Travel safely then! But my friend, I beg you,
When you have passed safely from this brutal wasteland
And reached blossoms, and the rain
Greet them for me.

(Selow.co): Puisi di atas berjudul Travel Safely! karya Mohamad Reza Shafi’i Kadkani, penyair Persia, yang ditransliterasi ke bahasa Inggris oleh Dick Davis. Saya memergokinya terpampang di satu sudut kota Leiden, Belanda, medio November 2015.

Menjelang akhir tahun kemarin, musin dingin memeluk sebagian benua Eropa, termasuk Belanda. Suhu di negeri kincir angin itu setiap harinya berkisar 10 derajat Celcius, bahkan sempat minus 5. Matahari jarang nian menampakkan parasnya. Nyaris setiap hari hanya mendung tebal menghias langit. Gerimis pun acap mengguyur bumi.

Jaket yang saya bawa dari tanah air ternyata tak cukup tebal untuk menangkis dingin. Saya yang terbiasa hidup di negeri tropis, acap menggigil, kewalahan beradaptasi dengan cuaca.

Di sela kegiatan meneliti manuskrip-manuskrip Lampung atas undangan Perpustakaan Universitas Leiden, ada satu hal yang sejak jauh hari hendak saya susuri di kota itu: Wall of Poems atawa mural puisi yang bertebaran di tembok-tembok kota Leiden. Terlebih lagi ada tiga mural puisi yang saya merasa wajib untuk menjenguknya.

Leiden terletak antara Den Haag dan Amsterdam. Di kar, Leiden terletak di selatan Belanda. Transportasi menuju Leiden sangat mudah. Dari bandara internasional Schiphol yang satu kompleks dengan stasiun Amsterdam Centraal, bisa langsung menuju Leiden via kereta api. Jarak tempuh sekitar tigapuluh menit saja. Harga tiket sekitar 10 Euro (150 ribu rupiah).

Tidak usah bingung jika hendak membeli tiket kereta. Jika tidak mau antri di loket, kita bisa membeli tiket di boks tiket yang banyak terdapat di dalam stasiun. Siapkan saja uang koin secukupnya. Caranya simpel. Tinggal pilih kota tujuan, tidak lama kemudian tiket dan mungkin koin kembalian akan keluar dari boks.

Suasana dalam gerbong kereta amat nyaman. Para penumpang tidak berisik. Mereka sibuk membaca buku, koran, atau sibuk dengan gadgetnya. Jarak tempuh dari Amsterdam Centraal ke Leiden Centraal makan waktu sekitar setengah jam saja.

Meski cukup singkat, kita bisa menikmati pemandangan di kiri kanan rel kereta api. Hamparan ladang yang luas dengan ternak-ternak seperti kuda dan domba, rumah-rumah penduduk yang nampak bersahaja, semak belukar, juga bangunan-bangunan berarsitektur kuno.

Sejumlah julukan ditabalkan untuk kota ini. Key to Discovery atau dipermudah menjadi The Key City, Little Amsterdam, dan Athena dari Barat. Julukan itu memiliki latar belakang sejarahnya masing-masing. Key to Discovery yang kemudian dipermudah menjadi ‘The Key City” adalah julukan paling familiar dan bisa kita temui simbolnya di banyak tempat.

Di Leiden Visitor Centre, persis di depan stasiun Leiden Centraal, tempat yang tepat bagi para pelancong untuk bertanya apa saja tentang Leiden. Stafnya ramah dan kita tidak menunggu lama untuk mendapat penjelasan. Jika kita amati tembok luar pusat informasi itu, kita akan menemukan kata “Leiden” dengan huruf E berupa gambar dua kunci dengan posisi berbeda.

Penggunaan sombol kunci ini berdasar konteks historis sekian abad lampau, juga ada kaitannya dengan unsur religi. Istilah kunci itu diambil dari sebuah penjelasan dalam alkitab. Terdapat lebih dari 2000 bangunan klasik berusia ratusan tahun dan mayoritas menghiasi pintu bangunan dengan ornamen kunci.

Selain historis, Leiden pun identik dengan pendidikan. Kota itu dijuluki Atena dari Barat karena di kota inilah orang-orang pintar Eropa zaman lampau menimba ilmu. Sebutlah nama Descartes, Scaliger, Boerhaave, dan lainnya. Mereka pernah menimba ilmu di Leiden. Universitas Leiden adalah kampus tertua di Belanda, didirikan tahun 1575 oleh Willem van Orange.

Banyak tokoh-tokoh nasional Hindia Belanda (Indonesia kini) yang pernah mengenyam pendidikan di Leiden. Ada Ahmad Subardjo, Hatta, Poerbatjaraka, dan lainnya. Bisa kita bayangkan, pada masa itu ketika transportasi dan komunikasi masih sulit, dari jarak puluhan ribu kilometer para bapak pendiri bangsa itu bertungkuslumus menggagas, memikirkan, dan mengupayakan kemerdekaan Indonesia.

