi, yakni alasan perut! Motivasi Pak Sopir untuk belajar sangat kuat karena menyangkut ngebul-tidaknya dapur dia esok hari.

Kembali ke topik guru gagap teknologi tadi. Apa mesti para guru juga dikondisikan “susah” atau dibuat lapar terlebih dulu agar mau serius menyelami teknologi?

Guru Kalap

Yang ada malah sebaliknya, fenomena sekarang, beberapa guru malah dininabobokan dengan dana sertifikasi yang membuat mereka melayang di atas angin. Ironis jika dana sertifikasi ini tidak dipakai untuk pengembangan diri mereka sebagai seorang guru.

Kecurigaan itu muncul manakala kini pelataran parkir di sekolah terasa sempit karena banyaknya guru yang berkantor dengan membawa mobil—pemandangan yang tak pernah terlihat saat program sertifikasi belum bergulir. Begitulah kata salah satu guru SMA negeri kepada saya, beberapa waktu lalu, yang juga gereget dengan polah oknum guru yang kalap saat mendapat uang seabrek.

Ini miris namanya. Alih-alih uang tersebut digunakan membeli perangkat pembelajaran atau untuk meng-upgrade diri, yang saya lihat banyak juga guru yang rumahnya kini mentereng semenjak dapat uang sertifikasi.

Ayolah, jangan sampai pemerintah dan masyarakat kecewa dengan program sertifikasi ini! Buktikan bahwa dengan sertifikasi, kualitas pendidikan bakal maju. Negara sudah memberi kewajibannya dengan menggelontorkan triliunan rupiah setiap tahunnya kepada guru, lalu bagaimana timbal baliknya, sudahkan kewajiban guru terhadap generasi bangsa terpenuhi?

Di saat kita membutuhkan jawaban, malah timbul anggapan kini guru sering bolos—maksud saya izin—mengajar karena sibuk mengurus proses sertifikasi. Mereka bahkan berani membayar guru honorer—dari secuil dana sertifikasi—untuk menggantikan jam mengajar mereka di kelas. Nanti, hasil mengajar guru honorer itu diklaim atas nama si guru culas tersebut untuk syarat sertifikasi. Menang banyak, tuh!

Jiwa Mendidik

Meski teknologi meruyak dan merasuk sendi-sendi pendidikan, termasuk pembelajaran, ada peran yang lekat pada sosok guru yang tidak mampu terkikis dengan teknologi, yaitu peran mendidik. Pola mengajar bisa saja kian tergerus teknologi, tetapi peran mendidik seorang guru tidak akan dapat tergantikan.

Artinya, selama guru memiliki jiwa mendidik, posisinya tak akan tergantikan oleh Mbah Google dan kawan-kawannya. Tinggal guru belajar cepat menyesuaikan diri mereka dengan perkembangan zaman.

Kita besar atas jasa seorang guru. Harapan besar kami sematkan kepada sosok guru untuk mencerdaskan generasi muda di tengah derasnya arus globalisasi ini. Tulisan ini didasari rasa sayang, sebagai alarm bagi guru untuk kembali kepada cita-cita mulia guru, yakni mendidik tunas bangsa.

Guru harus mampu menjawab berbagai nada miring yang terus menyerbu dengan peningkatan kualitas anak didik. Di satu sisi, guru juga kudu berlari kencang menggenjot kemampuannya memanfaatkan teknologi agar mampu masuk ke dunia murid. Sebab, guru harus “lebih” dari muridnya.

Wahai, guru, muridmu sudah bisa terbang. Apakah si katak, yang bahkan tidak bisa melompat karena di bawah tempurung, bisa mengimbangi burung yang meluncur mulus menerjang angin di udara? Buktikan, bahwa guru bukanlah katak di bawah tempurung yang puas dengan pengetahuan dan pandangan yang terbatas.

Mari tingkatkan diri untuk menghasilkan metode pembelajaran yang “milenial banget” agar siswa mampu mengarungi revolusi industri 4.0 yang serbadigital ini sesuai dengan karakter bangsa yang sudah dicita-citakan. Tabik!
(* Jurnalis Lampung Post)

Komentar

Scroll Up