***

Sering-seringlah mendongakkan kepala jika menyusuri trotoar dan lorong-lorong kota Leiden. Di antara tembok-tembok bangunan tua; barangkali saja kita mujur menemukan mural puisi. Kadang mural itu nyempil di lorong gang, tak jauh dari plang nama jalan. Namun tetap harus waspada saat mencari, jangan sampai menabrak orang atau sepeda yang seliweran.

Ada keriangan tersendiri saat menemukannya. Jika kita terbiasa melihat puisi di buku atau media massa, di Leiden kita bisa melihatnya di tembok-tembok, dalam ukuran besar hingga bisa terbaca. Leiden, kota tua yang eksotis, memberi tempat pada puisi untuk dinikmati di ruang terbuka.

Gagasan menghias tembok Leiden dengan mural puisi bermula dari sebuah yayasan nirlaba yang kemudian didukung sepenuhnya oleh pemerintah Leiden. Kegiatan itu dihelat sejak tahun 1990an hingga 2000an. Mural ditulis dalam berbagai bahasa dan aksara yang ada di dunia, didekorasi sedemikian rupa hingga menarik dipandang. Bagi aksara yang berbeda, disediakan transliterasinya. Tampilan visual puisi di tembok. Dengan font besar. Komposisi yang pas, menyatu dengan tembok.

Lebih dari 100 puisi terpampang di tembok Leiden. Nama-nama sastrawan tersohor dari berbagai negara bisa dipergoki di sini. Mural puisi yang sempat saya temukan adalah karya Shakespeare, Rainer Maria Rilke, Matsuo Basho, Jorge Luis Borges, Octavio Paz, Sappho, Pablo Neruda, Arthur Rimbaud, Charles Baudelaire, Horatius, Adonis, Goethe, Danila Stoianova, Federico Garcia Lorca, Vasalis, Langston Hughes, Wotkoce Okisce, P. Paaltjens, Kavafis, Leen Vroegindeweij, Jan Arends, Hans Lodeizen, William Butler Yeats, Ida Gerhardt, Quintus Horatius Flaccus, dan Derek Walcott. Mural itu seolah menabalkan Leiden sebagai kota multikultur bagi puisi.

Selain mural puisi, masih banyak tempat menarik yang bisa disambangi saat berkunjung ke Leiden. Kita bisa menyambangi tempat-tempat itu dengan jalan kaki saja karena jaraknya tidak berjauhan. Bicara museum, misalnya, kota ini termasuk “gudang”nya.

Ada 13 museum (4 di antaranya tergolong nasional) di kota ini. Museum Ethnology atau lebih familiar dikenal dengan Museum Volkenkunde, letaknya tidak jauh dari stasiun Leiden Centraal. Di museum ini banyak disimpan benda-benda etnografi dari Indonesia. Selain itu banyak koleksi dari Afrika, Amerika, Cina. Museum Volkenkunde kini satu manajemen dengan Tropen Museum.

Ada Rijksmuseum van Oudheden, yang mengoleksi barang-barang etnografi dari Mesir, Yunani, dan era Romawi. Bagi pencinta dan peneliti botani, wajib berkunjung ke Hortus Botanicus Garden atau yang lebih dikenal sebagai Museum Botani. Aneka jenis tumbuhan dari berbagai negara, termasuk Indonesia, ada di sini.

Belanda dikenal sebagai negeri tulip, namun belum banyak yang tahu bahwasannya tulip yang ada di Belanda berasal dari Turki. Ahli botani bernama Theodorus Clusius membawanya dari sana dan tahun 1593 tulip pertama ditanam dan dikembangbiakkan di tanah Belanda, tepatnya di museum ini. Tahun 2015, Museum Botani merayakan ulang tahunnya yang ke 425.

Selain tulip, Belanda identik dengan kincir angin. Di Leiden, ada Molen de Valk atau The Falcon Mill, yang terletak di pusat kota. Kincir angin ini dibangun tahun 1743 dan kini dijadikan objek wisata. Di ruas jalan Breestraat ada gedung pemerintahan dan pusat pertokoan. Stadhuis atau City Hall, dengan tangga di kiri kanan pintu masuk.

Selain itu ada rumah kelahiran Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang pertama kali mengenalkan istilah hukum adat dan dianggap musang berbulu domba karena berhasil menghancurkan Islam dari dalam di Aceh.

Ada juga rumah kelahiran pelukis terkenal Rembrandt di Weddeteeg. Tempat pertunjukan teater tertua di Belanda pun ada di Leiden (Leiden Schouwburg). Konon kabarnya, leluhur Obama pun dahulu tinggal di Leiden.

***

Leiden, kota budaya ketiga di Belanda, suasananya tenang, tidak riuh dan anti macet. Cara paling simpel untuk mengeksplor tempat-tempat menarik di kota ini adalah dengan jalan kaki atau bersepeda. Menyusuri ruas-ruas jalannya, kita akan menyadari betapa sebuah kota tua tetap bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Bangunan-bangunan masih mempertahankan arsitektur kuno ratusan tahun silam.

Dalam katalog press information 2015 tertera ada 88 jembatan dan lebih dari 28 kilometer kanal. Di kanal-kanal, ada sejumlah rumah perahu. Pemerintah Leiden dan kota-kota lain di Belanda, memberikan ruang untuk warganya yang memilih tinggal dalam perahu di tepi kanal. Jika berminat, kita bisa menyewa perahu untuk menyusuri kanal-kanal itu kemudian menikmati pemandangan Leiden dari sudut pandang berbeda. Tentu biayanya tidak murah.

Setiap kota di Belanda memiliki hari yang berbeda-beda kala menggelar pasar rakyat, seperti pasar kalangan atau pasar tumpah di Indonesia. Di Leiden pasar rakyat itu hanya hari Rabu dan Sabtu. Digelar dari pagi sampai pukul 5 petang di pusat kota (Botermarkt, Vismarkt, Aalmarkt, dan sungai Rheine).

Suasana paling ramai di hari sabtu, penduduk Leiden bagai tumpah ruah di pasar rakyat. Mereka membeli sayur-mayur, buah-buahan, bunga, tekstil, ikan dan makanan laut siap santap seperti udang goreng bumbu saus bawang. Ada juga penjual peralatan rumah tangga dan penjual pakaian.

Para pedagang itu datang dari berbagai tempat, termasuk dari luar kota. Mereka membawa mobil kendaraan yang sudah dimodifikasi untuk berniaga. Kita bisa menikmati nuansa belanja yang berbeda di pasar rakyat ini. Banyak rumah makan dengan menu ala Indonesia di Leiden. Jika ragu dan ingin memastikan, kita bisa menjenguk website KBRI Belanda. Di sana tercantum beberapa rumah makan di Leiden.

Leiden sejak lama dikenal sebagai kota pendidikan. Puluhan ribu pelajar dan mahasiswa dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia. Di perpustakaan Leiden, tersimpan koleksi buku dan manuskrip dari seantero dunia. Koleksi Nusantara termasuk yang paling banyak, bahkan bisa jadi saja tidak ada lagi salinan naskahnya di Indonesia.

***

Pole naq pelele winruq
Tenreq kutuju mata
Padanna sulisa

Tiga baris tersebut adalah bahasa Bugis. Terjemahannya sebagai berikut: I have wandered everywhere/But never have my eye lit on/Greater wisdom than here. Nukilan La Galigo dengan font besar ini paling mudah ditemukan.

Ia terpampang di tembok kantor KITLV Leiden yang bersebelahan dengan kanal. Bisa dilihat jelas dari trotoar depan Universitas Leiden. Meski pendek dan  tertulis dalam aksara Bugis, sebagai orang Indonesia saya sangat bangga melihatnya. La Galigo adalah epik terpanjang, lebih dari epik Ramayana dan Mahabharata; bahkan versi teaternya sudah pernah dipentaskan di level internasional.

Tiga karya sastra dari Indonesia mendapat tempat di kota Leiden. Selain La Galigo dari Bugis, ada dua karya dari Indonesia lagi. Lumayan jauh lokasinya, saya tempuh dengan jalan kaki entah berapa kilometer. Mujurlah cuaca cukup bersahabat hari itu. Nukilan Serat Kalatidha-nya Ronggowarsito beraksara Sansekerta terpajang di Haverstraat, seruas jalan yang sepi.

Siapa yang tidak tahu kalimat terkenal ini: “Aku mau hidup seribu tahun lagi”? Ya, puisi berjudul Aku karya Chairil Anwar. Penyairnya memang mati muda, namun karyanya abadi hingga kini, bahkan terpajang di Leiden.

Mural puisi Chairil terletak di Kernstraat, di tembok rumah penduduk. Untuk sampai ke lokasi ini, lumayan jauh ditempuh jalan kaki. Mural puisi ini menyempil di antara bangunan rumah penduduk, di seberang sebuah kampus. Sedikit trenyuh melihat alur-alur jejak lumut turut menghiasi puisi Chairil di tembok itu.

Ribuan mil dari tanah air, dalam gigil musim dingin dan kesiur angin, ada haru dan bangga menghangati dada saya saat menatap 3 karya sastra Indonesia terpampang di Leiden. Tidak sia-sia jalan kaki berkilometer, sebab saya temukan yang saya cari. Mereka, tiga mural puisi itu, setia menunggu siapa saja putra-putri Indonesia yang berkenan menyambanginya. (*Pemerhati aksara Lampung sedang study di Belanda)

Komentar

Scroll Up